
Mereka berdiri langsung siaga, mata mengedar sepertinya mencari rekan nya yang lain, padahal rekan nya ada di bawah tapi kenapa orang asing bisa masuk.
"Apa? Kau sedang mencari kawan mu? Tuh mereka sedang bermadu kasih. Owhhh menjijikan!" Tepis Shabila dengan gaya nya yang seakan tengah menepis bau dari hidung nya.
Shane dan Sean malah fokus pada Daniza yang duduk di lantai diikat di tiang dengan mulut di sumpal. Wajah nya banyak lebam dan darah mengering di sudut bibir.
Rambut yang diikat pun sudah acak-acakan. "Tangan mana yang berani menyentuh gadis kesayangan adik kami?" Suara Shane menekan, menatap Daniza namun ucapan nya mengarah pada pelaku utama.
Pelaku itu menoleh, saat hendak menjawab, rekan nya datang dengan berlari begitupun dengan pria yang tadi Shabila buat pingsan.
"Hahahaha siapa kalian berani masuk dengan cara seperti ini?"
"Uh apa? Kau bertanya tangan mana yang kami gunakan? Kalau semua nya apa yang akan kau lakukan? Jangan sok berani jadi orang!"
Pria itu malah semakin berani kala rekan yang lain nya datang dan kini seakan terlihat menantang.
"Owh begitu ya?"
Seperti biasa, Sean tidak banyak bicara dan pasti Shane san Shabila yang nyerocos dan mengundang musuh naik pitam hanya dengan perkataan yang ke luar dari mulut mereka.
"Iyuuhhh tadi itu kalian kan? Bermadu kasih di sembarang tempat bukan kah layak di sandingkan dengan hewan?"
Shabila menolak pinggang menutup mulut nya seperti terlihat tengah mengejek. Dua orang yang merasa pun naik pitam seketika dan langsung menerjang tubuh Shabila begitu saja.
"Jaga mulut kotor mu itu!" Shabila tersungkur sehingga tersandar di tubuh Shane.
"Memang benar bukan?" Tukas Shane mengedipkan satu matanya pada wanita itu dan alhasil Shabila ingin sekali terbahak karena wanita itu makah tersipu.
"Sudah bermain nya? Aku akan bawa gadis ini ke luar dan kalian bereskan mereka!"
Entah sejak kapan Sean membuka tali di lengan juga kaki Daniza dan kini sudah di rangkulan nya.
"Sialan, tangkap mereka!!"
Baru sadar, mereka kini berusaha untuk membawa Daniza kembali.
"Owh tuan-tuan, kami di anggap apa?" Seru Shane yang langsung menyeret leher musuh dengan satu tangan nya.
Brughhhh
Dinding itu sampai hancur.
"Argghhh sialan!" Ringis pria itu, darah pun tersembur karena benturan kuat punggung nya yang lurus dengan dada.
'ukhuu'
'ukhuu'
Badan nya lemas, Shane pun menyerang rekan pria itu dengan gerakan yang tajam. Shabila pun tidak ingin kalah dengan kembaran nya. Perkelahian apik yang si kembar mainkan masih sama seperti dulu bahakan bisa di bedakan mana yang menguasai beladiri mana yang hanya sembarang memukul saja.
Brughh
Kreakk
Sean pun menyerang dengan satu tangan nya di lantai bawah. Pria bertubuh kekar itu nampak beda dari yang lain, tapi sepertinya ada yang salah dengan kondisi nya.
"Serahkan gadis itu!" Pinta pria itu dengan segala serangan nya tapi Sean tidak mudah untuk tumbang.
"Gadis ini? Langkahi dulu mayat saya jika menginginkan gadus ini!"
Pria itu pun mendengus. "Keparat!!!"
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
__ADS_1
Pria itu terus menyerang dan Sean dengan mudah menangkis nya sampai di mana pria itu lengah.
Brughh
Brakk
Sean menendang dada nya sampai terpelanting menubruk bagian pinggir tangga yang terbuat dari kayu jati.
'Ukhuu'
'Ukhuu'
Pria itu terbatuk. "Saya sebenarnya bisa saja melenyapkan nyawa mu dalam hitungan detik. Kau mau mencoba nya?!" Sean pun mengubah cara merangkul Daniza yang masih belum sadar dan kini dia gendong seperti tengah menimang bayi.
"Yaaakk" Teriak pria itu menyerang saat Sean sudah berada di ambang pintu tapi.
Brughhh
'Arghh_
Secepat kilat, pria itu tersungkur kembali dengan dada di tendang begitu keras nya oleh kaki Sean yang sudah berbalik menghadap ke arah nya.
"Ingat wajah gadis ini. Jika kau sekali lagi berani menyentuh nya maka tidak akan bagian dari tubuh kalian yang utuh!"
Peringatan dari Sean bukanlah hal yang main-main, jika dia sudah berucap maka tidak akan pernah berubah.
Sedangkan di lantai atas. Shabila dan Shane masih saja bermain-main dengan mereka.
Kegirangan seperti mendapat mainan baru begitu membuat semangat mereka membara.
"Yaaaakk"
"Owh tch tch tch"
Shabila dan Shane menghindar saat serangan mereka melayang mendadak.
"Sudah ah cape" Keluh Shane namun dengan cengir kuda pada Shabila.
Beugh
Tangan lincah mereka menyerang dan sekali tepis langsung terjungkal.
Brugghhh
Kreaak
tulang punggung, tulang pinggang retak, suara nya silih bersahutan. Risingan terdengar begitu memilukan, kesadaran salah satu dari mereka lenyap saat Shabila dan Shane pergi melenggang ke luar.
"Kurang seru"
Sembari menepuk baju, Shane malah mengeluh. Shabila pun demikian. "Kurang bergairah bukan, little boy?" Shabila mengaitkan kedua tangan nya pada leher Shane dari belakang saat hendak turun tangga.
"Isah berat Shabila" Shane pun membalikkan badan nya saat satu tangga sudah dia injak. Menjauhkan tubuh kakak kembar nya itu dengan telunjuk menekan kening.
"Hehehe iya iya becanda"
di bawah, Sean sudah membaringkan Daniza dengan jaket sudah menyelimuti badan gadis itu.
Para Intel sudah berkumpul dan menghampiri.
"Bersihkan mereka jangan sampai saya melihat wajah orang-orang itu!"
Perintah dari Sean pun di patuhi, mereka bergegas masuk dan berpapasan dengan keluarnya Shabila dan juga Shane.
"Dia di mana?" Tanya Shane. Sean menunjuk ke dalam.
"Sha kau duduk di belakang" Shane lebih dulu membuka pintu mobil depan. Sean hanya menggeleng kepala dengan kelakuan adik nya.
"Dih dasar" Umpat Shabila.
__ADS_1
Kenyataan nya walaupun Shane jauh dari Regina tapi dia sangat menjaga, berusaha untuk tidak tersentuh oleh siapapun terutama wanita, baik muda ataupun tua. Shane merasa Regina menghantuinya.
"Sean, tadi wanita itu menyentuh tangan Shane. Apa aku harus mengatakan nya pada Regina?"
Shabila mulai mengerjai adik kembar nya itu. Sean melirik dengan sudut mata nya dan Shane menatap nya begitu tajam.
"Sepertinya harus!"
"Yaak Sean, ku bunuh kau!!" Teriak Shane mengulurkan kedua tangan nya hendak mencekik Sean.
"Panggil kakak—" Kedua alis Sean terangkat, dia pun senang mengerjai adik bungsu nya itu sesekali.
"Hahaha siap-siap, mana ya kontak Regina?" Shabila mengeluarkan handphone nya namun seketika dan secepat kilat Shane merebut nya.
"Kalian benar-benar mau aku mati?" Dengus Shane. Sean melajukan mobil saat Shane terus mengoceh. Shabila pun hanya bisa tertawa di tengah keadaan yang seharus nya tengah mencekam itu.
Tapi jika tidak seperti itu, maka bukan si kembar nama nya. Harus ada aja perkelahian kecil di dalam kebersamaan mereka.
"Sudah tersambung kah?" Mulut Sean benar-benar minta di tampol. Dari kaca spion melirik Shabila dan Shabila pun mengerti.
"Belum" Shabila berpura-pura menempelkan telpon nya di telinga dan sedikit menjauh karena pasti Shane merebut nya lagi.
"Yak Sean kau mau membunuh adik tersayang mu ini?"
Shane masih saja memberengut membuat Shabila ingin sekali tertawa keras. Bahkan raut wajah Sean pun mulai berseri menangkap raut wajah Shane yang membuat nya terus merasa gemas walau sudah memiliki anak.
"Engga ah aku marah"
Sangat menggelikan, Shane benar-benar merajuk tapi sosok berani nya itu malah ciut di hadapan sang istri-Regina.
"Hahahaha kau lucu sekali!!" Shabila benar-benar tidak kuat menahan tawa nya sampai kini terlepas puas mentertawakan adik bungsu nya itu.
"Berisik ah!" Rengut nya lagi, semakin menyender di sudut pintu dan kening di tempelkan di kaca jendela.
Jika saja semua orang tahu ketua tertinggi dari Mafia besar dan di segani itu kini tengah memberengut di hadapan kedua kakak nya. Bukan lagi tertawa terbahak biasa tapi yang melihat akan jungkir balik saking tidak menyangka nya.
Sean melirik, mencolek pinggang Shane seperti pada seorang gadis. "Kau marah?" Suara Sean begitu rendah dan lembut walau pada kenyataan nya dia pun ingin sekali tertawa.
"Engga" Sangkal nya namun tidak menoleh.
"Oh ayolah sayang, kalau kau tidak menoleh maka kau akan benar-benar mati!" Seru Shabila masih dengan nada suara tertawa nya.
"Husshh" Tepis Sean pada Shabila mengkode agar tidak lagi mengerjai Shane.
"Hehehe" Seperti biasa, Shabila nyengir memperlihatkan gigi putih nya.
Perjalanan masih belum sampai, di dalam kabin mobil tidak lagi ada suara. Namun tak lama, ringisan kecil terdengar dan
'Ukhuu'
'Ukhuu'
Daniza terbatuk, kelopak mata nya perlahan terbuka. Kepalanya seperti terasa berdenyut hebat sampai dia meringis kesakitan.
"Sean berhenti" Pinta Shabila seraya membantu Daniza duduk.
Sean pun menginjak pedal rem dan Shane yang masih memberengut pun kini merubah posisi duduk nya agar Daniza bisa terlihat.
"Aku di mana?" Suara Daniza tergagap, sudut alis nya terluka untuk itu sedikit bengkak. Penglihatan nya tidak jelas, sedikit kabur, untuk itu sesekali dia memejamkan mata nya.
"Kau sudah aman, Niza!" Seru Shabila merapihkan rambut Daniza dengan lembut.
"Ini. Kasih minum" Ucap Shane seraya menyerahkan satu botol air putih.
"Ayo kakak bantu—" Ucap Shabila sembari mengangkat botol minum. "Lagi?" Tanya Shabila sesekali membenarkan helaian rambut panjang milik Daniza yang menghalangi pipi dan mulut.
"Kita bawa ke rumah singgah paman Lexi dulu saja! Jika ke istana dia mungkin tidak akan aman. Lagi pula keadaan di sana masih belum stabil!" Tutur Shane. Shabila mengangguk.
"Dokter sudah menunggu di sana untuk pemeriksaan lebih lanjut." Ucap Sean sesaat setelah menyambungkan earphone nya pada tim medis. Si kembar pun menuju ke sana dengan berhati-hati.
__ADS_1
...**...