
Di sudut gang kumuh, namun tidak terlalu menjijikan dan bau pun tidak terlalu menyengat. Iswara berjongkok menyembunyikan wajah nya dengan kedua tangan menepel di atas lutut.
Segukan dari hidung begitu dalam, Iswara menangis namun tidak berisik, bahkan hewan berkuping kecil pun kemungkinan tidak akan mendengar nya.
"Heuksshh... Heukss"
Jemari lentik nya pun menyeka air mata sedikit kasar. Wajah nya merah begitupun dengan kedua bola mata, di tambah nafas yang hangat dan berat.
"Niza, aku merindukan mu. Hiks... Hiks...Hiks" Bibir bergetar, jari jemari tangan pun sedikit bergetar. Perkataan itu begitu berat dan hampir kembali tertelan.
Lama Iswara berjongkok, sudut mata nya menangkap bayangan seseorang tengah berdiri lurus tepat di depan nya.
"Nona" Panggilnya.
Iswara perlahan menengadah, bayangan seorang wanita ternyata benar tengah berdiri menatap lurus dirinya yang masih berjongkok.
"Anda siapa?" Kaget Iswara segera beranjak berdiri.
Tidak akan ada orang yang bertanya dengan biasa saja kala seseorang di hadapan nya tidak mereka kenali, begitupun dengan Iswara sekarang. Dia nampak kaget dan takut, namun mencoba memperlihat keberanian nya.
Senyum Ruby tidak pudar. Ya, dia adalah Ruby yang tengah berdiri di depan Iswara saat ini.
"Saya bukan siapa-siapa, nona! Hanya saja kebetulan saya lewat sini dan melihat keberadaan anda!" Tutur Ruby lembut. Iswara masih berhati-hati dengan sedikit demi sedikit memperharikan gerak gerik Ruby.
"Permisi"
Iswara pergi dengan tergesa-gesa dan Ruby tidak menahan nya. Untuk sekarang, Ruby hanya memastikan benar kah dia gadis yang di cari.
"Honey" Ucap Ruby dan Edward pun ke luar dari persembunyian nya.
"Baby, dia kah?" Tanya Edward karena sepertinya Iswara pun mengenakan lensa mata agar tidak terlalu mencolok.
Berita pun tersebar, keberadaan Iswara sudah di ketahui untuk itu tugas beberapa divisi pun selesai, termasuk tiga petinggi mafia.
__ADS_1
"Amankan tempat, perhatikan dengan benar! Mommy pasti akan kembali berkunjung ke tempat tinggal gadis itu!"
Shane lega, sembari memeperhatikan layar besar dengan earphone masih menempel di telinga.
"Baik" Seru seseorang di seberang sana.
Eiji dan Julian bukan tidak dapat menangani gadis itu, namun mereka hanya di perintahkan untuk menemukan gadis itu dan segera melapor, begitupun semua mafioso yang di sebar luaskan.
Informasi dari satu orang, namun detik itu juga semua organisasi mafia akan tahu.
"Mom" Panggil Shane. Ezra yang tengah berada di pangkuan Ruby pun sedikit terganggu.
"Sudah pulang lagi? Tumben!" Pungkas Regina, dia nampak sudah mengenakan piyama dan turun dari tangga.
Ruby dan Edward masih berada di ruang keluarga, berbincang dan menikmati hiburan televisi setelah masa pensiun nya dari organisasi.
"Ah, aku merindukan mu. Nana!" Gemulai. Shane malah berbicara manja pada Regina dan memeluk nya erat. Tidak mengenal batasan di hadapan mommy dan Daddy nya, karena dia pikir apa yang dilakukan tidak masalah.
"Baby, aku juga mau seperti itu!" Edward malah terbawa suasa nya, dia iri melihat putra nya manja pada Regina.
"Astaga Dad. Tidak kenyang, apa? Padahal setiap hari mommy kelon. Loh!" Sindir Shane. Regina hanya ikut tertawa.
"Mom, biar Ezra sama Nana saja!" Regina pun mencoba mengambil alih Ezra.
"No! Malam ini giliran dia tidur sama mommy!" Tolak Ruby.
"Yah gagal!" Gumam Edward sedikit menghempaskan punggung nya di tepi sofa.
"Hahaha kasihan!" Tawa Shane. Regina merasa bersalah tapi juga ingin tertawa geli dengan tingkah ayah mertuanya yang perasaan tidak pernah berubah.
Malam semakin larut dan keluarga mafia itu memakai waktu malam untuk istirahat, sangat menjaga kesehatan sedari dulu.
...**...
__ADS_1
Upacara Perayaan Militer di Pelabuhan pun tiba, Daniza menyiapkan pakaian serta keperluan Asnee yang lain.
"Apa lagi yang kurang?" Gumam Daniza, dia pun duduk di samping kasur King size milik Asnee sambil mengibaskan seutas kertas tebal pada leher nya.
Pintu kamar terbuka, nampak Asnee dan Karl masuk dengan perbincangan yang sepertinya belum usai. Daniza seketika kembali berdiri dan membenarkan gorden yang belum diikat.
"Kau siapkan yang lain saja. Saya akan siap-siap dahulu dan katakan pada mereka jika ingin duluan juga tidak apa!" Tutur Asnee.
"Baik, Pangeran!" Sahut Karl kembali pergi.
Asnee pun menuju kamar mandi, mengabaikan Daniza yang tengah bekerja. Wajah nya pun nampak serius, Daniza yang biasanya mendapat semprotan di pagi hari pun tidak untuk saat ini.
"Apa dia sakit?" Gumam Daniza. Tingkah dirinya saat ini sudah sedikit berubah, dari dingin tak tersentuh kini malah banyak marah nya, apalagi saat di hadapkan dengan Asnee yang mungkin lebih dingin dari dirinya.
"Mana baju saya?"
Daniza yang tengah berada di tempat ganti pakain segera ke luar. "Sudah saya siapkan di dalam, Pangeran!" Ucap Daniza, dia pun ke luar dari tempat baju itu.
"Pangeran" Panggil ibu Suri tanpa mengetuk pintu, diikuti beberapa orang dari tukang rias.
Asnee dan Daniza pun ke luar bersamaan. Asnee yang masih memakai handuk seketika membuat orang-orang yang baru masuk membalikkan badan mereka termasuk Ibu Suri.
Daniza mengerti dan segera mendorong Asnee masuk.
"Pakai ini dulu. Saya akan membantumu memakai baju itu!" Ucap Daniza pelan memberikam kimono yang biasa Asnee pakai. Jantung nya pun sedari tadi berdetak kencang apalagi dada telanjang Asnee masih bercucuran air.
Asnee polos, dia tidak mengerti dengan tingkah mereka.
"Kamu" Ucap Ibu Suri. Daniza segera menghadap.
"Saya, ibu suri!" Sahut Daniza.
Ibu Suri menilik Daniza dari atas sampai bawah. "Bantu mereka merias Pangeran!" Ucap Ibu Suri lalu kembali pergi. Tatapan nya itu seakan memprovokasi diri.
__ADS_1
"Baik" Bungkuk Daniz, begitupun tiga perias lain nya ikut memberi hormat.
"Silahkan, di sini!" Daniza memandu mereka dengan baik.