The Future King

The Future King
Eps 88


__ADS_3

"Mom, jadi benar kalung ini ada hubungan nya dengan dia?" Ucap Asnee menunjuk kalung milik nya dan juga Daniza yang ikut menatap.


"Benar, kalung itu tidak sembarang orang memilikinya dan hanya anggota kerajaan saja yang memilikinya! Raja Keira mengukir lambang itu bersama mommy dan juga Dev, lebih tepatnya kami sangat dekat dengan Pangeran Endra"


"Seiring berjalan nya waktu, Raja Keira pun dekat dengan kami dan memiliki hubungan bisnis perkebunan dan juga penukaran tenaga kerja untuk saling memahami divisi masing-masing"


"Itu sudah lama terjalin tapi kami tidak lagi bertemu karena kesibukan masing-masing dan hanya akan di wakili oleh para ketua"


"Tidak dapat mommy jelaskan lebih lanjut karena itu privasi kami! Jadi saat kau membawa serta kalung itu saat hari natal, membuat mommy kaget... "


Tutur Ruby.


"Sebentar—" Pungkas Nara "Lalu kenapa sekarang dia bisa bersama dengan Rayya?!"


Semua orang mulai tersadar, mereka baru sadar jika Daniza datang bersama dengan Rayya dari Thailand.


"Lexi hubungi Andrew dan juga David, cari gadis satunya lagi di Irlandia, jangan sampai tertinggal sekecil informasi pun!" Ruby langsung bergerak, semua nya langsung sibuk.


"Boy bawa kedua adik mu ke Irlandia, bantu cari gadis itu! Harus ketemu, mommy yakin dia masih ada di sana!"


Perintah Ruby langsung di setujui, mereka yang telah mendapat bagian nya langsung pergi begitu saja tanpa menolak sedikit pun. Kini tinggal Ruby, Edward, Nara, Leyka di sana. Asnee serta Rayya pun masih duduk dengan penasaran.


"Apa yang akan kalian lakukan pada adik saya?" Tanya Daniza, dia berdiri dengan tegap. Tatapan dingin nya mulai mengisi setiap sudut bola mata.


Daniza bukan orang bodoh, dia mengerti sekarang. Dia mengerti tengah berhadapan dengan siapa? Dia yakin mereka bukan orang sembarangan.


"Sekarang kamu mengakui jika kamu adalah Daniza Evelyn?" Timpal Nara dengan melebarkan kelopak mata nya.


"Saya tidak peduli apa yang akan kalian lakukan pada saya! Tapi secuil saja menyentuh kulit adik saya, tidak akan saya biarkan kalian hidup dengan tenang!" Amarah, takut, dan rasa sayang tercampur aduk.


Daniza menyuruh Iswara pergi agar dia tidak menderita, tapi apa ini? Rencana nya akan gagal jika orang-orang di sekitar nya ikut campur.


"Biarkan dia bebas! Sebagai imbalan nya akan saya tanggung sendiri!" Daniza begitu kekeh, dia keras terhadap prinsipnya.


Secarik negosiasi tengah Daniza lakukan, namun sepertinya orang-orang di depan nya itu tidak tertarik.


prok


prok


prok


"Nona, anda ini terlalu sarkastik! Tapi kami suka" Seru Nara menggapai pandangan Daniza yang masih berdiri.

__ADS_1


"Ma!" Pungkas Rayya. Memegang tangan Nara dengan lembut. "Kau menakuti nya" Ucap Rayya kembali.


"Mommy juga suka" Timpal Ruby dengan sunggingan di bibir nya. "Memang nya kau tidak suka, Rayya?!" Lanjut Ruby.


"Suka!" Cengir Rayya.


Mereka tahu, Daniza tengah ketakutan jadi mereka pikir tidak baik untuk terus bertanya-tanya lebih lanjut mengenai kejadian yang sudah menimpa nya.


Satu poin yang mereka jaga, Keturunan dari kerajaan itu sangat istimewa, apapun yang ada pada tubuh mereka sangat istimewa. Prihal mata dan juga DNA, mereka sudah tahu, untuk itu pencarian Iswara harus segera di lakukan.


Kerajaan Keira terdapat di pulau yang dekat dekat negara Irlandia, jadi gadis itu tidak mungkin pergi lebih jauh lagi dari sana.


"Beberapa waktu lalu ada kasus penjualan budak di Thailand, apa kau termasuk korban dari mereka? Tapi kau bisa terperangkap di sana? Di mana saudara mu?"


Asnee baru mengingat nya, entah kenapa otak nya langsung tertuju ke sana.


Daniza tidak bisa berkata-kata apalagi menimpali ucapan-ucapan mereka. Seakan-akan mereka sudah tahu semua nya, kecurigaan mereka tepat sasaran tanpa dirinya harus bercerita.


"Siapa orang-orang ini?" Daniza masih tetap penasaran. Kedua matanya terus menatap mereka bergantian yang tengah berbincang lepas satu sama lain.


...**...


Angin malam terus berhembus, udara yang sangat dingin membuat Daniza tidak bisa tidur di tambah selama di Swedia sama sekali tidak ada tempat tidur untuk nya.


"Niza istirahat saja di kamar Asnee, dia mungkin tidak akan kembali malam ini! Papa Leyka membawa nya ke luar tadi, jadi kau bisa mengisi kamar itu untuk sementara!"


Kenyataan nya, tidak ada yang sudah terlelap. Ruby dan Edward masih berbincang di kamar mereka begitupun dengan Nara yang masih saja sibuk dengan laptop di tangan nya.


Aaron sudah kembali ke Thailand setelah pengunduran jadwal penerbangan tadi sore.


"Niza" Guncang Rayya pada lengan Daniza.


Sebenarnya dia ingin tidur pulas dan mengistirahatkan tubuh nya yang lelah, tapi dia harus terjaga alih-alih masih curiga terhadap keluarga itu.


"Baik putri" Reflek Daniza pun menyetujui. Rayya kembali ke tempat istirahat nya sebelum Daniza pergi.


"Baik? Astaga apa yang aku lakukan?" Tepuk pada kepalanya sendiri. Dengan langkah gusar, dia pun menuju kamar yang biasa di tempati Asnee. Tidak dapat di pungkiri, tubuh nya lelah, dia ingin sekali terlelap sejenak mengurangi rasa sakit nya di tubuh.


Bugh..


Begitu saja, Daniza menjatuhkan tubuh nya di atas kasur. Isi kepala masih berisik, kejadian hari ini begitu mengagetkan, dia sampai bingung harus bertindak seperti apa.


"Ma, Pa, siapa sebenarnya orang-orang ini? Apa mereka sama seperti musuh-musuh mu?" Gumam Daniza menutup matanya dengan lengan.

__ADS_1


Pikiran yang terus melanglang buana membuat nya tidak sadar terlelap. Rumah kediaman hening, satu mobil masuk pekarangan dan Asnee juga Leyka ke luar dari kabin mobil.


"Istirahat lah!" Ucap Leyka menepuk pundak Asnee. Mereka pun berpisah, masuk ke dalam kamar masing-masing.


Kreaat..


Asnee pun membuka pintu kamar, lampu di dalam sudah padam untuk itu tidak terlihat apapun selain lampu temaram dari balik jendela.


"Huffhhh... " Raganya lelah. Asnee merangkak naik ke atas kasur dengan wajah lelah.


Usia yang seharusnya di bebaskan untuk mencari jati diri, malah terikat oleh sebuah tahta. Cinta yang tidak mulus menggores hati, menambah beban di pikiran nya.


"Seharusnya tidak aku awali!" Gumam Asnee, menyandarkan punggung nya di dinding.


Tangan nya hendak meraih bantal, namun terasa berat. Asnee perlahan meraba-raba selimut di samping nya da. langsung menyalakan lampu tidur di atas nakas.


Srakk..


Asnee menarik selimut dan alangkah kaget nya dia mendapati seorang gadis tengah tertidur pulas di sana.


"Yaaakk" Teriak Asnee. Dia pun beranjak turun dari ranjang, Daniza yang juga kaget langsung turun dari ranjang.


"Kau? Kau kenapa bisa tidur di sini?" Teriak Asnee menunjuk wajah Daniza kasar, mungkin dia masih kaget.


Kesadaran Daniza masih belum kembali normal, dia linglung. "Uuh? Itu... Pangeran.. " Gagap Daniza.


"Maaf saya— "


Bughh


Daniza langsung berlutut, dia merasa bersalah karena tidur di tempat seorang pangeran.


"Haisshhh.. " Tidak habis pikir. Asnee, dia mengusap wajah nya kasar, tapi gadis di depan nya tidak akan berani tidur di kamar nya kecuali atas perintah mereka.


"Sudah bangun bangun! Kau lanjut tidur saja di sana. Biar saya tidur di sofa!" Tidak mau berbuntut panjang, Asnee bergegas duduk di atas sofa panjang yang lumayan nyaman.


"Tidak Pangeran, saya tidak berani!" Tolak Daniza. "Saya permisi.. "


"Mau kemana? Cepat kembali ke sana, lalu pejamkan mata mu!" Tahan Asnee dengan pertanyaan nya, dia menunjuk ke arah kasur dengan tegas.


Langkah Daniza terhenti, dia menoleh takut ke arah Asnee.


" Cepat kembali ke sana" Tekan Asnee.

__ADS_1


Dengan cepat Daniza pun berbalik balik dan segera menuju kembali ke atas kasur.


"Maaf" Ucap Daniza menatap bersalah pada Asnee. Asnee tidak merespon, dia merebahkan tubuh nya dan memunggungi Daniza. Daniza pun memilih untuk menutup tubuh nya dengan selimut tanpa kembali mematikan lampu tidur.


__ADS_2