The Future King

The Future King
Eps 99


__ADS_3

"Katakan dengan jelas dan detail kenapa kau begitu membahayakan nyawamu hanya untuk sebuah bunga yang baru kuncup ini. Daniza?!"


Asnee mendorong tubuh Daniza di dalam kabin mobil. Karl hanya menatap lurus jalan. Daniza tersudutkan saat bunga itu di ambil alih oleh Asnee.


"Kenapa diam?" Tentu, tentu saja Asnee khawatir. Dia tidak pernah melihat gadis sebodoh Daniza sebelum nya, kecuali keluarga mafia nya.


"Tunggu—" Tahan Asnee, dia berpikir apakah Daniza memiliki orang yang sangat dia sayangi? Soalnya keluarga mafia nya akan mempertaruhkan nyawa hanya karena orang yang mereka sayangi.


"Ada" Jawab Daniza masih di bawah kungkungan lengan Asnee Asnee.


"Siapa?" Tanya Asnee seakan penasaran. Jika benar dia penasaran maka Karl yang mendengar akan mencatat sejarah baru tuan nya.


Nafas malas terasa berhembus dari mulut Daniza, sesekali mendengus kesal. "Bertingkah seperti ini tidak mencerminkan jika anda adalah seorang Pangeran Yodrak, Tuan!" Sindir Daniza merebut kembali bunga itu.


Asnee pun membenarkan cara duduk nya. Diam dan tidak ada yang bicara sampai di mana mereka berada di depan istana.


"Kau ikut, saya!" Titah Asnee saat Daniza hendak kembali ke kediaman nya. Karl pun memarkirkan mobil di lihat jam di tangan pun masih menunjukkan siang hari


"Baik. Pangeran!" Daniza merasa lelah, tubuh nya seakan-akan terasa remuk. "Saya menyimpan tanaman ini dahulu, setelah itu aaya akan ke ruangan anda!" Tutur Daniza izin. Asnee tidak menanggapi setelah melirik tanaman di tangqn Daniza, mengingat tanaman obat itu akan Daniza gunakan untuk orang tersayang nya.


"Kenapa lagi dia?" Gerutu Daniza saat Asnee melengos begitu saja dari hadapan nya.


Hilir mudik para pelayan, begitupun keluarga kerajaan yang nampak tengah berbincang. Mereka sepertinya tengah senggang, namun sesekali terlihat berbincang serius seperti ayah Aaron dan juga Aat, di sana pun ada Aaron juga sang ibu-Rataporn


"Pangeran, ini jadwal untuk anda besok!" Karl sudah berdiri kembali di sekitar Asnee.


Entah kenapa, kerutan di kening Asnee tidak pernah hilang jika sudah menginjakkan kakinya di istana, seakan ada beban di pundak nya.


"Anda pun sudah terdaftar di universitas di kota! Ini untuk kartu mahasiswa anda" Karl pun memenrikan kartu tanda mahasiswa pada Asnee.


Tok


Tok


Tok


Sorot mata Asnee mengarah pada pintu masuk, begitupun dengan Karl.


"Semua keperluan anda menjadi tanggung jawab Daniza. Pangeran! Tuan Putri menugaskan nya langsung dan memberitahu saya tadi pagi" Ucap Karl.


Asnee tidak menyahut, seakan cukup tahu saja.


"Tetap pantau orang-orang itu, jika terlihat buat ulah maka jangan tanggung lagi! Mereka harus di kasih peringatan, jika tidak pasti akan semena-mena pada kita dan tolong pastikan jika paman Aat tidak bekerja sama dengan orang-orang serakah itu!" Tutur Asnee.


"Baik Pangeran" Jawab Karl.


Daniza masih di luar, pintu pun terbuka. "Masuk lah!" Ucap Karl dan dirinya langsung pergi.

__ADS_1


"Apakah ada yang anda perlukan, Pangeran?!" Ucap Daniza sopan layak nya seorang bawahan.


"Saya lapar, buatkan makanan dan minuman! Jika ada kue yang manis, tapi kalau tidak ada kau buat sendiri. Jika selesai letakan di meja kamar, saya mau mandi dulu!"


Padahal bisa bicara dengan benar, diam dulu sebelum selesai tapi Asnee malah bicara sambil berjalan menjauh dari Daniza sampai suara nya tidak terdengar jelas.


"Kue? Kue apa? Aku harus buat kue apa?" Daniza bingung, dirinya ketimbang di suruh membuat kue, dia pastinya lebih memilih menghabiskan waktu menerjemahkan semua berkas yang di berikan Putri Rayya.


Semua istana memiliki koki sendiri, tapi di bawah satu koki kepala. Daniza pun ke dapur dan menyampaikam apa yang pangeran Asnee butuhkan.


"Pak Maaf, apakah masih ada stok kue manis di dapur istana? Pangeran menginginkan yang manis-manis!"! Tanya Daniza pada seorang koki.


"Maaf nona, kebetulan stok kue sudah habis. Kami akan membuat nya besok!" Jawab koki itu memgecek benerapa etalase tempat menyimpan kue khusus untuk keluarga kerajaan.


"Nona maaf, karena sekarang bukan waktunya makan siang jadi kami bingung harus masak apa!" Koki itu memang nampak bingung.


"Masak yang biasa saja" Timpal teman nya yang tadi memeriksa etalae kue.


Daniza pun bingung, dia tidak pernah berurusan dengan dapur dari pertama masuk ke istana karena putri Rayya langsung menyuruh nya sebagai penerjemah.


"Jangan terlalu banyak pak, cukup ikan sama sayur tumis saja. Itu juga sudah sehat__"


"Untuk yang manis nya biar saya yang buat, paling kue basah saja! Untuk bahan nya ada?" Lanjut Daniza kembali.


Kedua koki itu mengangguk paham. "Untuk bahan kue sebagian ada yang belum sampai dapur dan untuk bahan lain paling sisa-sisa aja, nona!" Tutur Koki itu.


"SP, telur, gula, terigu, pewarna buat kue kalau engga ada coklat, susu dan butter! Itu aja cukup pak. Ada tidak?" Tanya Daniza.


"Boleh saya lihat?" Tanya Daniza meminta.


"Boleh, nona!"


Satu koki memasak makanan dan koki satu nya lagi menemani Daniza mengecek bahan untuk membuat adonan kue.


"Ini cukup, pak! Boleh saya minta wadah dan mixer yang kecil saja? Saya akan membuat untuk porsi dua orang saja!" Pinta Daniza.


Koki-koki di sana terlihat tengah istirahat, mereka sibuk bertugas seperti biasa dan waktu ini menunjukkan untuk mereka istirahat.


Daniza pun mulai mencampurkan bahan untuk membuat kue dari mulai telur, gula dan TBM sampai terlihat memutih dan mengembang. Tangan nya pun lincah seakan-akan sudah terbiasa memegang gagang mixer.


Koki di sana hanya memperharikan dan ternyata koki istana kebanyakan laki-laki.


"Boleh saya bantu, nona?" Ucap koki itu berinisiatif sendiri karena pekerjaan nya adalah membuat kue.


"Tidak perlu pak, anda bisa gunakan waktu ini untuk istirahat!" Ucap Daniza. Koki itu pun berjalan mundur dan tidak jauh duduk bersama yang lain.


Semua bahan sudah di campurkan dan butter pun sudah di cairkan. Daniza dengan cekatan mengaduk rata adonan itu sampai akhirnya berwarna coklat menggiurkan.

__ADS_1


"Wangi" Seru para koki itu. Adoban belum matang pun sudah wangi apalagi kalau matang.


Daniza memilih mengkukus adonana itu daripada di panggang, sepertinya agar lebih mudah saja.


Di lain ruangan, Asnee sudah ke luar dari kamar mandi, handuk dark grey melikit di pinggang nya. Buliran air masih menempel di permukaan kulit sesekali mengibaskan rambut basah nya.


Badan ideal, Asnee merawat tubuh nya dengan baik sampai lekukan pun terlihat kekar.


"Masih belum selesai?" Gumam Asnee sejenak melirik jam di dinding.


Namun tidak lama, Daniza pun satang dengan satu koki membantu membawa masakan untuk di hidangkan.


"Maaf Pangeran, stok kue di dapur istana sudah habis untuk itu saya membuatkan dahulu jadi memakan waktu lama!" Lapor Daniza sambil meletakan kue brownis yang sudah di potong-potong dengan ukuran sama, di atas nya pun tidak lupa di hias dengan keju.


Seperti biasa, Asnee tidak menyahut dan hanya sekilas melihat makanan yang sudah terhidang seakan tidak menginginkan nya.


"Saya permisi" Pamit koki itu pada Daniza


"Terimakasih pak" Ucap Daniza. Pak Koki itu hanya menjawab dengan kode tangan nya.


"Silahkan!"


Daniza dari masuk tidak berani melihat Asnee apalagi menatap nya dalam keadaan masih memakai handuk, matanya tidak kuat melihat itu.


"Mau kemana?" Cegah Asnee, dia sudah memakai kimono yang juga berwarna dark grey.


Daniza yang perlahan hendak pergi seketika diurungkan dan kembali membalikkan badan nya.


"Tetap di situ" Final Asnee.


Sebelum makan, Asnee mencoba menu kue baru yang pertama kali dia lihat di istana, karena biasa nya hanya menyediakan kue mering saja.


"Lumayan" Angguk Asnee.


Di dapur istana, mereka tengah menikmati kue yang di buat oleh Daniza dengan banyak pujian terlontar dari mulut mereka.


"Ini namanya Rezeky yang tidak di sangka-sangka! Semoga ke depan nya bisa mencicipi kue-kue istana dan memakan bebas seperti yang kita inginkan!" Permintaan yang tidak muluk-muluk. Kue yang di buat Daniza memang sangat enak dan manis nya sangat pas sekali.


"Husssh! Kalau mau bebas bikin di rumah sendiri!" Timpal teman nya yang lain namun canda dan tawa yang biasa mereka ributkan.


"Ber—" Asnee hendak menyuruh namun ternyata Daniza yang tengah duduk tenyata tertidur dengan tangan menjadi bantalan di ujung Sofa.


Tidak mau membangunkan, Asnee merapihkan semua nya sendiri dan ke luar dari ruangan nya.


"Tolong bawa ini" Kebetulan dua pelayan tengah melintas di depan kamar Asnee.


Asnee kembali ke dalam. "Luruskan kaki mu" Ucap Asnee perlahan mengangkat kaki Daniza agar selonjoran. Lelah sepertinya, buktinya Daniza tidak terganggu kala Asnee membenarkan posisi tidur nya.

__ADS_1


Gorden yang tepat di atas kepala Daniza Asnee tutup sebagian agar tidak terlalu terang.


Asnee pun mengenakan baju rapih nya dan menuju ke istana besar atas panggilan Aaron-Papanya.


__ADS_2