
"Kak, aku butuh informasi mengenai Jeno dan keluarganya serta bisnis anggur beberapa bulan ke belakang"
Satu tangan kiri masuk ke dalam saku dan tangan lain menggenggam handphone di depan daun telinga. Ya, Asnee tengah menghubungi Rayya yang masih berada di akademi.
Di akademi, Rayya menyilang kan kaki nya dengan kaki kanan bertumpu di atas kaki kiri, tangan lentik nya sangat menggoda halus dan juga bening.
Wajah pun sangat lembut dan tenang namun tak mulus karena benar saja ada tipis smirk entah apa maksud nya itu tidak akan ada yang tahu dan tidak akan ada yang mengerti.
"Oh sayang kau sudah sampai di istana, heum ?!"
Asnee tertegun, dia menautkan kedua alis nya karena heran akan suara gemulai dari kakak nya, tapi penekanan nya membuat bulu kuduk nya merinding dan darah pun seakan berhenti mengalir.
"Eum! Oh iya, itu saja kak yang aku minta dan selamat malam aku tidak ganggu lagi!"
Asnee berbicara cepat dan langsung mematikan sambungan telpon nya. Namun tidak di seberang sana, Rayya dengan santai nya meletakkan kembali handphone nya dan kembali berdiri dan berjalan ke arah berlawanan.
"Keparat kau, Rayya!!" Suara dari wanita itu tertekan sehingga nada suara nya tidak akan terdengar ke luar ruangan.
Tatapan lembut namun mematikan yang di lemparkan oleh Rayya membuat siapa saja tidak akan percaya. Jari jemari yang lentik perlahan menekan leher wanita yang kini sudah berurai air mata dan keringat telah membasahi semua badan nya.
Rambut yang terikat rapih sudah tidak lagi terlihat indah, berantakan dan juga menggelikan. Wanita itu sudah tidak berdaya namun amarah nya masih terpancar.
"Huffhhh" Rayya membuang nafas nya kasar. "Begitu kah caramu berterimakasih, nona ?!" Jemari Rayya semakin menekan kuat dan akhirnya dia menjambak rambut wanita itu dengan tidak memiliki ampun.
"Uang, makanan, pakaian yang sekarang kau pakai pun kau lupa siapa yang memberikan ini semua? Tapi apa balasan mu? Hahaha kau mau menikam ku? Seharusnya sedari awal aku mencurigai keberadaan dirimu"
"Tadinya aku pikir kau memang masuk karena otak mu yang brilian, tapi setelah kejadian ini sepertinya bukan karena kecerdasan mu, melainkan ada orang di belakang mu yang menginginkan nyawa ku. Bukan kah begitu?!"
Nafas wanita itu tidak teratur sehingga terasa di wajah Rayya, tapi sekali lagi dia melihat tuan putri yang berbeda, sama sekali tidak sama dengan apa yang di katakan oleh bos nya dan orang-orang di istana.
Kebenaranya sekarang adalah jika tuan putri Rayya seperti penjahat yang haus akan darah. Dia berpikir apakah dirinya akan berakhir begitu saja?
Keheningan menjalar, hanya ada deru napas yang bergemuruh, tangisan kecil pun terdengar dan itu bukan dari Rayya tapi dari wanita yang sudah Rayya anggap sebagai teman dekat nya. Satu asrama membuat mereka akrab dengan cepat karena wanita itu sangat cerewet seperti Finola.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh mu?"
Raya berdiri, menggesek kedua telapak tangan nya seakan banyak kotoran di sana. Dia berdiri membelakangi wanita yang di mana tangan dan kaki nya sudah terikat kain.
"Cih!! Bunuh saja aku, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu mu" Decihan nya sangat menerjang jiwa, Rayya menatap lurus setiap furnitur yang terpajang di asrama, tenang sangat tenang.
"Heumm, sayang nya tangan ku masih suci dan lagi jika membunuh mu sekarang akan sangat merepotkan!!"
"Dengar Mouna, tanpa kau suruh pun aku akan senang hati merobek jantung mu!!" Tekan Rayya kembali menekuk lutut nya dan menarik rambut wanita itu dengan kasar.
Perangai lain dari putri Yodrak sangat menakutkan, rumor kelembutan nya menjadi lebur di mata Mouna, sama sekali tidak sesuai dengan yang di ceritakan oleh Mali dan Jeno.
Kecantikan nya memang membuat kaum adam terpana tapi siapa sangka di balik wajah cantik nya terdapat wajah pembunuh menyelimuti dan mungkin untuk kali ini hanya Mouna saja yang tahu.
...**...
Semua anggota istana berkumpul, Asnee sudah bersiap mengikuti makan pagi di istana inti.
"Karl, pergi sebelum petang dan katakan pada putri Rayya untuk menyimpan nya dengan baik dan kembalilah sebelum pagi datang"
Jas membalut tubuh Asnee dengan stelan seperti seorang pebisnis muda.
Karl mengangguk paham, dia berjalan ke lain arah hendak melaksanakan perintah dari atasan nya. Di persimpangan danau kecil yang menghubungkan istana timur dan inti terlihat Mali tengah menuntun Pim kecil dan mereka berjalan mengarah ke istana, terlihat pula Aat berjalan di belakang bersama dengan Jeno.
Asnee menyelidik tajam, dia berjalan sesuai ketukan membuat langkah terlihat cepat namun kadang lambat.
"Ikut sarapan juga kah?" Gumam Asnee.
Di ruang makan, mata Asnee tidak dapat lepas dari laki-laki asing di sekitar keluarga nya, dia pun duduk di antara nenek dan kakek nya. Untuk ibu suri, dia tidak ikut dan sudah lama makan di kamar nya.
Aaron pun datang. "Semoga hidangan ini sesuai selera anda, Guru!" Ucap Aaron menatap Jeno yang memberi salam dengan mengatupkan kedua tangan nya sopan.
Di ruang makan tidak ada yang bicara, hanya dentingan sendok yang mengisi. Asnee tidak bertanya atau sekedar menyapa, sudut matanya tidak lepas dari Jeno, orang asing yang tiba-tiba menjadi seperti bagian dari keluarga nya.
__ADS_1
Jika bertanya pun sepertinya akan tidak sopan dan menyinggung sang guru.
Mali terus berada di samping Pim, jika diperhatikan mereka tidak pernah berpisah. Asnee melihat Jeno mengajar Pim dan Mali pun ada di sana, sangat tidak masuk akal jika di pikir.
Telpon Asnee pun bergetar, dia segera menerima panggilan dan menjauh dari jalan dekat gazebo di mana Mali berada. Setelah kepergian Asnee, Jeno dan Mali bersamaan mengelus dada dan mengatur nafas kembali.
"Mama kenapa?" Tanya Pim polos.
"Oh tidak sayang! Mama masuk dulu. Kau belajar lah yang benar dengan guru Jeno!"
Mali membelai kepala Pim dan sesekali melempar senyum pada Jeno. Jeno pun mengkode agar Mali cepat pergi, karena dia merasa Asnee memang berbeda.
"Oke kak, makasih!"
"Oh iya, nanti Karl akan menemui mu di akademi ada sesuatu yang ingin aku titipkan kan padamu!" Seru Asnee di balik telpon nya.
"Titip? Titip apa?" Ujar Rayya.
"Nanti kakak akan tahu dan mengerti tanpa aku jelaskan!" Ucap Asnee kembali melangkahkan kaki nya mendekati meja yang di mana laptop milik nya berada.
"Ok! Jika kau butuh sesuatu hubungi kakak saja" Ucap Rayya hendak menutup panggilan.
"Sebentar kak" Tahan Asnee. Rayya pun kembali mendekatkan handphone nya di depan daun telinga.
"Iya" Tukas Rayya.
"Semalam kau sedang bermain dengan siapa?" Tanya Asnee penasaran.
Rayya menaikkan satu alis nya. "Barang bukti hidup untuk membantu mu, jadi nanti jika Karl pulang terlambat berarti kakak sedang meminta tolong!"
"Kau di sana berhati-hatilah, As! Sepertinya pengacau ada di dalam istana" Lanjut Rayya.
"Siap laksanakan, Tuan Putri!" Tegas Asnee tapi sangat lembut.
__ADS_1
"Ok!"
Panggilan pun terputus. Asnee pun membuka email yang di mana Rayya sudah mengirim berkas yang di minta oleh Asnee.