The Future King

The Future King
Eps 24


__ADS_3

Tiba-tiba semua sistem aktif, Sean tentu tertegun. Disaat semua perangkat dan sistem harus di nyalakan dari masing-masing power, tidak dengan Aarav yang hanya menekan sesuatu pada gadget nya.


"Luar biasa ! Kau benar-benar sudah menuntaskan program pengaktifan perangkat secara menyeluruh ?"


Sean menarik kursi di sudut meja dan langsung duduk di samping Aarav.


"Sudah dad. Aku mencoba yang ada di ruangan ku untuk bahan percobaan dan berhasil, tapi belum selesai dan saat aku bicara sama daddy waktu lalu akhirnya aku mencoba lagi dan akhirnya berhasil"


"Sistem nya langsung masuk tanpa kode, jadi aku langsung membuat kunci juga sebagai ikon pengaktifan"


Aarav memperlihatkan hasil kerja nya dengan sambil berbicara seperti seorang pembimbing. Sean pun mendengarkan dan juga ikut fokus pada layar di mana banyak kode numerik dan kode-kode lain.


"Lalu alat penyadap baru sudah selesai ?." Tukas Sean di sela rasa bangga nya, seraya dia pun memeriksa kerja putra nya.


"Sudah dad, sebentar!." Aarav beranjak turun dari kursi.


Di sudut ruangan berdiri rak terbuka beberapa tahap namun ada yang unik di antara rak itu, terdapat satu tahap yang kayu nya dapat buka tutup.


Sean masih sibuk pada layar.


"Ini Dad" Ucap Aarav. Sean menoleh dan mengambil barang kecil berwarna hitam sampai-sampai seperti chip mini mikro saking tipis dan kecil nya


Bola mata Sean menyelidik di udara kala menatap alat itu teliti.


"Pintar" Puji Sean.


Aarav melebarkan senyum nya, bulu mata lentik itu seolah menggoda sang netra yang melihat.


"Harus ! Kan putra daddy xixixixi"


Benar-benar menggemaskan, Aarav ternyata bisa malu juga.


"Sini, daddy peluk dulu"


Aarav yang tengah berdiri di atas kursinya pun terhuyung karena tarikan sang papa.


"Aaaa geli" Teriak Aarav dengan kekehan geli. Sean terus mengeratkan pelukan itu pada Aarav sesekali mengecup gemas kepala nya.


"Dad setelah nanti daddy dan uncle mencoba nya, berikan langsung pada kak Asnee ya ! Aku hadiahkan sebagai kado ulang tahun saja,"


"Itu, masalah nya aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa!"


"Kak Asnee sudah memiliki semua nya, jadi aku bingung"


Cengir Aarav dengan bola mata memutar malas, namun mimik wajah terpampang menggemaskan.


Sean mengangguk paham tapi sedetik kemudian protes.

__ADS_1


"Lah kan ini buat daddy, nak!" Tukas nya.


"No daddy, buat daddy nanti saja. Ok!"


Sean kembali lesu, Aarav benar-benar tidak peduli padanya. Dia mengutamakan saudaranya dari pada orang tua nya sendiri. Tapi harus bagaimana lagi, sikap Aarav sangat sama persis dengan nya, sama-sama sangat melindungi saudara nya.


Di lain sisi dia pun yakin jika kasih sayang Aarav pada dirinya dan juga Xavera-'ibu nya Aarav' lebih besar dari siapapun.


note : Asnee melarang putra-putri dari kakak nya memanggil dengan sebutan 'UNCLE'


...***...


Suasana natal masih sangat terasa, beberapa toko ada yang tutup tapi ada pula yang buka.


Asnee masuk ke dalan toko pernak-pernik kelontongan yang nampak dari luar sangat unik.


"Pa coba lihat ini"


Sebuah kalung unik dengan gantelan berbentuk elang menyita pandangan nya. Leyka ikut menyentuh benda yang berwarna perak itu.


"Coba kita lihat"


Leyka meletakan kalung itu di leher Asnee tanpa di pasang, seperti tengah mencocokkan.


"Ze, bagaimana menurut mu?" Ucap Leyka melirik Zevan yang sedang sibuk melihat-lihat.


Mata Asnee tak berpaling, dia sangat tertarik dengan kalung itu sampai akhirnya dia menunjukkan benda itu pada pemilik toko.


"Tuan berapa harga nya ?" Kalung itu dia letakan di atas meja agar pemilik toko itu melihat nya.


Asnee menunggu jawaban, pak tua pemilik toko membenarkan kacamata nya. Rambut bercampur putih dengan janggut pun sama, kulit wajah kemerahan dan sudah keriput.


"Hanya 100 USD, nak !" Ucap pak tua itu kembali meletakan kalung di depan nya.


"Saya beli yang ini,"


"Dan ini uang nya"


Asnee langsung membayar saat itu juga, dia sangat tertarik dan ingin memilikinya, seakan dalam kalung itu ada nyawa hidup yang tengah bersemayam.


Kotak berukuran balok di sediakan untuk menjadi tempat kalung itu dan pemilik toko langsung membungkus nya.


Robert, Kevin dan Zevan masing-masing membawa benda antik lain nya untuk di jadikan hadiah, tidak lupa juga Leyka yang nampak mondar-mandir mengamati benda unik yang ingin dia beli dengan kedua tangan masuk ke dalam saku.


"Pa" Panggil Zevan.


Merasa di panggil, Leyka melangkah mendekat. Jemari nya memegang sebuah gelang unik, seperti rotan keemasan tapi lumayan berat.

__ADS_1


"Tuan apakah gelang bentuk ini masih ada yang lain ?."


Tanya Leyka, pak tua itu pun kembali memperjelas penglihatan nya.


"Tidak ada. Barang yang anda pegang tidak ada duplikat nya atau persis sama seperti itu ! Jarang orang tertarik dengan benda-benda di sini sehingga hanya satu yang di buat, jika habis maka harus pesan dan itu akan sangat lama proses nya"


Tutur pak tua itu menjelaskan.


Perkataan pak tua itu memang benar, dari semua barang yang tertata rapi, sama sekali tidak ada bentuk yang sama begitupun dengan warna sekalipun. Satu model satu varian, tidak ada yang sama persis.


Jendela toko yang terbuat dari kaca tembus pandang sehingga orang dari luar bisa melihat nya dengan jelas.


dua pasang mata masih mengintai pergerakan Asnee, tidak ada celah, sangat-sangat ketat dan teliti, seakan berkedip pun sudah sangat tak terasa.


"Mereka ke luar" Ucap nya langsung bersiap kembali.


"Kita harus mendekati nya, jangan biarkan mangsa kita kabur begitu saja!" Senjata tajam dan juga senjata api di selip pada pinggang.


Mobil kembali melaju mengikuti arah laju mobil Asnee.


Telpon berbunyi, ternyata dering ponsel Leyka yang berbunyi. "As tolong terima," Titah Leyka pada Asnee.


"Halo" Ucap nya.


"Asnee lihat di belakang mobil mu, apa masih ada yang mengikuti atau tidak ?! Hati-hati, kita tidak tahu dia sedang mengincar siapa"


Suara Sean masuk ke dalam pendengaran sehingga Asnee reflek menoleh ke belakang. Robert, Kevin dan juga adik Zevan pun seketika ikut menoleh.


"Ada apa ?." Tanya Leyka aneh. Asnee tidak menyahuti, dia masih mendengarkan suara Sean.


"Masih ada" Ucap Asnee dengan tenang seraya mendengarkan penuturan dari Sean. Setelah anggukan terakhir, sambungan pun terputus.


Mereka semua penasaran. Adik Zevan masih menyelidik ke belakang.


"Kak" Ucap nya cepat.


"Pah, tukar posisi"


Seketika Leyka menginjak pedal rem mendadak sehingga cekitan gesekan ban dan aspal terdengar ngilu.


Leyka, dia tidak banyak tanya dan langsung bertukar poisi sehingga kini Asnee yang menyetir. Insting dan juga kepekaan Leyka sudah terasah selama hidup berdampingan dengan Nara dan itu telah teruji.


"Ada apa, ada apa ?." Robert heboh, dia sangat penasaran begitupun dengan Kevin yang sesekali ikut memeriksa ke belakang.


Asnee menacap gas dengan sangat keras sehingga penghuni kabin mobil harus berpegangan. Semakin Asnee cepat melaku, semakin cepat pula menguntit di belakang.


"Berani bermain dengan kami?!"

__ADS_1


Batin Zevan dan Asnee bergumam bersama.


__ADS_2