
Louris dan suaminya berjalan menyusuri koridor, suara tongkat berlapis emas milik Fay yang selalu menemani dia kemanapun menggema disepanjang koridor, Louris menggandeng lengan suaminya dengan mesra sambil tersenyum senang karena tujuan mereka berdua adalah kamar 402 tempat Erick juga Karin menginap.
Tapi semua terhenti ditengah jalan, karena yang ingin mereka jumpai sudah berdiri didepan pintu. Karin berkutat dengan hpnya hendak menelfon salah satu orang kepercayaannya.
Karin mendekatkan hpnya ketelinga dan membuka suara saat telfnya mulai terhubung. "Sora apa kita pernah mengawal ketimur tengah?" tanyanya.
"iya pernah tapi cuma sekali, ada apa memangnya?" jawab Sora dari seberang.
"kirimkan datanya aku ingin lihat"
"ok siap dikirim"
"hhhmmm" Karin mematikan hpnya lalu berkutat kembali hendak menelfon seseorang lagi tapi semua itu terhenti saat pintu kamar terbuka dan Erick berjalan keluar.
"Bi" panggilnya dengan wajah serius Karin hanya melihatnya saja tanpa menjawab.
Erick meraih kerah kaos Karin dan menariknya kedepan. Spontan dia mencium bibir Karin tepat didepan Fay dan Louris membuat keduanya melongo seketika, Karin terjenggang dengan kelakuan pria didepannya.
"ciuman selamat paginya belum" katanya dengan senyum sumringah.
Buak...
Karin menonjok perut pacarnya itu karena dia sangat lebay menurutnya, dan berlalu dengan cemberut tak suka.
Erick mengeryit memegangi perutnya yang masih sakit. "tunggu aku Bi" teriaknya dan segera berlari menyusul kekasihnya merangkul pundaknya berjalan sejajar.
"kita jalan-jalan dan makan kuliner hari ini lets go" katanya dengan gembira ria sambil bernyanyi.
🎶kita mau tamasya
berkeliling keliling kota
hendak melihat-lihat keramaian yang ada
kita panggilkan delman
kereta yang berkuda
delman, delman, tolong bawa kita🎶
__ADS_1
Louris tertawa ketir mendengarnya sementara suaminya Fay tak menunjukan apapun. Ersya yang mendengar langsung bergabung matanya berbinar-binar begitu mendengar makanan, Johan juga Nana membiarkan saja apa yang dilakukan Ersya.
Ersya berjalan setengah berlari dia juga menjajarkan langkah kakinya dan langsung merangkul pundak Karin juga.
🎶 lets go kita duduk bertiga sambil mengangkat kaki
melihat dengan aksi
ke kanan dan ke kiri
lihat delmanku lari
bagaikan tak berhenti
delman, delman, jalan hati-hati🎶
Karin menunduk pusing dengan kelakuan keduanya yang seperti anak kecil. "bisakah kalian berhenti, hoss" katanya menjerit.
Dibelakang cuma bergeleng kepala ada juga yang memegang dahinya. Hari yang begitu cerah sinar mentari menerobos masuk lewat cendela kaca menyinari hati mereka yang berbunga-bunga menghilangkan semua penat dan masalah yang ada.
Tapi semua itu langsung sirna tat kala seorang wanita sudah berdiri didepan menghentikan langkah kaki semuanya, semua mata tertuju padanya dua orang dikanan kiri Karin memandang tak suka akan kehadirannya, Karin nampak biasa saja walau sebenarnya dia juga tak suka.
"kedelep mendung Sya" celetuk Erick.
"pergilah dan selesaikan urusanmu" sahut Karin.
"cih kenapa dia mengganggu romansa kita sih?" gerutu Erick lalu berjalan menghampiri wanita didepannya yang ternyata Fani.
Fani berjalan mendekati Erick dan tidak tahu malunya memeluk badan Erick didepan Ersya dan Karin. Ersya menggertakan gigi melihat itu semua tangannya mengepal siap menjambak rambut Fani tapi semua itu ditahan oleh Karin.
Sebenarnya Karin juga mengepalkan tangannya tapi karena terjadi didalam celana jadi tidak ada yang tahu.
"kalo urusanmu dengan dia selesai sekarang denganku yah" katanya dengan manja menempel erat, membuat dua gundukkan kenyal didada Fani bisa Erick rasakan.
"kenapa Fani bersikap seperti ini tidak biasanya dia merayu seperti ini" batin Erick melirik keFani.
"kamu bisa tidak bersikap biasa saja" kata Erick mencoba melepas pelukan Fani, tapi Fani malah mempererat pelukannya membuat badan Erick bisa merasakan setiap inci badan Fani.
"kenapa? Bukannya dulu kita sering melakukannya" katanya dengan nada yang menggoda.
__ADS_1
Hati Karin mulai panas, sebagai seorang wanita yang berkekasih dia juga tak tahan jika kekasihnya digoda wanita lain apalagi tepat didepannya.
Tapi dia juga tak bisa berbuat banyak, karena Fani mengetahui Karin adalah cowok tulen dia hanya berfikir mungkin Fani ingin tahu apakah Erick masih normal apa tidak.
Karena tak tahan dengan kelakuan Fani Ersya maju selangkah hendak mencakar wajah Fani. "dasar wanita sundel tidak ta..." teriaknya.
Karin meraih tangan Ersya yang siap diterbangkan kearah Fani. "ini urusanku!!" katanya.
"kenapa kau hanya biasa saja melihatnya seperti itu" kata Ersya gak terima.
Johan mendekat. "beby benar jangan ikut campur nanti tambah runyam" katanya.
"cih menyebalkan baiklah" Ersya geram lalu melipat tangannya dan cemberut.
Karin melihat Erick yang berusaha melepaskan pelukan Fani. Lalu dia menepuk pundak Erick membuatnya menoleh seketika.
Suasana yang cerah menjadi gelap seketika sorot mata Karin berubah menjadi tajam siap menerkam. "apa kalian berdua ingin pamer" katanya datar dan dingin.
Erick diam seribu bahasa dia bergumam dalam hati. "entah mengapa aku seperti punya dua istri tiga hari kesana tiga hari kesini sehari istirahat hiks"
Fani menarik lengan Erick supaya menjauh dan meninggalkan Karin berserta yang lainnya, Erick menurut saja dia melihat kebelakang. "aku akan segera menyeselesaikannya" katanya dengan menggunakan bahas Jepang yang fasih.
Karin hanya diam mendengarnya tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Fani melirik Karin dia tersenyum licik kearahnya membuat Karin mengangkat satu alisnya seolah tahu apa yang dia maksud.
Karin meraih hpnya mencari nama disana dan segera menelfonnya.
"hallo sayang" sahut orang diseberang.
"kau sudah melakukan apa yang aku suruh" balas Karin.
"beres sayang tinggal menunggu dia beraksi saja"
"bagus" katanya pendek.
Sebagai sesama wanita dia tahu, apa yang akan dilakukan seorang wanita jika apa yang dia inginkan tak bisa didapatkan. Untuk mengatisipasi keadaan dia menyuruh Felix melakukan sesuatu pada badan Erick. Selebihnya tinggal menunggu Fani melakukan apa yang dinginkan saja.
"apapun yang kamu lakukan pada dasarnya itu akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri" batin Karin.
*****
__ADS_1