THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
AKHIRNYA KETAHUAN


__ADS_3

Karin keluar kamar mandi sudah rapi dari ujung kepala sampai kaki, penampilannya tidak seperti tadi yang cuma memakai kaos oblong biasa dan hotpen, dia memang memakai kaos oblong berpadu dengan celana jeans pensil sepatu Reebok menghiasi kakinya, tidak seperti tadi yang melonggarkan kembennya hingga sikembar kelihatan jelas juga menonjol.


Kini dia mengikat erat kembennya berlapis tengtop tipis berbalut kaos dadanya terlihat rata saat ini, dan seperti biasa beberapa hiasan melekat dibadannya rambut tertata rapi kebelakang sedikit poni dikanan, juga makeup natural menghiasi wajahnya dengan lipbalm pink menghiasi dibibir, dia keluar menenteng jaket hoodienya dikanan kiri diikuti oleh Nana dibelakang proses itu memakan waktu kurang lebih setengah jam saja.


Semua orang yang berada disana dibuat tak bisa berkata-kata melihat penampilan manusia yang satu ini.


"wah sudah tertata rapi ya, silakan para tuan dan nyonya kita cicipi hidangan yang sudah tersaji" kata Karin tersenyum manis.


"kau mau keluar, rapi bener" celetuk Erick berjalan mendekat lalu mencium pelipis Karin didepan semuanya.


"dibilang sibuk ya sibuk dibilang tidak ya tidak santai saja nanti kalo ada panggilan tinggal berangkat" kata Karin menimpali sambil menyeruput kopi lattenya. Erick duduk disampingnya mengambilkan makanan untuk Karin juga dirinya sendiri.


"ko pada diem saja, perutku gak muat makan ini semua" kata Karin lagi melihat semuanya tidak beranjak dari tempat duduknya.


Mereka bertiga berjalan menuju meja yang penuh hidangan.


"Nana tuangkan minumnya"


"baik lilte" Nana segera menuangkan jus buah menjajarkan bersama air putih masing-masing lalu berdiri tidak jauh dari mereka.


"kamu akrab banget sama tuan Fay, Bi" kata Erick mengejutkan membuat Karin berhenti sejenak.


"dulu aku pernah membuat masalah disalah satu bisnisnya" balas Karin santai melanjutkan makannya.


"mm begitu ya"


"daripada begitu cepatlah makan nanti keburu dingin"


"aku bingung harus memperkenalkan mereka seperti apa, karena aku masih belum bisa menerima apa yang mereka katakan sebelum aku mengetahui kenyataannya" batin Karin melanjutkan makannya.


"aku sudah melupakannya" sahut Fay.


"benar yang lalu biarlah berlalu kita jalin silaturahmi saja" kata Louris menyunggingkan senyum kecil disudut bibirnya.


"entah mengapa aku merasa ada sesuatu diantara mereka ya" batin Erick memperhatikan ketiganya.


Mereka melanjutkan makannya tanpa bersuara kali ini begitu selesai Nana segera menelfon beberapa pegawai hotel guna membersihkan meja makan.


Setelah berbincang sebentar Fay juga Louris berserta Glen tangan kanannya pamit pulang, mereka akan segera lepas landas meninggalkan Indo karena perkerjaan Fay yang sudah menumpuk.


Tidak ada kegiatan mereka berdua bercengkrama didekat cendela, Erick mendudukkan Karin diatas pangkuannya.


"kamu mengikat sikembar begini apa gak sakit" tanya Erick penasaran.


"gak sakit, ini kemben khusus jadi tambah nyaman" jawab Karin menyandarkan kepalanya didada Erick.

__ADS_1


"tapi ini kenceng banget" Erik memegang punggung Karin meraba kemben yang dikenakan olehnya. Karin hanya menggelengkan kepala saja.


"kasian banget sikembar"


"Erchan jangan bilang siapapun aku dihotel"


"alasannya?"


"aku pingin disini dulu, aku capek sekali"


"kamu tidak lagi berbohong padaku"


"apa aku terlihat berbohong"


"baiklah kalo itu maumu tapi sampai kapan?" tanya Erick membelai rambut Karin.


"tidak tahu"


"Bi Romo dan bunda mau keJakarta mereka berniat ingin mengunjungimu"


"silakan saja pintu rumahku selalu terbuka untuk mereka"


"akan aku sampaikan ucapamu itu"


"Erchan aku mau tidur lagi seperti ini"


"terima kasih"


Karin tidur kembali dipangkuan Erick karena masih lelah dan mengantuk, Erick tersenyum sendiri melihat kekasihnya seperti anak kecil dipangkuan ibunya.


Melihat Karin kekasihnya tertidur lelap dia menggendongnya kekasur membaringkan badannya disana dia sendiri tidur disamping memeluknya begitu erat seakan tak rela meninggalkannya.


Dirumah Karin. Ersya berkali-kali berkunjung kesana berharap tunangannya sudah pulang sekaligus mengunjungi paman bibinya, raut wajahnya terlihat kecewa mengetahui apa yang dicari belum juga datang.


"apa dia belum juga datang paman?" tanya Ersya sama paman dirumah belakang.


"belum Sya, dia sedang berkerja jangan kecewa begitu" jawab pak Aldo kalem.


"dia tidak pernah menghubungiku sama sekali sejak dia berangkat sampai sekarang tidak biasanya dia seperti ini" jelas Ersya menunduk.


"mungkin dia sangat sibuk sabarlah paman yakin dia tak akan kemana"


Ersya tidak membalas perkataan pamannya dia berjalan lesu menuju kamar Johan membuka lemari Johan, meneliti satu persatu pakaian itu menariknya lalu menciumi salah satu baju Johan.


Saat pandangannya menuju kebawah ada sesuatu yang membuatnya tertarik, pakaian perang Johan cuma dilipat ala kadarnya dan ditaruh dipojok lemari saja.

__ADS_1


Ersya meraih pakaian itu lalu membongkarnya dia nampak kaget saat melihat darah yang mengering juga beberapa sobekan disana sini.


"paman bibi" teriak Ersya memanggil keduanya.


Mendengar teriakkan dari keponakannya keduanya segera berlari menuju kamar johan.


"ada apa Sya?" tanya keduanya kompak.


"ini pakaian mas Johan, lihat ini penuh darah juga robek seperti ini aku yakin ada yang tidak beres" Ersya memperlihatkan pakaian perang Johan sama keduanya menunjuk bagian yang robek. Paman dan bibinya hanya bengong saja karena memang mereka tak tahu apa-apa.


"mas Jo dan Karin pergi tanpa kabar ponselnya juga tak bisa dihubungi aku yakin pasti ada hubungannya"


"tapi Sya bukannya sebelum pergi dia baik-baik saja tidak terlihat sakit sedikitpun" sahut bibi.


"apa kalian lupa siapa Karin sebenarnya selain pembisnis dia juga seorang mafia, mas Jo pernah bilang Karin mengerti sekali dunia kedokteran apalagi obat-obatan" jelas Ersya kesal dan marah.


"keluar kota pasti hanya sebuah alasan saja mereka pasti berada disuatu tempat saat ini" katanya mulai curiga dengan keduanya.


"tenangkan dirimu ndok pasti ada alasannya kenapa mereka berbuat begini kan" kata bi Ratna menenangkan Ersya keponakannya.


"jangan menyuruh Ersya tenang bi aku tidak mau mas Johan kenapa-napa" Ditengah tangisannya dia meraih hp yang berada didalam tasnya mencoba menelfon Johan tapi sayangnya Johan tidak bisa mengangkat panggilan itu karena dia sedang istirahat.


Lalu dia beralih menelfon Karin tapi juga tidak diangkat karena tidur bersama Erick membuat Ersya semakin cemas.


"tuh kan paman keduanya tak bisa dihubungi pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan" Ersya mulai gelisah juga bingung.


"tenangkan dirimu Sya kita tunggu penjelasannya setelah mereka pulang" kata paman.


"kelamaan" Ersya berlari keluar entah kemana dia menaiki taksi online yang dia pesan melalui hp. Didalam taksi dia nampak berfikir tentang keberadaan keduanya takut, gelisah, cemas, kesal dan marah semua bercampur jadi satu ingin mencaripun tapi tahu kemana tidak ada tempat yang dituju.


Tiba-tiba dia teringat sama Erick segera dia melakukan panggilan keErick berharap dia juga mengangkatnya saat ini.


"Ng hallo" jawab Erick dengan suara parau khas orang baru bangun.


"kamu dimana sekarang" tanya Ersya gak sabaran.


"oh kamu Sya aku dihotel sekarang kenapa?" jawab Erick mengucek matanya.


"ok tunggu aku disana, kamar nomor berapa"


"kamar Chibi lantai paling atas sendiri"


"kamu juga bersamanya ya"


"iya dia lagi tidur"

__ADS_1


*****


Terima kasih sudah like, komen juga lainnya dukungan anda sangat berarti bagi author 😘🥰🤗


__ADS_2