
"maaf ya lama, kalian ngobrol sama siapa akrab sekali" kata mama Vivi dengan tersenyum ramah dan berjalan mendekat.
Karin memperhatikan istri papa angkatnya, perempuan bertubuh sedang masih sexsy dan berwajah ayu diusianya yang tak lagi muda. Dia tersenyum ramah pada setiap orang terlihat kerutan didahi, mata, juga area bibirnya, pipi yang terlihat tirus menampakan tulang padahal dilihat dari usia anaknya perempuan ini masih sekitar lima puluhan.
"oh mama, perkenalkan dia rekan bisnis mas Evan" sahut Vivi memperkenalkan.
"wah masih muda ya, siapa namanya?" sang mama mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Karin.
"Arandita Sanjaya! Nama saya tante anak angkat papa" ucapnya yang langsung pada intinya. Mendengar hal itu mama Vivi langsung menutup mulut, pandangan matanya yang tadinya ramah kini berubah benci dan begitu memuakan.
"ka, kamu apa kamu anak haram yang dibawa dia!!" katanya pedas tapi Karin hanya diam tak merespon.
Semuanya terpaku pada ucapan mama Vivi karena mereka tidak tahu apa yang terjadi kecuali Vivi sendiri juga sang papa.
"wah wah baru kenal sudah ngecap anak haram, emangnya tante tahu sendiri kalo aku anak haram ada gitu stempelnya" kata Karin dengan tenang sementara yang lain hanya bisa mematung menyaksikan.
"sudah kubilang dia bukan anak haram ma, Aran anaknya Reyno" sahut pak Sanjaya membela Karin.
"seperti inikah dibela seorang papa" batin Karin melirik papa angkatnya.
"papa gak usah nutupi kalo dia bukan anak papa ngapain papa bela-belain setiap hari pergi kepanti asuhan, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja" bentak mama Vivi.
"pantas cepet tua begitu lha tiap hari marah mulu haaaah bikin capek saja" kata Karin santai. tanpa rasa marah sedikipun dengan ucapan mama Vivi.
"apa katamu dasar bocah kurang ajar" pekik mama Vivi.
"aiya gak usah teriak tante lihat tuh ototnya pada keluar, nanti kulit wajahnya bisa keriput" omongan Karin malah semakin membuat mama Vivi semakin geram.
"lihat nih kulitku terlihat masih belasan tahun padahal aslinya sudah kepala satu" Karin berkata sambil berpose menempelkan jari telunjuknya kepipi seperti anak sd.
__ADS_1
"Erchan aku minta tolong dong" katanya pada Erick yang berada disampingnya, akibat bahunya ditipuk Karin sambil bicara dia langsung sadar dari lamunannya.
"iya minta tolong apa?" tanyanya melihat kearah Karin.
"tolong bawa cecan dan tuan Evan pergi dari sini kasian anaknya" ucapnya pelan.
"cuma itu saja kamu sendiri bagaimana"
"jangan kawatir akan segera teratasi kalo ada Karin disini"
"hem songong baiklah kalo begitu" Erick berjalan menghampiri Evan juga Vivi membawanya menjauh dari pertengkeran orang tuanya.
Tapi sayang Vivi gak mau pergi dan tetap ingin berada disana melihat pertengkaran orang tuanya. Karin mendesah kesal akibatnya dia harus turun tangan sendiri supaya dia mau pergi dari tempat itu.
"apa kamu tidak mau melihat anak-anakmu sehat seperti kami berdua, kalo salah satu dari keduanya kenapa-napa gimana?"
"tapi Karin..." belum sempat Vivi bicara Karin sudah menyahutnya lebih dulu.
"bener apa katanya kita tidak perlu berada disini ayo kita pulang dulu" kata Evan. Tapi Vivi tetap tak berkutik
"kakak angkatku tersayang aku ingin melihat keponakanku lahir dengan sehat ok, sekarang pulanglah dan bobok manis dirumah biar tante juga papa menyusul dibelakang"
Vivi hanya bengong mematung saat mendengar ucapan Karin.
"maksudnya gimana sih Karin" tanyanya karena masih bingung.
Karin memegang kedua pipi Vivi sambil tersenyum. "adek bayi yang dibawa papa itu adalah aku cecan masa kamu sudah lupa, nanti aku kirimin foto kita berdua waktu dipanti asuhan sebelum papa membawaku keJepang" ucapnya lalu memeluknya dengan erat didepan suaminya juga Erick.
"benarkah!!" katanya seolah tak percaya.
__ADS_1
"iya cecan terima kasih ya kamu mau menemaniku dipanti dan tidak membenciku kalo tidak ada kamu dan papa entah apa yang terjadi padaku saat ini, nah sekarang kamu harus pulang rawat mereka supaya lahir dengan sehat kalo ada waktu mainlah kerumah"
Vivi menangis sesengukan saat ini tidak tahu lagi harus gimana bayi kecil yang dia tunggu dari dulu kini berdiri tepat didepan mata.
"akhirnya kita bisa bertemu, aku sangat kangen sekali padamu kamu sudah tumbuh dewasa ya bahkan lebih tinggi dariku" ucapnya sambil menangis.
"iya dong hebat pula hehehe" ucapnya dengan sombong.
"Erchan kamu antar mereka pulang pastikan masuk rumah" katanya lagi sama Erick.
"ko jadi main perintah"
"diem cepat laksanakan saja"
"dasar, bayarannya apa setelah ini"
"nanti kamu juga akan tahu sekarang pergilah"
Mereka bertiga berjalan keluar untuk pulang disela-sela langkahnya Vivi sesekali melihat Karin yang masih berdiri melihatnya berjalan hingga menghilang dibalik pintu.
Setelah melihat mereka bertiga sudah tak terlihat barulah Karin mengerakan kepalanya melihat pertengkaran dua orang yang sudah tak lagi muda.
Ditariknya udara lewat hidung dalam-dalam lalu iya keluarkan lewat mulut dengan kasar, setelah itu dia melipat kedua tangannya didada.
"dasar anak kecil gak mau kalah sama ego sendiri ko bisa ya rumah tangga awet begini ckckck" gerutunya.
"Vivi sakit perut dan dibawa keruang IGD gak mau lihatkah!" katanya sambil menatap fokus kearah keduanya. Seketika keduanya langsung menghentikan petengkaran dan melihat kearah Karin secara kompak.
"APA!!!" ucapnya serempak.
__ADS_1
*****