THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
DASAR REMPONG


__ADS_3

Dia berbaring dan menarik badan Karin membuatnya tidur diatas dadanya mengutarakan keinginannya.


"Bi, Romo bunda ingin menemui keluargamu yang berada diJepang"


"aku masih muda lagipula aku ingin mengulas masa lalu rasanya ada sesuatu yang mengganjal"


"kita bisa mencarinya setelah menikah dan soal anak itu terserah kamu saja mau cepat-cepat punya momongan atau tidak"


"terserah kamu saja, aku mau tidur lagi" balas Karin setelah diam cukup lama memikirkan pinangan Erick.


"terima kasih" kata Erick mengecup dahi pacarnya dan ikut tertidur.


Erick menelfon orang tuanya bahwa dia sudah sehat dirawat oleh Karin, dia meminta agar orang tuanya menemui kakek nenek Karin yang berada diJepang mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Karin istrinya, walau kesal dengan kelakuan anak bungsunya mereka berdua tetap memenuhi keinginannya.


"kenapa cepat sekali kita menikah baru juga beberapa hari lalu kita bertukar cincin" teriak Karin yang terkejut mendengar bahwa pernikahannya akan diadakan sebulan dari sekarang.


"ingat pesan orang tua jangan pacaran terlalu lama nanti yang ketiga setan" Erick menanggapinya dengan santai menunjuk hidung Karin.


"aku tidak mau, aku minta diundur kalo tidak kamu menikah sendiri sana" Karin mulai marah dengan calon suaminya yang seenaknya sendiri memutuskan sesuatu.


"nah begini nih, kaum hawa kalo diajak menikah sok jual mahal kalo gak dinikahin katanya cuma buat mainan prianya disalahin gak bisa buktiin cintanya, dasar rempong" cerocos Erick membuat telinga Karin membesar melirik kearahnya dengan cemberut.


"entah kenapa ada yang sedang menyindir seseorang ya"


"lha emang kenyataan begitu apalagi tuh pacaran lama-lama dan kesetanan hamil duluan yang salah juga sipria dasar nasip para pria selalu salah dimata wanita"


Karin melotot tajam kearah Erick membuatnya cuma tertawa ketir dan mesam mesem menaik turunkan alisnya.


"gawat juga kalo dia sampai marah" batin Erick didepan tunangannya.


"ok ok mau kamu gimana aku yerah deh tapi ya jangan lama-lama"


"aku ingin menyelesaikan masalahku dulu"


"hah lama dong, masalah yang mana lagi bukannya usahamu diserahkan sama Nana, Johan dan Anton ya"


"kenapa tidak kamu lihat sendiri dimejaku"


Erick berjalan mendekat kearah meja, disana banyak berkas dan buku kecil yang terbuka juga beberapa foto.


"oh masalah ini toh, kukira masalah apaan mm"


pandangan Erick tertuju kesalah satu foto dimeja yaitu sebuah foto pernikahan digereja diJepang, dia mengamati dengan seksama foto itu seolah pernah ketemu dimana bukan hanya sekali tapi berkali-kali.

__ADS_1


"sepertinya ada sesuatu difoto itu ya kamu melihatnya tak berkedip sama sekali"


"apa kamu tidak merasa pria ini mirip seseorang" Erick menunjuk wajah pria yang ada difoto itu.


"masa coba kulihat" Karin segera mengambil foto yang dipegang Erick dan melihatnya dengan teliti.


"perhatikan baik-baik wajahnya bi, aku merasa pernah bertemu dimana gitu" Erick berkata sambil memegang dagunya melihat keatas seolah berfikir.


"jadi begitu ya!" kata Erick teringat sesuatu. "pantas dia bicara seperti itu waktu itu sekarang aku mengerti" lanjutnya dalam hati lalu mendekat kearah Karin mencium kepalanya sambil tersenyum.


"ada apa? Gak tahu orang lagi pusing main cium seenaknya" ketus Karin Erick hanya tersenyum melihatnya.


"gimana pernah lihat belum orangnya" kata Erick penasaran.


"apa kamu tahu tentang pria ini?" balas Karin bertanya.


"kalo aku bilang dia ada didekatmu gimana" Erick tersenyum menggoda.


"didekatku siapa!!?" kali ini pikiran Karin penuh dengan pertanyaan tentang orang yang mirip dengan foto itu dan berada didekatnya.


Erick menaruh dagunya dipundak Karin sambil melihat foto yang dipegang olehnya.


"orang yang selalu bersamamu itu coba perhatikan baik-baik wajahnya, sayang" kata Erick.


"jangan membuat orang bingung katakan siapa orangnya"


"kamu mandi sana kita pulang yuk nanti kuberi jawabannya, sudah lama kan kita disini" kata Erick sambil mencium pelipis Karin.


Karin berjalan kekamarnya dalam diam sementara Erick menuju bagai mengeluarkan mobilnya setelah membereskan berkas-berkas diatas meja dan membawanya sekalian.


Ran Ran mendapat telfon dari temannya sekaligus orang suruhannya bahwa tangan kanan Mateo sudah ditemukan, dia kerahkan semua anak buahnya untuk menangkapnya apapun yang terjadi.


Insiden puluhan tahun lalu masih melekat dipikiran juga hatinya dimana dia harus kehilangan kebahagiaannya, dia harus berpisah dengan istri juga calon anaknya yang masih dalam kandungan, dia sendiri ditangkap dan dibawa ketimur tengah dipaksa mengembangkan sebuah obat mematikan dari berbagai virus.


Karena bantuan seorang teman senasib disana dia berhasil melarikan diri dan menemukan anaknya dalam keadaan sudah remaja, kali ini dia berjanji tak akan membiarkan anaknya turun tangan dan mengorbankan kebahagiaannya demi berurusan dengan tangan kanan orang itu.


Sepanjang perjalanan pulang Karin diam memandang keluar dia kesal sama orang disampingnya yang tak kunjung memberi Jawaban.


Sedangkan Erick yang tidak peka dengan keadaan kekasihnya senyum-senyum sendiri sambil menyetir.


Karin keluar mobil dalam keadaan cemberut dan langsung menuju kamarnya tanpa mempedulikan Erick.


"dia kenapa sih diam Mulu dari tadi" gerutu Erick sambil mengambil berkas yang berada dikursi belakang.

__ADS_1


"sepertinya ada yang baru jadian nih" ejek Ersya yang melihat kedatangan keduanya.


"ah kalian para cewek bikin sakit kepala gak ada hujan gak angin muka ditekuk Mulu haiis" kesal Erick menyahut ucapan Ersya.


"memang apa yang kau sembunyikan"


"tidak ada cuma bilang tahu apa yang dia cari saja"


"kalo kamu mengetahui sesuatu lebih baik cepat beri tahu dia sebelum terlambat, ingat sekali saja ada yang tidak tersampaikan maka bisa jadi bencana" sahut Erick yang baru tiba.


"begitu ya baiklah aku mengerti"


Erick berjalan menuju kamar Karin berniat menyampaikan sesuatu apa yang dia ketahui.


Brak...


Dia langsung membuka pintu begitu saja, matanya melotot begitu melihat Karin masih ganti baju.


"wow surga dunia tak akan kemana"


Karin yang masih kesal meraih sepatu yang sudah dilepasnya dan melemparnya kearah Erick, alhasil sepatu kulit nan mahal itu tapat mengenai kepal Erick.


"aduh sakit Bi" kata Erick mengelus kepalanya Karin hanya diam dengan muka cemberutnya. Erick berjalan mendekat dan memeluk karin sambil tersenyum tanpa dosa.


"pulanglah aku capek" ketus Karin.


"begitu, kamu tidak ingin tahu tentang orang itu" balas Erick menggoda bermain dibibir Karin.


"masa sih bi kamu beneran tidak tahu, dia sama kaya Johan selalu bersamamu setiap waktu, aku saja iri dengannya"


Mendengar penuturan Erick Karin tersadar oleh seseorang, dia menggantikan Johan disisinya melindunginya setiap watu menjaganya siang dan malam.


"jangan-jangan yang kau maksud...." kata Karin tersadar sekaligus tak percaya.


Erick hanya mengangguk mengiyakan, Karin menangis kali ini mengetahui kenyataannya dia bener-bener tidak menyangka orang yang dicari berada disisinya dan melindunginya setiap hari memastikan keadaannya tetap aman dan selamat.


"ya Bi dia adalah Ran Ran orang yang kau cari selama ini, papamu!"


"papaku!!"


*****


Alhamdulillah novel ini sudah sampai babak ini terima kasih sudah menantikannya dan menjadikan novel ini novel faforit anda, terima kasih pula telah memberi dukungan dan semangat terhadap authornya, dan Alhamdulillah semua komennya tidak bikin kesel malah bikin semangat, nantikan episod selanjutnya dan jangan lupa dukungannya.🤗🥰🤩😘😘

__ADS_1


__ADS_2