
Erick mempercepat langkah kakinya saat menuju kamar Karin, dia menyeselesaikan perkerjaannya begitu cepat setelah mendapat kabar dari Nana.
Setelah masuk dia langsung duduk disamping Karin segera menggenggam tangannya mengelus punggung tangan itu dengan lembut.
Tangan Karin bergerak membuat Erick begitu senang, tangannya digenggam balik begitu erat sama dia. Tiba-tiba air matanya menetes kesamping membuat Erick begitu ikut bersedih.
"apa yang membuatmu bersedih Chibi" gumamnya Erick lirih.
"bagaimana keadaannya Na?" tanyanya tanpa melihat kearah Nana.
"keadaannya sudah membaik tuan, mungkin tuan sedang bermimpi saja" jawab Nana beralasan sambil tersenyum.
Erick hanya diam pandangannya tetap lurus kedepan sesekali tangannya membelai pipi Karin mengusap bekas mutiara yang keluar disana.
Yang lain hanya diam dalam hati mereka berharap Karin segera membuka matanya.
"kamu mimpi apa sampai membuatmu menangis seperti ini Chibi!!" ucapnya dengan sendu tetap menggegam erat tangannya.
Karin membuka matanya. Dilihatnya langit-langit kamar yang tak asing baginya, lalu dia menggerakan kepalanya dan melihat seorang pria yang tak asing baginnya, berada tepat didepannya sedang menangis menanti kesadarannya.
Dirasakan tangannya digenggam erat oleh seorang pria yang sangat dia kenal, bahkan orang itu membuatnya tertarik sampai saat ini dia adalah Erick Adiputra sekretaris tuan Evan.
Erick begitu senang sampai gak terasa buliran cristal bening melewati pipinya. Begitu pula dengan semua orang yang ada disana, kecuali sang kakak yang melihatnya didepan monitor dikamarnya.
Karin berlahan mendudukan dirinya bersandar kebelakang.
"aku kenapa?" ucapnya lirih
"PLAK!!!"
Tamparan Erick melayang kearah pipi Karin hingga membekas, membuat semua orang langsung terpaku dengan apa yang dilakukannya. Karin hanya diam tidak tahu menahu apa yang terjadi kini dalam benaknya dipenuhi tanda tanya kenapa dirinya berada dirumah sakit saat ini.
"dasar bangsat apa yang telah kau lakukan" teriak Billar yang tak terima Erick menampar Karin begitu saja.
__ADS_1
"aku gak terima kau menamparnya seperti itu, dia baru sadar sudah ditampar tanpa sebab" teriak Ersya menyahut, sembari mengepalkan tangannya hendak membalas kelakukan Erick tapi Johan segera menahannya seolah mengerti.
"hentikan mas Jo aku ingin sekali menamparnya juga" teriaknya lagi.
"lebih baik kita keluar saja Sya, ayo!"Johan segera menggandeng tangan kekasihnya keluar, dan memberi kode sama Nana supaya membawa Billar keluar juga.
Nana yang mengerti langsung mengangguk lalu segera meraih baju Billar dari belakang dan menyeretnya keluar.
"tunggu Na kau mau membawaku kemana biarkan aku menonjoknya dulu" teriak Billar tapi tak dihiraukan sama Nana.
Kini dikamar hanya ada mereka berdua saja, suasana kamar berubah jadi hening tanpa keramaian seperti tadi. Karin menyentuh pipinya yang merah habis ditampar rasa panas juga perih masih bisa dia rasakan.
Erick mencengkram baju Karin menariknya mendekat kearahnya, rasa kesal, marah, sedih sekaligus senang bercampur jadi satu ingin sekali dia berteriak sekencang-kencangnya saat ini.
Tatapan keduanya beradu cukup lama tak mempedulikan apa yang ada disekitarnya. "kalo kamu pernah merasakan kehilangan jangan membuat orang lain merasakannya juga!!" ucapnya dengan tegas.
Mendengar hal itu Karin langsung menundukan wajahnya seolah menyadari kesalahannya saat ini. "maafkan aku!!" ucapnya lirih tapi masih bisa didengar Erick dengan jelas.
Erick memeluk badan Karin begitu saja tanpa seizin tuannya, Karin hanya bengong melihat kelakuan Erick yang spontan dan tidak menolak juga. Ada rasa senang juga bahagia yang dirasakannya saat ini perasaan yang begitu nyaman saat berada disisinya.
Karin tersenyum senang hanya anggukan saja yang dia berikan. Sang kakak dengan santainya menyaksikan drakor secara live dimonitornya dengan tersenyum.
"tapi aku gak terima kau menamparku, lihat nih pipiku jadi merah begini" ucap Karin membelai pipinya.
"emang kenapa gak apa kan sekali-kali bikin stempel merah dipipi" katanya mencibir.
"enak saja pokoknya aku gak terima" Karin marah-marah membuat Erick langsung tersenyum.
"kalo gitu cium saja deh biar cepat sembuh, cup" sebuah ciuman langsung mendarat kepipinya.
"kau pikir bisa sembuh dengan dicium begitu"
"masih untung dapat ciuman gratis seorang sekretaris tampan"
__ADS_1
"hih narsis, emang berapa harga ciumanmu"
"tidak akan kujual wlekk" Karin langsung cemberut mendengarnya.
"kenapa kau kaya kecewa begitu" Erick menempelkan beberapa es batu yang ditaruh diatas kain ke pipi Karin.
"aku akan lebih kecewa lagi kalo kamu memberikannya sama orang lain selain aku" Karin melirik kearah Erick seakan serius dengan apa yang dia ucapkan.
"ngarep banget sih"
"Erchan!!"
Erick mendesah kesal. "iya iya, yesel aku cium kamu tadi kalo begini jadinya, yang ini sudah berapa orang yang cicipi" Erick menunjuk bibir Karin dengam jari telunjuknya.
"gak tahu, aku lupa" Karin menjawab sambil memalingkan muka.
"kalo gitu jangan lakukan lagi mulai sekarang aku gak suka"
"cium dulu disini baru aku akan lakukan" Karin menunjuk bibir sendiri menggoda Erick.
"baiklah setelah aku menamparmu empat kali baru kita bisa melakukannya ya" goda Erick sambil tersenyum.
"tak sudi, enak sesaat sakitnya lama"
Kruyuk kruuuyuuuk
"sepertinya perutmu butuh asupan juga ya sampai memberi kode begitu"
"asupan itu sangat diperlukan untuk menambah energi dalam segala hal" Karin menahan malunya saat bicara. Erick berjalan keluar menyuruh salah satu orang diluar untuk membeli makanan.
Beberapa menit berlalu makanan yang dipesan datang, dua mangkok bubur ayam masih panas.
"ayo buka mulutmu ha" Erick menyendok penuh bubur ayam dan bersiap memasukan kemulut Karin.
__ADS_1
"kau sengaja ya" ucapnya dengan cemberut, Erick hanya meringis menunjukan giginya yang putih. Dan seperti biasa mereka berdua makan bareng dalam satu tempat juga sendok yang bergantian.
*****