
Karena tak mau menunggu lagi akhirnya dia keluar menggunakan motor suport miliknya sendiri mencari Karin, dia menyalahkan pelacak yang ada dihpnya untuk mencari dimana Karin berada.
Karin mengamati orang yang ditangkapnya satu persatu dan mengintrogasinya sendiri.
"kalo dari Jepang aku bisa tahu mereka diutus siapa tapi yang satunya hmmm" batin Karin memandang orang dari timur tengah itu.
"siapa yang mengutus kalian?" tanyanya.
"tu, tuan Mateo!!!" ucapnya.
"Mateo!!!" katanya terkejut.
"apa ada yang tahu tentang Mateo" tanya Karin terhadap para pengawal tuan Fay.
"dia seorang pengusaha saingan tuan besar Fay" jawab salah satu pengawal tuan Fay.
"trus apa hubungannya denganku, kenapa dia mau mem.. bu.. nuh...ku" dibalik ucapannya dia teringat sesuatu lalu diam sesaat.
"ada apa?" tanya Johan.
"hmmm Mateo ko rasanya aku pernah dengar ya, kayak gak asing gitu dimana ya" jawabnya sambil melihat kebawah dan memegang dagunya.
"jangan-jangan salah satu dari musuhmu Bi" sahut salah satu kucing Karin yang berambut gondrong.
"mungkin juga!! Apa orang bernama Mateo itu musuh pak tua itu juga" tanyanya lagi.
"iya tuan!!" jawabnya singkat.
"aneh Mateo saingan bisnis pak tua trus dia mengincar nyawaku, kalo urusannya sama pak tua apa hubungannya denganku? Kenal juga nggak! Mateo, Mateo ya!!!" batin Karin sambil berjalan entah kemana.
"punggungmu gak diobati" tanya Johan.
"nanti saja dirumah oh iya mana hpku" kata Karin dan orang suruan Johan yang mengambil hpnya pun langsung memberikannya.
Belum sampai hp berada ditangan Karin sudah terdengar nada dering yang nyaring, begitu tahu siapa yang menelfn dia langsung mengangkatnya begitu saja.
"hallo..." katanya.
"kau dimana? Ditelf daritadi napa gak angkat" teriak orang yang diseberang telf yang tak lain adalah Erick membuat Karin harus menjauhkan hpnya dari telinga.
"aku di...."Karin celingukan bingung mau jawab apa karena tak tahu tempatnya berada.
"aku kesasar gak tahu dimana ini" ucapnya beralasan.
"ya sudah kirim lokasinya aku jemput sekarang"
__ADS_1
"gawat harus turun nih" batinnya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"oi dengar tidak"
"ya!!" setelah itu mematikan telfnya secara sepihak.
"aku tinggal dulu kalian urus semuanya" setelah berbicara Karin langsung berlari kebawah mencari tempat yang aman supaya Erick tidak mengetahui kalo dirinya habis berantem.
Sesampainya dilantai dasar gedung dia segera mengirim lokasi dimana dirinya berada sambil jalan santai keluar.
"sepatu kakak sangat kotor mau dibersihin kak" kata seorang anak kecil yang menawarkan jasanya, anak itu membawa kotak semir sepatu sekaligus dagangan lainnya yang bisa mengenyangkan perut.
Seorang anak kecil kurang lebih sembilan tahun itu menjadi tukang semir sepatu juga menjual makan khas daerahnya, Karin diam memandang anak kecil didepannya lalu dia tersenyum ramah.
"boleh deh biar tambah kinclong" katanya sambil tersenyum membahana.
"siap kak" balasnya juga tersenyum.
"siniin tuh dagangannya sekalian laper habis olahraga" Karin menunjuk kranjang yang dibawa anak itu.
"iya kak" katanya sopan dan tersenyum.
Tak berselang berapa lama Erick datang sesuai lokasi yang dikirim Karin dengan motor sportnya sendiri.
Sebuah motor mulai mendekat dan ngerem mendadak didekat Karin membuatnya melongo dengan mulut yang penuh makanan.
"haha ahat ceh ampe aper nih (lama amat sih sampe laper nih)" ucapnya dengan mulut yang masih penuh.
"ini sudah ngebut lagian kamu lama amat angkat telfnya"
"gak usah banyak tanya makan dulu nih" Karin langsung memasukan makanan sisanya kemulut Erick membuatnya diam seketika.
"kasar amat sih"
"apa, mau yang lebih kasar lagi"
"tidak deh makasih"
"oh iya aku gak bawa uang, kamu bawa uang gak" mendengar itu sianak tadi menelan salivanya begitu berat dan kaku.
"kenapa gak kau telf Johan saja siapa tahu dia bawa uang atau ATM"
"jadi sekretaris kere juga ternyata"
"apa ngajak berantem ya, ok aku bayarin makanannya" kata Erick yang marah karena omongan Karin.
__ADS_1
"sini dompetnya" Karin menyodorkan telapak tangannya didepan Erick. Tanpa banyak bicara dia memberikan dompetnya seketika.
Tanpa ragu Karin mengambil semua isinya terlihat beberapa lembar uang merah yang dia keluarkan lalu mengembalikan kembali dompetnya.
"hiks uangku ludes!!" batinnya, menangis sambil membolik balik dompetnya berkali-kali.
Sepatu sudah dibersihkan makanan dikranjang juga sudah habis tanpa sisa, Karin mengelus perutnya yang sudah kenyang.
"ini kak sudah bersih sudah kinclong" kata anak itu menyodorkan sepatu yang dibersihkan.
"ok makasih, Erchan kamu gak semir sepatu juga"
"gak, sepatuku masih bersih nih, yang penting makan sudah laper dari tadi nyari kamu gak ketemu"
"kamu mencariku kenapa?"
"ya nyari saja kupikir kamu marah soal tadi"
"oh soal tadi kenapa aku harus marah bukannya kau bilang hanya menganggap dia saudara ya, dimananya aku harus marah"
"benerkah kamu gak marah" kata Erick, Karin hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara.
"apa fikiranku saja yang berlebihan ya, kufikir dia marah dan menjauhiku" batin Erick
Karin memberikan uang berwarna merah sebanyak sepuluh lembar sama anak kecil tadi.
"ini kebanyakan kak nih aku kembalikan" anak itu cuma mengambil satu lembar saja dan sisanya dikembalikan ke Karin.
Karin hanya tersenyum melihat kearah anak kecil didepannya. "gakpapa buat kamu semuanya lagipula kuenya ludes kami makan semua lihat tuh" ucap Karin menunjuk kranjang kosong didekatnya.
"ma, makasih kak saya permisi dulu" balas anak tadi dengan sumringah lalu berjalan menjauh.
"Erchan ayo pulang aku capek"
"emang kamu habis ngapain?"
"habis jalan sambil lihat hp makanya aku nyasar sampai sini saking melotot mulu kelayar hp"
"tadinya aku mau mengajakmu jala-jalan lihat suasana Jogja eh tahunya malah capek duluan, ya sudahlah ayo naik"
"kapan-kapan kita jalan-jalan Erchan"
"hhmmmm"
*****
__ADS_1