
Erick lega ada yang mau membantu dia untuk kabur dari rumah walau penuh drama dengan Felix sang supir. Setelah berhasil keluar dari rumah bukannya senang Erick justru uring-uringan dan selalu menendang kursi yang diduduki Felix. Bagaimana tidak itu semua karena Felix melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil bernyanyi ria karena dia menuju rumah Fani membuat Erick cemberut, kesal, dan marah sekaligus ngomel-ngomel sepanjang perjalanan.
"katakan padaku kenapa kamu kerumah Fani?" tanya Erick dengan nada kesalnya.
"jangan marah begitu nanti cepat tua bos" jawabnya santai membuat Erick tambah marah.
Saking kesalnya Erick menendang kursi yang diduduki Felix sekali lagi. Felix sendiri hanya terkekeh melihat Erick yang marah-marah dibelakang.
Dibangsal rumah Erick. Seorang pengawal menghadap romo juga bunda diruangan keluarga perihal Erick yang kabur dari rumah.
"ada apa?" tanya sang romo sambil membaca koran. Bunda duduk santai minum teh didekat suaminya.
"maaf tuan besar, tuan muda kabur dari kamarnya" jawab sang pengawal seraya menunduk hormat.
Mendengar itu romo melirik istrinya seolah meminta jawaban darinya, karena sesungguhnya romo tak berniat mengerjai anaknya kalo bukan desakan dari sang istri, bunda yang dipandang suaminya hanya melempar senyum saja. Romo mendesah pelan lalu menggerakan tangannya supaya pengawal didepannya keluar.
"mau bunda gimana sekarang?" tanyanya sama sang istri.
Bunda mendekat lalu bersandar didada bidang suaminya sambil memainkan jari telunjuknya manari-manari disana. "emm gimana ya bunda sendiri juga bingung mau gimana" katanya dengan manja. "romo tutup semua arah menuju keJakarta saja sekalian blokir sementara kartunya" katanya lagi.
Romo mengangkat satu alisnya. "sampai segitunya mengerjai anak sendiri" ucapnya.
"tapi romo suka melihat putra seperti itu kan" romo hanya melirik istrinya saja.
"jujur bun Karin terlalu pintar membuat dirinya menjadi pria, aku sendiri juga gak sadar kalo bukan karena ucapan kakaknya waktu itu, dari ujung rambut sampai kaki, nada bicara, cara berjalan, sikapnya, pantas semua orang gak ada yang tahu apalagi mereka kembar" tutur romo.
"waktu itu bunda sampai takut kalo putra bener-bener berubah seperti itu gak bisa bayangkan apa jadinya, yaaah mungkin ini memang jodohnya"
"hhmmm"
Rumah Fani. Mereka berdua yang baru sampai dan langsung memakirkan mobilnya dipelantaran rumah, dengan hati riang gembira Felix turun dari mobil sedangkan Erick memandang tak suka dan marah dari belakang. Dia mengepalkan kedua tangannya lalu mengarahkan tinjunya kearah Felix.
"ingin sekali aku menghajarmu saat ini" gerutunya sambil terus berjalan dan menggerakan tangannya seperti seorang petinju.
Felix langsung mengetuk pintu rumah begitu tiba didaun pintu.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu mulai diketuk sesaat kemudian terdengar langkah kaki mulai mendekat. Seorang pelayan membukakan pintu untuk tamunya seraya dengan sopannya dia mulai buka suara.
"mau cari siapa tuan?" tanyanya.
"aku temannya nona Fani dari Jakarta apa dia ada?" jawab Felix melempar senyum merekahnya.
"nona ada, bentar saya panggilkan dulu" jawab sipelayan.
Seorang pria paruh baya berjalan melewati ruang tamu dan melihat pelayannya membukakan pintu untuk tamu, karena penasaran dia berjalan keruang tamu melihat siapa yang bertamu kerumahnya.
"siapa yang bertamu bi?" tanyanya dari kejauhan.
"hallo om saya pacarnya Fani dari Jakarta" sahut Felix.
"tadi teman sekarang pacar cepet banget berubahnya" batin Erick memandang tak suka kearah Felix.
"pacar! Kenapa Fani gak cerita kalo dia punya pacar diJakarta"
Tanpa aba-aba Felix berjalan mendekati ayah Fani dan langsung menjabat tangannya.
"Fani bilang ingin pergi keJakarta mengelilingi monas makanya aku jemput om, sebagai tanda buktinya aku bawa pangeran babi nih" Felix yerocos tanpa henti memperkenalkan Erick. Ayah Fani hanya melongo saja sambil sedikit mengangguk.
Tanpa aba-aba juga Erick langsung memukul keras kepala Felix didepan ayah Fani.
"pangeran babi palamu hah, kalo mau bawa pergi anak orang kenapa bawa-bawa aku segala hah" teriaknya sambil memiting Felix dan mendaratkan pukulan dikepala berkali-kali.
Ayah Fani hanya tersenyum tanpa menaruh curiga sedikitpun karena ada Erick putra sahabat sekaligus rekan bisnisnya. "bi panggilkan Fani" titahnya sama sang pelayan.
"baik tuan" jawab sang pelayan lalu berjalan menuju kamar nonanya.
Felix senang mendengarnya dia lalu mengambil bunga hiasan diruang tamu yang berada tak jauh disampingnya dan memberikannya sama ayah Fani.
"terima kasih om ini bunga untuk om" katanya sambil menyerahkan bunga dengan senyum yang merekah.
Ayah Fani meraih bunganya lalu dibuatnya bunga itu memukul kepala Felix.
"ini bunga hiasan dirumahku" katanya dengan cemberut.
__ADS_1
"hehehe nanti saya bawakan yang asli om kalo om suka bunga" gerutu Felix.
"kau pikir aku wanita apa" balasnya lalu berjalan kebelakang tanpa menyuruh mereka duduk.
"aneh sejak kapan Felix tahu rumahnya Fani? Lalu ucapannya tadi apa artinya" batin Erick memandang serius kearah Felix.
"sejak kapan kamu menyukai Fani?" tanya Erick memasang wajah seriusnya.
"gak tahu" jawabnya santai.
"kalo gak tahu kenapa mendekati Fani?"
"itu semua demi baby aku tidak suka dia berada ditengah-tengah kalian dan membuat masalah"
"baby!! tunggu jangan-jangan dia sama dengan Han" batin Erick menyadari sesuatu.
"kamu jangan-jangan sama dengan Han anak buah Karin"
"haiss kenapa baru sadar sekarang! Asal kau tahu saja sebagian pengawal dirumah kamu itu orang-orang dari MIG Johan yang mengatur semuanya"
"APA!! Jadi pengawal yang didepan kamar juga" kaget Erick sadar sama apa yang dia katakan sendiri.
"Johan memberi peritah supaya mematuhi tuan rumah agar tidak menimbulkan kecurigaan sekaligus tetap waspada" Felix diam sesaat lalu melanjutkan ucapannya.
"daripada begitu kenapa kau tidak memikirkan perkataan baby sama orang tuamu" katanya sambil bersandar dipintu.
"maksudnya gimana aku gak ngerti"
"punya otak itu dibuat mikir perkataan romomu untuk intropeksi diri, aku mendengar semuanya diruang kerja mereka berdua membahas soal melenceng dari keyakinan bukan hubungan kalian" jelas Felix membuat Erick semakin tak mengerti dan bingung.
"kamu kalo ngomong jangan bertele-tele"
Felix mendesah kesal. "apa kau masih tak mengerti arti dari melenceng dari keyakinan seseorang"
"melenceng! Keyakinan!!!" batin Erick.
"apa yang kau maksud soal AGAMA!!!"
__ADS_1
"sadar juga kau!!"
*****