THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
NOSTALGIA


__ADS_3

"apa yang kau maksud soal AGAMA!!!"


"sadar juga kau!!"


"sebagai seorang anak pemimpin harusnya kau mengerti setiap ucapan yang keluar dari keduanya. Mereka berdua seorang pemimpin besar apa yang diucapkan pun harus bisa dimengerti apalagi baby yang seorang mafia seluruh anak buahnya harus mengerti apa yang diucapkan sang bos kalo tidak yawa taruhannya"


"bener juga yang Felix katakan kenapa aku gak kepikiran" batin Erick yang mulai sadar.


"satu hal lagi"


"apa itu"


"baby tidak pernah sekalipun menyebut kata pria dalam dirinya"


Erick terkejut dengan apa yang Felix ucapkan, lalu dia memikirkan awal ketemu dia sama Karin hingga sekarang. Menyaring semua kata yang diucapkan Karin.


Fani yang dipanggil sang pelayan berlahan menuruni tangga menuju ruang tamu. Dia langsung terkejut saat mengetahui Erick yang datang bertamu, dengan segera dia berlari memeluk Erick yang masih berdiri didepan pintu sambil ngobrol bersama Felix.


"mas Erick itu kamu" teriaknya spontan memeluk Erick begitu saja didepan Felix.


Felix melotot melihatnya hatinya panas tak terima Fani memeluk badan Erick begitu saja.


"ehem" Felix berdehem membuat keduanya menoleh melihatnya.


"dia ingin ketemu kamu Fan" kata Erick.


"mau apa kamu kesini?" katanya dengan nada gak suka.


"apaan aku kesini mau main gak boleh apa" ketus Felix.


"aku gak mau melihatmu pergi kau dari rumahku"


Erick melongo melihatnya dia tak menyangka kalo Felix supirnya sudah akrab sama Fani.


"ok aku akan pergi, ayo bos kita berangkat sekarang juga" Felix meraih jaket Erick dan menariknya.


"mas Erick mau diajak kemana?" Fani menahan lengan Erick supaya gak ikut pergi.


"kamu gak perlu tahu"


"tunggu..." belum sempat Fani melanjutkan ucapannya ayahnya sudah memotongnya dari belakang.

__ADS_1


"kenapa ribut-ribut Fan? Kamu gak menyuruh pacarmu masuk"


"APA!!? PACAR!!" teriak Fani karena terkejut.


"lho bukannya dia pacarmu dari Jakarta ya dan mau menjemputmu" jelas sang ayah.


"HAH!!"


Negara timur tengah disebuah rumah mewah yang begitu banyak pengawal penjagaan, seorang pria tua sedang berbicara serius menyusun strategi bagaimana menghadapi Karin yang pintar itu.


"bagaimana menurutmu?" tanya sang pemimpin bernama Mateo dia tak akan pernah berhenti sebelum balas dendamnya terbalas mengingat anaknya dibunuh secara sadis diParis.


"tuan Mahesa menutup seluruh jalur menuju keJakarta karena putranya kabur dari rumah, kita manfaatkan itu kita akan menyuruh beberapa orang menyamar dan menjaga perbatasan" jawabnya pria didepannya sambil membuka sebuah peta diatas meja.


"lanjutkan rencanamu" kata Mateo.


"kita arahkan ketebing ini lalu jatuhkan mobilnya, para pemegang bazoka akan menembak setelah mobil jatuh dari sini, sini juga disini dan menggempurnya habis-habisan dengan bazoka, sekuat apapun mobil yang dipakai jika digempur terus menerus pasti bakal hancur juga walau dia tidak mati paling nggak dia masuk rumah sakit kan"


"sama saja bodoh dia gak mati"


"dengarkan dulu tuan, kita lanjutkan rencana B yaitu merusak sarafnya membuat Karin menjadi gila dengan begitu MIG yang jaya itu akan hancur berlahan karena pemimpinnya sudah gila"


Meteo langsung bertepuk tangan dengan rencana pria didepannya itu dan tertawa menggelegar memenuhi ruangan.


"hahahahaha bagus bagus kau memang pintar, walau dia tidak mati asal menjadi gila saja sudah menguntungkan bagi kita hahahahaha" katanya menggelegar diseluruh ruangan.


Dihotel mewah Jogja Karin saat ini sedang berdiri tegak diatap hotel, seperti biasa dia berdiri ditepi memandang kebawah dalam diam, entah kenapa dia begitu suka dengan tindakannya itu seolah ada nostalgia tersendiri yang dia lupakan tanpa mempedulikan yawanya.


Dia seperti terhipnotis dan terpaku disana, dia tak menikmati angin spoi yang menerpanya dia juga tak menikmati langit cerah diatasnya, pemandangan itu membuat orang bergidik ngeri melihatnya.


Drrrttt dddrrrrrtttt


Hp Johan berbunyi dia segera melihat siapa yang menelfon dan segera mengangkatnnya saat tahu telfn itu dari Ken.


"ada apa?" tanyanya.


"cepat naik keatap gedung, baby sudah berdiri tegak ditepi kaya mau bunuh diri tuh" jelasnya.


Mendengar itu Johan segera menutup telfnya secara sepihak, dia segera berlari menaiki tangga menuju lantai paling atas sendiri. Kiran juga Sota yang mendengarnya samar-samar juga ikut berlari menyusul keatas.


Johan sudah sampai dalam keadaan tersenggal-senggal karena habis berlari menaiki tangga. Karin masih berdiri tegak memandang kebawah tak ada niatan untuk bunuh diri dia hanya suka saja berdiri disana.

__ADS_1


"kau takut aku terjun Jo" katanya membuka suara.


"bisakah kamu tak membuatku jantungan sayang" balasnya sambil berjalan mendekat.


"manis sekali kata-katamu Ersya bisa cemburu mendengarnya"


"dia tak akan cemburu hanya karena kata-kata seperti itu"


"aku wanita, setiap wanita akan merasa cemburu dan diduakan jika kekasihnya memanggil sayang untuk wanita lain perasaan itu akan terus ada sampai kapanpun, walau mulut berkata tidak tapi hati tak bisa dibohongi"


"baiklah aku akan ganti bicaranya sekarang turun, tuan Aoi bisa kawatir dengan tindakanmu ini"


"Jo, apa kau tahu kenapa aku sangat suka seperti ini"


Johan tersontak kaget mendengarnya, karena sesungguhnya dia tahu segalanya tentang Karin.


Kini Johan berdiri disamping Karin menggenggam tangannya. "bagaimana aku bisa tahu kalo kamu tidak cerita" katanya dengan kawatir.


Karin tersenyum kecil. "aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku sangat senang berdiri ditepi seperti ini? Entah kenapa seperti ada nostalgia saat aku melakukannya" katanya.


Mendengar itu Johan hanya menunduk, raut wajahnya begitu sedih, dia tak mampu mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi karena itu berhubungan waktu pertama dia ketemu sama Karin.


"kenapa kamu diam Jo?" tanyanya membuat Johan tersentak.


"tidak ada sekarang ayo turun"


"litle apa kamu ingin meninggalkan kami semua" sahut sang kakak yang baru sampai membuat keduanya menoleh bersamaan.


"siapa yang meninggalkan siapa" mendengar itu Kiran hanya diam.


"kau salah paham aku tak bermaksud seperti itu" Kiran berjalan mendekat.


"aku tahu tapi pintu yang sudah kau buka memperlihatkan dalamnya dan itu tak bisa dipungkiri, kau membuatku sakit hati karena itu"


"jangan seperti anak kecil baby" sahut Johan berbisik, Karin hanya meliriknya saja.


"keputusan ada ditanganmu dan kakak tak pernah memaksa"


"kalian semua seorang pembohong!!"


*****

__ADS_1


Dukung karya author dengan memberikan like dan komen agar tetep semangat๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2