
Brak...
Suara gebrakan yang begitu keras membuat Romo mengeryitkan dahi melihat adiknya sedang marah didepannya. Mira mengajak Rachel ayah Erick untuk bicara berdua tanpa kakak ipar tentang hubungan keponakannya.
"bagaimana kau bisa memberi restu pada anakmu bukankah kau tahu siapa yang berada disampingnya" kata Carline dengan nada kesal.
"kami tahu dari dulu tentang dia!" balas Romo santai menanggapi adiknya.
"apa!! kau tidak memikirkan resiko apa yang terjadi sama putramu"
"Mir, jika kamu takut beresiko saat mencintai seseorang lebih baik tidak usah mencintainya sejak awal bukankah begitu, Karin sudah memikirkan bahwa putra adalah kelemahannya dia memikirkan kemungkinan terburuk dari hubungannya, jika tidak, mobil yang dia pakai tidak mungkin diganti dengan mobil khusus dan juga penjaga yang ada disekitarnya" tutur Romo menjelaskan.
Romo memang sudah tahu jika Erick ada yang menjaga dan mobil yang dia pakai adalah mobil yang biasa digunakan untuk orang-orang besar seperti Karin saat dia pulang kerumah waktu itu tanpa sepengetahuan Erick sendiri.
"kau ibarat melempar anakmu sendiri kedalam jurang" kesal Carline mengetahui kakaknya membela Karin daripada dirinya.
"aku tidak mau berdebat jika tidak ada urusan lagi aku pergi, oh iya jangan memanasi kakak iparmu dia baru sembuh" ancam Romo yang tahu betul bagaimana sifat adiknya itu lalu beranjak dari tempat duduknya berjalan keluar.
Carline yang masih kesal hanya berdecih tak suka melihat punggung kakaknya dibalik pintu melipat tangannya didepan dada.
Romo berjalan menuju ruangan Erick dengan hati yang kesal harus beragrumen sama adiknya, dia terkejut saat melihat Karin berdiri bersandar ditembok depan kamar Erick.
"kenapa tidak masuk?" ucap Romo setelah dekat sama Karin.
"mm itu terima kasih untuk hari ini" Karin berkata tanpa melihat kearah Romo.
"kau mendengar semuanya tapi berpura-pura tak mendengar, kita duduk dulu dan berbicara sebagai teman" Romo mengajak Karin duduk dikursi tunggu tak jauh dari kamar Erick.
"kudengar dari putra kau sedang mencari siapa orang tuamu"
"sepertinya Erchan sudah menceritakan semuanya ya, aku tumbuh dirahim pengganti aku sendiri tidak pernah tahu wajah mereka semua siapa orang tuaku sebenarnya, untuk apa mereka menginginkan aku, yang aku tahu mereka semua tiada hanya demi diriku lahir cuma itu saja maka dari itu aku mencoba mengorek masa lalu"
"sebenarnya diam-diam aku menyuruh orang untuk menyelidikimu selain kamu yang seorang mafia asal usulmu juga tidak jelas, kami mencoba bicara padanya kau tahu apa yang dia lakukan sebelum terbang kesini"
__ADS_1
Karin terkejut sama apa yang Romo katakan. "jangan-jangan kalian berdua..." lanjutnya tak percaya.
"kami bertengkar hebat sebelum dia terbang menyusulmu kesini, bahkan dia mengancam kami sebelum keluar dari rumah" Romo bercerita sambil mendongak keatas mengingat wajah anaknya yang sedang marah bahkan berwajah dingin terhadap orang tuanya sendiri.
Romo menarik nafas pelan melanjutkan perkataannya sambil mengeluarkan hp dari saku jaketnya memperlihatkan kepada karin.
"dia membuktikan ucapannya dengan cara bertukar cincin ditaman hiburan, sifatnya begitu keras saat berkata dia tak akan pernah menariknya kembali membuat kami orang tuanya harus menyerah"
Karin melihat video lamarannya disosmed yang menduduki ranking tertinggi itu.
"maafkan aku sudah mengubahnya menjadi seperti itu"
"tidak ada yang perlu dimaafkan kita sudah ngobrol terlalu lama disini bunda pasti cemas menunggu" Romo beranjak dari tempat duduk mulai berjalan kearah kamar Erick.
Karin hanya melihat punggung Romo pergi menjauh tanpa ada niatan untuk menyusul. Dia menyandarkan punggungnya kebelakang mendongak keatas seolah memikirkan sesuatu.
"seandainya aku pergi apakah ini adil" gumamnya dalam diri sendiri.
"kau pergi meninggalkannya atau pergi demi keselamatannya, tapi ingat walau dua-duanya kau lakukan tetap dia adalah titik lemahmu" sahut Ran Ran mengingatkan.
"aku ingin kau mencari tangan kanan orang itu, cari sampai ketemu" titahnya lalu berdiri berjalan kearah kamar perawatan Erick.
"jangan kawatir aku sudah bertindak" ucap Ran Ran pelan menatap Karin berjalan pelan seakan tak mampu melangkahkan kakinya.
Tiba dikamar Erick dia tidak masuk melainkan melihat Erick dari kaca pintu menatap wajah kekasihnya dari kejauhan, cukup lama dia berdiri disana dia bingung juga takut dalam mengambil tindakan saat ini.
"kenapa cuma berdiri saja?" tanya Ran Ran dari belakang.
"aku bingung untuk mengambil tindakan saat ini dan apa yang harus aku lakukan" Karin berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Erick.
"kau mencampurkan urusan pribadi sama perkerjaan, pilih salah satu dan segera selesaikan keputusan ada ditangamu kamu harus tahu posisimu" kata Ran Ran.
Karin menghela nafas panjang sebelum masuk kedalam Ran Ran menunggu diluar. Didalam dia melihat bunda sedang tidur lelap dipelukan Romo.
__ADS_1
Esoknya Romo mengajak bunda makan dikantin rumah sakit, Karin yang baru tiba dikamar menatap Erick yang terbaring lelap dia sudah menetapkan hati mengambil tindakan saat ini.
Dia membelai rambut kekasihnya menatap wajahnya lekat.
"tidurmu lelap sekali ya Erchan tidakkah kamu tahu aku rindu ocehanmu, sejak kamu mengetahui siapa jati diriku sejak saat itu pula melutmu tidak pernah berkata kasar dan sebisa mungkin memilah perkataan agar aku tidak berkecil hati" tangan Karin terus bergerak membeli rambut kekasihnya, jari telunjuknya menyusuri wajah Erick mulai dahi, hidung dan berhenti dibibir.
"kamu masih ingat awal pertemuan kita saat aku tidur dikursi belakang mobilmu karena menghindari kejaran mereka, setelah itu bertemu dikantor Evan aku membuat keisengan menggodamu waktu itu. Erchan punya banyak musuh sungguh tidak enak kemanapun kita pergi hati juga pikiran kita selalu tidak tenang, mereka seperti malaikat maut yang datang setiap waktu mengawasi kita mengambil yawa kita sewaktu waktu, karena itu aku minta maaf padamu telah menyeretmu kedalam semua ini"
Karin berhenti sejenak dia menggenggam tangan Erick, dia mencium dahi dan kedua pipinya terakhir dia mengecup bibirnya pelan menikmatinya.
"Erchan aku mencintaimu sejak pertama bertemu denganmu, maafkan aku tidak bisa bersamamu" Karin memandang wajah Erick untuk yang terakhir kalinya begitu intes dia menghela nafas sejenak.
"kita akhiri hubungan ini, selamat tinggal Erchan!!"
Dia berjalan keluar kamar Erick saat membuka pintu dia terkejut Romo juga bunda sudah berdiri didepannya.
"apa kau yakin sama keputusanmu" kata Romo Karin hanya mengangguk.
"bunda minta maaf sudah menyakitimu tanpa sadar" kata bunda memegang pipi Karin.
"tidak perlu minta maaf bun, semua orang tua pasti akan melakukan hal yang sama" kata Karin sembil tersenyum menyembunyikan kepedihannya.
"jika tidak ada yang perlu dibicarakan aku pamit pulang Romo bunda, perkerjaan sudah menumpuk dirumah"
"hmm hati-hati dijalan semoga kita bertemu lagi"
Karin hanya mengangguk lalu berjalan pergi dengan langkahnya yang lebar juga tegak tanpa melihat kebelakang lagi.
"apa ini lebih baik" kata bunda.
"tidak tahu kita lihat saja nanti" balas Romo. Mereka berdua memandang Karin pergi sampai dia menghilang dibalik tembok.
*****
__ADS_1
dukuh author dengan memberikan like & komen dukungan kalian sangat berarti lho bikin author cemungut cemungut.🥰🤗🤗