THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Tok tok tok


Baru saja bunda hendak duduk disamping suaminya sudah ada yang mengetuk pintu hingga membuat sang bunda berjalan kembali untuk membukanya.


Wajahnya terkejut saat melihat siapa yang berani mengetuk kamarnya.


"kamu Kakaknya Karin, ada apa kesini?" tanya sang bunda sama orang didepannya.


"maaf mengganggu tante boleh saya ngobrol sebentar om juga pasti ada kan didalam" ucap Kiran tanpa menunjukan senyum sedikitpun.


"eh iya ada silakan masuk" balas bunda mempersilakan.


"oh kembarannya nag Karin ya, ayo silakan duduk" balas sang romo dengan ramah.


"langsung saja om, tante saya mau bicara soal adik saya" ucap Kiran pada intinya datang menemui kedua orang tua Erick.


"oh soal adikmu memang ada apa dengannya?" kata romo. Sementara bunda hanya diam juga mengalihkan pandangan sambil mengerutkan dahi. Kiran memperhatikan sang bunda setelah beberapa saat terdiam akhirnya dia mulai bicara, hal itu dikarenakan supaya bunda tidak kepikiran hingga membuat jantungnya kambuh sewaktu-waktu.


"terima kasih sudah mendengarkan ucapan saya om, tante saya permisi dulu" ucapnya dengan sedikit menunduk.


"iya terima kasih juga akhirnya aku bisa lega setelah mendengar penjelasan darimu" ucap bunda.


"kalo gak dijelasin mungkin kamu bisa ambruk bun karena terlalu mikirin putra" sahut romo sang bunda hanya tersenyum.


Kiran lalu pergi menjauh dan hendak kekamarnya tapi telfnya berdering hingga membuatnya menghentikan langkahnya.


"ada apa?" tanyanya datar.


"nona Mimin habis dipukuli ayahnya tuan, dia sekarang berada didepan ruko dipinggir jalan X" jawab seseorang yang disuruh untuk mengawasi Mimin secara diam-diam.


"tetap awasi"


"baik tuan!"

__ADS_1


Sota datang menghampiri. "ada apa cepat katakan!!" kata Kiran tanpa melihat kearah Sota.


"ada apa dengan tuan kenapa dia terlihat marah" batin Sota.


"Johan sudah menunggu tuan" mendengar hal itu Kiran langsung berjalan cepat menemui Johan hendak memberikannya tugas, supaya dia bisa menemui Mimin selanjutnya.


Dikamar Kiran Johan berdiri santai menunggu intruksi dari tuannya.


"apa kalian semua mengikuti litle sampai sini" tanyanya dengan dingin.


"iya kecuali Nana, Brian dan Sora" jawab Johan.


"data milik litle bocor keluar, aku ingin ganti beberapa orang disini dengan pengawal kita selama litle disini, termasuk juru masaknya" printah Kiran. Johan langsung mengangkat sebelah alisnya saat mendengarnya.


"pengawal bisa diganti tapi kalo juru masak sepertinya susah tuan, karena juru masak kita tidak ada yang bisa memasak makanan khas sini" jelas Johan.


"kalo begitu atur, kau tahu sendiri musuh kakeknya ada dimana-mana"


"baiklah saya mengerti, saya undur diri tuan" Johan segera pergi dan menelfon seseorang mengerjakan perkerjaannya.


Dikamar Erick, dia sedang bersama Karin disana mengambil sesuatu yang dia beli kemarin. Karin sendiri duduk tenang dikursi dekat cendela sambil melihat pemandangan bunga yang berada diluar.


"Bi!!" panggil Erick, seketika Karin menoleh saat suara panggilan Erick mulai menerobos masuk telinga. "ya!!" balasnya.


Karin terkejut juga melongo saat sebuket coklat berada dihapannya berikut sepucuk tulisan tangan. Dia mengambil buket coklat yang diberikan Erick lalu mengambil tulisan tanggannya.


"maaf terlambat, Bi! selamat hari valentane semoga kita selalu bersama juga, love you😘"


Tulisan itu membuat Karin tersenyum kecil lalu melihat kearah Erick, Erick yang dilihatnya kini memalingkan wajahnya bersemu merah seperti tomat juga sikap yang kikuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"maksud tulisan ini apa ya?" tanyanya. "entah kenapa seperti sebuah kata untuk sang pacar" godanya sama Erick yang masih berdiri didepannya. Erick duduk disebelahnya menghadap tepat kearah Karin.


"memangnya yang cuma bisa ngucapin love you cuma abangmu? Aku juga bisa Bi" katanya tersenyum lebar. Karin memandang heran Erick melihatnya begitu intens lalu berpindah kebola mata hitamnya yang membuatnya terpesona.

__ADS_1


Hatinya begitu berbunga-bunga hanya karena sebuket coklat dan sepucuk surat yang diberikan oleh orang yang disukai.


"beginikah perasaannya saat kita diberi hadiah oleh orang yang kita sukai, begitu menyenangkan sampai tak rela untuk merusaknya" batinnya melihat apa yang ada ditangannya saat ini.


"Erchan" panggilnya lirih dan langsung dijawab sama Erick. "ya!!" katanya.


"love you too!!" katanya melihat langsung kearah orang yang disukai.


Erick memeluk Karin begitu erat. "terima kasih Bi, aku senang sekali kau menerimanya" katanya lirih ditelinga Karin.


"Erchan" panggilnya lagi dalam pelukan Erick.


"hhmmm" Erick hanya bergumam.


"aku serius aku tertarik sama kamu, aku menyukaimu, kau mengubah segalanya terima kasih, seandainya aku tidak bertemu denganmu saat tidur didalam mobil waktu itu mungkin aku akan tetap seperti dulu terima kasih Erchan" jujur Karin, Erick hanya diam dia semakin mempererat pelukaannya.


"tapi aku tidak bisa berjanji apapun padamu maafkan aku, I love you Erchan" katanya lagi.


"apa kamu tahu kalo kamu terlalu jujur" kata Erick pelan.


"hahahha karena aku tidak suka kebohongan lebih baik jujur walau menyakitkan itu jauh lebih baik" balasnya sambil ketawa.


"tapi sayang ya Erchan..." belum selesai bicara Erick sudah memotongnya lebih dulu dan melepaskan pelukannya.


"I love you Bi, aku tidak peduli lagi kamu cewek apa cowok aku juga menyukaimu amat sangat menyukaimu entah sejak kapan perasaan ini ada, tapi jujur aku sangat nyaman bersamamu Bi tetaplah bersamaku karena aku mencintaimu!!" kejujuran Erick membuat Karin diam mematung tak ada lagi kata yang bisa diucapkan.


Ingin sekali dia jingkrak-jingkrak atau lari dan berteriak sekencang mungkin kalo dia sangat senang, sangat amat senang tapi semua itu dia tahan karena tak mungkin melakukannya saat ini.


"aku senang cintaku tak bertepuk sebelah tangan, tapi sayang kamu masih BUTA buta mata juga buta mata batinmu" kata Karin dengan bibir manyun kedepan.


"cih kenapa diakhir kata harus seperti ini menyebalkan"


"hahahahaha"

__ADS_1


*****


__ADS_2