
(mari kita kembali kemasalah Erick)
Erick yang marah sama sikap Fani yang kekanakan sudah tidak mempedulikan dia lagi. Erick melepas tangannya secara kasar dan tak melihat Fani lalu segera memesan taksi online, sambil menunggu dia berjalan menjauh dari mobil yang membawa Fani.
Fani sendiri hanya menangis didalam mobil dan dipandang kasian sama Felix.
"mari kita pulang nona" kata Felix.
"iya" katanya pendek dan sendu.
Fani sudah dikasih penjelasan sama Erick tapi dia tak mau menerimanya karena terlanjur cinta sama Erick, apalagi saat orang tuanya memberi tahu kalo mereka berdua sudah dijodohkan membuat Fani kegirangan.
Pada dasarnya Fani juga Karin adalah orang yang sama, sam-sama bergelimang harta, sama-sama dimanja, yang mereka berdua inginkan juga selalu dituruti tak terkecuali, mendapat kasih sayang berlimpah dan sama-sama keras kepala. Perbedaannya cuma satu Karin yatim piatu sedangkan Fani tidak, Fani bersifat manja kekanakan dan monopoli suka iri dengan orang lain sedangkan Karin manja tapi netral, bebas, humor, pandai bergaul dengan siapapun walau begitu dia sangat tegas dan tidak ada yang berani membantah ucapannya. Mungkin karena itulah Erick menyukai Karin dan jatuh cinta padanya apalagi dia selalu menghormati kepustusannya.
Fani tiba dikediamannya nampak rumah mewah nan megah bergaya jawa eropa, dia langsung keluar mobil dengan cemberut dan kesal membanting pintu mobil dengan cukup keras.
"busyet dasar bocah" gerutu Felix sambil mengelus dadanya. "dia kaya juga ternyata ya sayang bocah itu tak mau karena tak cinta, kalo aku sudah ku nikahi saja lalu kuporoti tuh hartanya hehehe" batinnya sambil membayangkan dirinya sedang mandi harta.
Didalam rumah Fani marah besar dia membanting apa saja yang berada diatas meja, melihat kelakuan Fani kedua orang tuanya hanya menghela nafas.
"beginilah akibatnya jika apapun yang dia inginkan selalu dituruti tanpa terkecuali" batin sang ayah.
__ADS_1
"pa Fani gak mau tahu pokoknya Fani harus menikah sama mas Erick bantu Fani dong pa" katanya merengek sama sang papa setelah puas membanting barang pecah belah.
"apa tidak ada pria lain selain dia, kau ini kaya kekurangan pria saja selalu saja Erick dan Erick" balas papanya santai.
"papa ko gitu sih papa gak suka apa aku bahagia, mama juga lakukanlah sesuatu" Fani kini merengek kemamanya.
"jika dia tidak cinta apapun bisa terjadi jika kalian tetap menikah nanti, dia bisa semena-mena karena tidak tertarik sama istrinya kamu mau seperti itu" balas mamanya sambil membelai rambut Fani supaya mengerti.
"Fani tidak peduli yang penting mas Erick jadi milik Fani" Fani meninggikan suaranya. "papa tarik saja saham diperusahaan om Mahesa dan suruh dia menikahkan putranya sama Fani" katanya lagi dengan fikiran licik.
"jangan kelewatan batas Fan, jangan mencampurkan masalah pribadi sama perkerjaan" kata sang ayah tegas.
"kalian berdua jahat sudah gak sayang anak lagi" teriak Fani sambil berlari menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
"sekarang bagaimana pa" tanya sang mama.
"coba kasih pengertian sama dia tidak mungkin papa menuruti perkataan Fani, kalo sampai papa menarik semua saham diperusahaan Mahesa papa sendiri juga rugi besar ma lebih tepatnya kita yang rugi bukan Mahesa" tutur sang papa sama istrinya.
"baiklah mama akan bicara sama Fani" setelah bicara seperti itu sang mama lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar Fani.
Sementara itu Erick sendiri tidak pulang dia menuju sebuah hotel berbintang diJogja, dia tidak mau ketemu sama Fani karena dia tahu pasti Fani akan datang kerumah jika dia pilang nanti.
__ADS_1
Setelah cek in Erick tidak langsung menuju kamar melainkan kerestouran yang ada dilantai dasar hotel, dia langsung memesan makanan dan mencari tempat duduk didekat cendela entah kenapa dia jadi suka duduk dekat cendela sekarang.
Erick mengedarkan pandangan sesekali juga berkutat sama hpnya, Erick terpaku saat pandangannya tertuju oleh sosok pria Jepang dengan wajah yang sama dengan Karin berikut serta sekretarisnya, dia langsung mengenalinya karena pria itu memiliki pandangan dingin bagaikan mata pisau yang tajam siapa lagi kalo bukan Kiran, bener-bener perbedaan yang luar biasa sama adiknya.
Didepan Kiran ada pria yang sudah tidak muda lagi walau begitu dia masih terlihat gagah dengan tongkat emasnya yang selalu menemaninya kemanapun, pria tua berumur sekitar 74 tahun juga seorang wanita yang sama sekitar 69 tahun dilihat darimanapun mereka asli luar negri sedang bercengkerama santai bersama Kiran.
Erick tak mempedulikannya dia lebih memilih menikmati makanan yang sudah datang dan tertata rapi didepannya.
"dia dimana ya? Kenapa telf juga pesan whatshapku gak dibalas sama sekali" batinnya sambil mengunyah makanan. Entah mengapa makanan yang dia makan serasa hambar seolah ada yang kurang.
Erick menghentikan makannya lalu pergi kekamarnya begitu saja setelah membayar tagihan. Dia terus berjalan dalam keadaan lesu tak bertenaga juga raut wajah yang kecewa.
Sedangkan Kiran yang sedang duduk bersama dua orang paruh baya dari Paris terlihat santai tapi serius, mereka berdua adalah kakek nenek Karin yang sebenarnya yaitu tuan Fay dan nyonya Laouris.
"kenapa anda malah ketemu sama saya? Seharusnya ketemu cucu anda kan" kata Kiran.
"kita berdua cuma mau melihat kembaran cucu kami lebih dekat saja ya kan sayang" balas Louris tersenyum ria.
"kalian berdua bener-bener jauh berbeda makanya kami penasaran" kata Louris lagi.
Kiran hanya mengangkat sebelah alisnya sedangkan tuan Fay hanya diam saja.
__ADS_1
"kalo tidak ada yang perlu dibicarakan lagi saya permisi"
*****