
Erick menatap dirinya dengan intens didepan cermin fikirannya begitu kacau setiap apa yang dia lakukan selalu muncul bayangan Karin.
"apa aku salah menghindarinya" ucapnya dalam hati.
Tersirat aura kesedihan diwajah yang tampan hatinya kini dihadapkan dengan dua perasaan yang berbeda. Dia meremas dadanya perasaan itu membuatnya begitu sesak saat dirinya mencoba menghindari Karin, cukup lama dia berada dikamar mandi setelah semua tenang dia baru membasuh mukanya lalu berjalan keluar.
Dia berjalan kembali bergabung bersama tuan juga kliennya namun langkahnya terhenti saat melihat Karin sedang bercengkerama bersama Ersya juga Vivi.
Karin yang merasa diperhatikan menoleh keasal sepasang mata yang memperhatikan dia, keduanya bertemu dalam satu tatapan yang tidak bisa dihindari.
Karin melemparkan senyum sedikit menundukan kepala menyapa Erick, Erick yang sadar atas sapaan itu membalasnya dengan sama lalu berjalan ketempat asalnya.
"dia pandai sekali membaca situasi" batin Erick sambil tersenyum dan segera mendaratkan bokongnya dekat Evan.
"mungkin memang aku salah menghindarinya tanpa alasan tapi...." batin Erick yang bingung dengan perasaannya sendiri.
"tumben kamu makannya banyak cecan" tanya Karin melihat Vivi makan begitu lahapnya.
"aku sendiri juga gak tahu ini terjadi sudah seminggu yang lalu pagi-pagi sekali nih perut sudah perihnya minta ampun, baru juga selesai makan eh mau nambah lagi anehnya berat badanku gak naik sama sekali" jawab Vivi menjelaskan sambil makan.
"wah hebat ya kaya gentong" sahut Ersya.
"hei memangnya kamu sendiri bukan gentong apa" balas Vivi dengan kesal.
"suamimu pasti kaget ya lihat istrinya tahu-tahu makan banyak" kata Karin.
"awalnya sih aneh saja lihat aku makan banyak tapi lama-lama ya biarin saja hehehe anehnya juga aku sering marah-marah kalo deket dia kaya sebel banget gitu bawaannya uring-uriangan tapi kalo gak ketemu kangennya minta ampun tahu ah yang penting makan dulu" jelasnya.
"berarti otakmu memang gak beres ya" belum sempat Karin ngomong Ersya sudah menyahutnya lebih dulu.
Vivi langsung menarik rambutnya Ersya "kamu belum pernah merasakan bogemnya cewek kota hah"
"aduh, apa kuntet!!"
__ADS_1
Mereka berduapun langsung melotot satu sama lain, Evan yang mendengarnya hanya tertawa kecut bersama Erick.
"hati-hati yu nanti suamimu bisa cari lagi yang lebih sexsi"
Brak!!! Vivi langsung menggebrak meja membuat semua orang melongo melihatnya.
"hehahi hia hauan ihu haas aja huh! (berani dia melakukan itu awas saja huh!!)" Vivi bicara dengan mulut yang penuh makanan.
"oh iya comut, apa suaminya gak cemburu ya liat kalian ketemu begini" tanya Ersya.
"gak tahu mungkin juga iya"
"wah bisa berabe nih kalo dia keluar gak pamit bisa dikira selingkuh ckckck"
"dasar bodoh kau menuduhku selingkuh sama Karin kenapa gak sekalian saja kau menuduhku selingkuh sama anak SD huh"
"siapa juga yang menuduhmu lihat perkataannya dong"
"aku memang suka sama Karin tapi bukan berarti aku cinta padanya bagiku suamiku tetap nomor satu paling menawan paling baik ya paling top markotop buat aku deh banyak jempol nih kupersembahkan padanya"
"weleh weleh kalo suamimu tahu mungkin mukanya sudah merah kaya tomat" kata Ersya menggoda. Johan juga Karin menjadi pendengar setia.
"terus ngapain kamu bertemu comut disini"
"oh tadi aku jalan-jalan terus menggok karena laper dan ketemu deh"
"masa"
"hei kau meragukan ucapanku dasar wong ndesit, dengar ya dengar Karin sudah seperti saudara bagiku" teriak Vivi.
"saudara!!" Karin terkejut dengan ucapan Vivi.
"he em entah mengapa saat pertama ketemu kamu aku langsung akrab gitu sama kamu kaya ngobrol sama adik sendiri maklum aku anak tunggal, kamu beda sama cowok pada umumnya ngobrolpun langsung nyantol lalu ngerti banget masalah cewek"
__ADS_1
"trima kasih" ucap Karin tersenyum senang mendengar penuturan Vivi.
"kalo gitu cocacola ini boleh buatku" Karin mengambil cocacola yang masih tersegel didepan Vivi.
"yaaaah jangan dong"
"tidak baik buat perutmu nanti kalo kenapa-napa gimana"
"maksudnya gimana?"
"tadi kamu bilang sejak seminggu yang lalu kamu jadi aneh makan yang banyak benci suami suka marah gak jelas emosi yang naik turun kan jadi perutmu bermasalah jadi hindari minuman bersoda seperti ini dan sejenisnya ok" kata Karin menjelaskan.
"iya deh gak papa" Vivi seolah gak terima cocacolanya diambil.
"ingat ya gak boleh minum minuman bersoda"
"hhhmmm" Vivi hanya cemberut.
Karena masih lapar Vivi mengambil ayam bakar milik Ersya dan memakannya dengan lahap.
"heeei itu ayam bakarku kamu pesen sendiri sana"
"halah kelamaan perutku masih lapar nih"
"apa! makan segitu banyaknya masih lapar dasar perut karet nih rasakan bogem mentah ala-ala orang desa" Ersya yang kesal langsung menoyor kepala Vivi.
"dasar kuntet!!" teriak Ersya.
"dasar ndesit!!" balas Vivi tak mau kalah.
"kamu berani sama mantan preman sekolahan rasakan juga nih bogem mentah ala orang kota" Vivi yang tak mau kalah balik menoyor kepala Ersya, mereka pun toyor-toyoran hinggal saos tomat mendarat dimuka keduanya, Johan hanya bergeleng kepala sambil memegangi jidadnya, karin tertawa lepas sementara Evan memegang dahinya pusing melihat kelakuan istrinya.
"kelakuan orang kaya memang aneh ya!!" batin Erick yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
*****