
Erick tiba dirumah sakit dia setengah berlari menuju kamar perawatan sang bunda. Saat ini dia ingin sekali memeluk salah satu dari orang tuanya, tapi dia harus bersikap biasa saja didepan keduanya supaya tidak kawatir.
Cklek...
Erick langsung membuka pintunya tanpa mengetuknya lebih dulu, membuatnya sang Romo terkejut dan melihat siapa yang datang.
"bagaimana keadaan bunda romo?" tanyanya sambil mendaratkan bokongnya dikursi dekat bunda.
"cuma butuh istirahat saja" jawab Romo.
"tapi bunda belum juga bangun dari tidur panjangnya" kata Erick kawatir.
"sebentar lagi juga bangun" balas sang Romo sambil tersenyum kecil.
Erick mendekati romonya dan duduk disampingnya, dia menunduk dengan ragu hendak bertanya pada Romo.
"mmm Romo" katanya ragu dengan apa yang ingin dikatakan.
"ada apa? katakan saja" balas Romo siap mendengarkan.
"aku penasaran dengan perkataan Romo waktu itu"
"oh soal itu ya, Romo tidak pernah mengingkari ucapan Romo sendiri jika kamu berhasil mencarinya kamu bisa bersama Karin" jelas romo.
"benarkah"
"dengan syarat tidak boleh keluar kamar dan jangan bertemu dengannya"
"ko begitu romo" katanya dengan cemberut.
"mau apa tidak"
"memang apa sih Romo yang dia sembunyikan sama romo"
"nanti kau juga akan tahu yang jelas ini ada hubungannya sama gosip yang lagi beredar saat ini, selain itu juga untuk mengasah otakmu juga"
"apa Romo akan memisahkan kami berdua?"
"apa menurutmu begitu, kau itu anak Romo aku tahu bagaimana sifatmu"
"aku tidak tahu apa yang kalian sembunyikan tapi Putra akan berusaha"
"anak pintar" Romo berkata sambil menepuk punggung Erick.
Dirumah Karin dia sedang duduk didekat cendela dikamarnya sambil melihat pemandangan diluar, tatapannya kosong, pikirannya melayang entah kemana, hatinya galau dengan kebingungan yang dia pikirkan sejak mengetahui kenyataan yang selama ini dia sembunyikan sendiri.
Semua pekerjaan dihendel sama Johan tak terkecuali masalah pengawalan diMIG, Johan dibuat super sibuk jika Karin majikannya sudah seperti ini.
Tring...
Sebuah pesan masuk membuatnya tersentak dari lamunan panjangnya. dengan malas dia mengambil hp diatas meja didepannya melihat siapa yang mengirim pesan.
๐ฅ"Bi aku akan segera menemukan harta karunnya dan pergi kesana secepat mungkin, tunggu aku!!๐" pesannya dengan dibumbui emoji kiss.
__ADS_1
Karin hanya diam dia mematikan hpnya dan menaruhnya kembali diatas meja didepannya, tidak ada niatan untuk membalas pesan dari kekasihnya itu dia tak bersemangat saat ini.
Setelah menghela nafas sejenak lalu dia berjalan menuju ranjang mewahnya yang berukuran king size itu dia merebahkan dirinya disana dan kembali menatap langit-langit kamarnya.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk dari luar. "tuan muda ada tamu untuk anda" ucap seseorang yang tak lain adalah pak Aldo sang kepala pelayan dirumahnya.
"siapa?" tanyanya pendek.
"dia bilang pak Sanjaya" jawab pak Aldo membuat Karin terkejut.
"pak Sanjaya!!" gumamnya lirih. "papa!!!" katanya lagi.
Karin beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"apa papa datang sendirian" tanyanya lagi sama pak Aldo.
"tidak tuan, dia datang bersama istri dan anaknya yang sedang hamil" jawab pak Aldo.
"begitu" Dia segera berjalan menuruni tangga setengah berlari.
Diruang tamu pak Sanjaya berserta istri juga anaknya sedang duduk menunggu. pak Sanjaya juga Vivi berwajah senang, sedangkan sang mama berwajah tak suka, Vivi sesekali mengusap perutnya yang sudah membuncit.
"apa kau masih tak suka dengannya Ma?" kata pak Sanjaya memulai.
"ya aku masih tak suka dengannya karena dia keluarga kita hancur"
"ingat ma ini semua bukan salah dia atau siapapun, papa cuma menolongnya saja"
"terserah kalian saja yang namanya anak pembawa sial juga haram sampai kapanpun julukan itu masih melekat didirinya huh" sinis mama Vivi. Dan semua itu didengar langsung oleh Karin.
Karin yang mendengarnya berdecih tak suka dia menggertakan gigi dan mengepal dengan kuat. Raut wajahnya yang marah seolah ingin sekali melampiaskan pada apapun didepannya.
Dia menarik Nafas panjang dan mengeluarkannya dari mulut lalu berjalan keluar.
"terima kasih sudah memberiku stempel anak haram, tapi asal anda ingat anak haram tidak akan hadir jika bukan kesalahan mereka para orang tua" kata Karin.
Mereka bertiga langsung berdiri dan melihat kearah Karin.
"nak" kata pak Sanjaya lirih.
"karin" kata Vivi lirih.
Mama Vivi memandang tak suka kearah Karin dengan ketusnya dia membuka suara. "sadar juga kau akan dirimu" katanya.
"bayi yang anda sebut anak haram itu sekarang berdiri tegak dihadapan nyonya"
"terus apa kau akan bilang sekarang kau menjadi orang yang hebat begitu"
"ma sudah kita kesini bukan untuk berdebat" teriak pak Sanjaya membuat keduanya melihat kearahnya.
"Karin maafkan mama, bagaimana kabarmu?" sahut Vivi.
__ADS_1
"baik seperti yang kau lihat wow perutmu sudah mulai membuncit ya cecan pasti lucu sekali nanti" Karin mengelus perut Vivi.
"pa ayo kita pulang aku tidak mau lama-lama disini panas" teriak mama Vivi dengan nada marah.
"astaga ma sebentar lagi kita pulang"
Mama Vivi langsung bangkit dari duduknya. "ya sudah mama pulang sendiri" pekiknya.
Pak Sanjaya mendesah kesal lalu dia berjalan kearah Karin dan memeluknya.
"maafkan istri papa" katanya sambil menepuk pelan punggung Karin berkali-kali.
"gak apa-apa, papa bisa main kesini lagi lain waktu"
"oh iya sebenarnya papa datang kesini karena ada surat dari mamamu 22 tahu lalu tepat kelahiranmu sebelum dia menghembuskan nafas terakhir"
Karin terjennggang mendengarnya mulutnya kelu tak mampu berucap.
"su, surat dari mama" ucapnya lirih dan terbata pak Sanjaya hanya mengangguk.
Pak Sanjaya mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jaketnya, walau sudah berpuluh-puluh tahun lamanya tapi amplop itu masih terlihat bagus karena pak Sanjaya menyimpannya dengan rapi.
Pak Sanjaya meraih tangan Karin lalu diletakan amplop itu diatasnya.
"bukalah sendiri papa tak berani membukanya" katanya.
"terima kasih papa sudah bersedia menjaga surat dari mama"
Vivi dan mamanya hanya diam melihat adegan didepannya.
"pa!!" teriak mama Vivi membuat pak Sanjaya mendesah kesal.
"papa pulang dulu"
"hati-hati dijalan" ucap Karin sambil memberi kode sama pak Aldo supaya mengantarkan tamunya keluar.
"Karin aku pergi dulu nanti datang lagi sama suamiku jaga diri baik-baik ya" kata Vivi memeluk Karin layaknya saudara.
"aku tunggu cecan" balas Karin sambil tersenyum.
Sepulangnya mereka bertiga Karin berjalan kembali ke kamarnya dia berjalan kembali kearah cendela dan duduk disana, kali ini dia tidak melamun melainkan membuka amplop putih yang berisi sepucuk surat dari mama kandungnya.
Dengan tergesa-gesa dan dada yang bergemuruh dia membukanya, tangannya tak berhenti gemetar namun dia tak menghentikan tuk membuka amplop itu.
Deg deg deg jantung Karin terus berdetak tanpa henti.
Amplop sudah terbuka, tangan yang gemetar dada bergemuruh bagaikan genderang yang mau perang, keringat dingin mulai keluar dari sela-sela rambut didahinya. Sungguh ini semua diluar dugaan hanya karena sebuah surat dari sang mama seluruh badannya tak mampu dikontrol ibarat manusia yang sedang jatuh cinta itulah dirinya.
Berlahan tangan Karin mulai menarik sebuah kertas putih yang berukuran kartu ucapan yang dilipat dua, sambil menelan salivanya dia mulai membukanya dia terkejut bukan main kala melihat kertas itu kosong bersih tanpa noda sedikitpun.
"kosong tanpa tulisan, apa papa membohongiku" batinnya tak percaya.
*****
__ADS_1
jangan lupa dukung author dengan like dan komen๐ฅฐ๐