THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MASIH PANTASKAH AKU


__ADS_3

Tidur sang tuan putri yang lelap terganggu, dia mengeliat berlahan membuka matanya dia terkejut saat kedua orang yang sudah tak muda lagi berada disampingnya.


"apa-apaan ini kenapa mereka disini?" katanya dengan nada malas.


"kami berdua menjengukmu kudengar kamu diserang dan jatuh kedanau" kata Louris menimpali membuat Karin mengangkat sebelah alisnya.


"perhatian sekali memang kalian siapaku" ketusnya.


Mendengar itu mereka semua terkejut dan saling melempar pandangan.


"Jo aku tak mau ketemu siapapun, antar mereka keluar" katanya lalu membetulkan selimut dan membelakanginya mereka semua.


"baiklah" jawab Johan. "mari tuan nyonya saya antar" lanjutnya.


Louris hanya diam memandang cucunya lalu bergantian memandang suaminya, dia enggan pergi dia masih ingin bersama cucunya lebih lama, ingin sekali dia mengatakan kalo mereka berdua adalah keluarganya.


Fay mengangguk tanda dia mengajak istrinya keluar dia menyadari kalo saat ini cucunya punya banyak masalah dan butuh kesendirian.


Dengan berat hati mereka berdua menyeret kakinya keluar kamar, sampai didaun pintu mereka berdua kembali melihat kearah Karin cucunya yang masih tidur di bawah selimut.


"jaga dia baik-baik" ucap Fay sambil menepuk pundak Johan.


"dengan senang hati tuan" jawab Johan tersenyum ramah.


Setelah menutup pintu Johan menghela nafas sejenak lalu berjalan mendekati Karin yang sedang tidur.


Dia duduk disamping ranjang. "baby apa kamu masih belum bisa menerima mereka" katanya sambil membelai kepala Karin.


"aku tidak mau membahas mereka Jo, sekarang siapkan Jepri kita keJakarta" balas Karin dengan malas.


"kau tidak mau menemui dia baby"


"aku tidak tahu Jo setelah mengetahui kenyataan itu rasanya aku tidak pantas untuk menemui dia"


"tapi kau tidak bisa memungkiri rasa sukamu terhadapnya"


"kau benar, semakin aku menjauh semakin dalam rasa suka ini terhadapnya dan aku tidak bisa menghindari itu dan hal itu membuatku tersiksa setiap hari" Karin berkata memegangi dadanya lalu berganti menyentuh wajahnya dan menangis.


Johan memandang sedih Karin dia memegang kepala Karin dan mengarahkan pandangannya kearah dirinya posisi mereka saling berhadapan dan saling memandang.


"kalo dia mencintaimu dia akan menerima kekuranganmu dalam bentuk apapun itu, kau lupa sampai sekarang dia masih belum tahu siapa dirimu jadi jangan menyiksa dirimu" tutur Johan panjang lebar.


"mulut bisa bicara tapi aku tidak mampu melakukannya secara gamblang Jo, rasanya sangat berat aku tidak bisa membayangkan jika dia mengetahuinya lalu menjauhiku"

__ADS_1


"sampai kapan kau akan seperti ini"


"aku tidak tahu kita kembali keJakarta dulu, sekarang"


"baiklah akan kulakukan"


Johan berjalan mengambil hpnya yang berada diatas nakas segera dia menelfon pilot pribadi supaya bersiap-siap untuk terbang keJakarta.


"bersiaplah untuk terbang keJakarta sekarang" titahnya sama sang pilot.


"siap tuan" jawabnya.


Johan mematikan telfonnya dan menaruh kembali hpnya diatas nakas lalu menghampiri Karin Kembali.


"apa kau sudah siap" katanya.


"ya" jawabnya pendek dan singkat lalu berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri. Setelah semua sudah beres dan siap mereka berdua segera berjalan menuju parkiran mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandara.


Erick yang masih bingung mencari Karin menghubungi salah satu pengawalnya dan menyuruh mereka mencarinya, setelah mendapat kabar Karin berada segera dia melajukan mobilnya dengan ngebut.


Begitu sampai ditempat Karin segera dia berlari menuju kamar tempat dia istirahat.


Tok tok tok


"telfon tak diangkat wa juga gak dibalas kemana sih dia" gerutunya dengan kelimpungan dan mondar-mandir hingga petugas hotel menghampirinya.


"bisa dibantu tuan sepertinya anda sedang bingung" katanya menawarkan jasa.


"ah kebetulan kamu ada, aku mau tanya tuan kamar ini kenapa gak muncul-muncul sudah diketuk berkali-kali" katanya bingung mengacak rambutnya.


"mereka berdua baru saja keluar tuan" jawabnya.


"kemana?" tanyanya.


"saya kurang tahu"


"ya sudah terimakasih"


Erick berlari keluar menuju mobilnya lalu dia menelfon sopirnya Felix.


"Lix carikan posisi majikanmu sekarang" katanya setelah telfonnya terhubung.


"memang kalian gak bersama" balasnya dengan ketus.

__ADS_1


"haduh kalo aku bersama dengannya gak mungkin aku menghubungimu"


"oh bener juga bentar tak cek in dulu" setelah berkata seperti itu Felix mematikan hpnya lalu melacak keberadaan Karin melalui hpnya sendiri.


"dia menuju bandara S bos" teriaknya setelah mendapat titik lokasi Karin.


"ok thanks"


Erick segera melajukan mobilnya ngebut menuju bandara S dimana jepri milik Karin mendarat disana.


Dia bingung dan gundah saat ini ada rasa bersalah dalam dirinya, dia berfikir kekasihnya menjauh karena perbuatannya. Saat ini yang ada dipikirannya dia hanya ingin meminta maaf padanya, dia tidak mau kehilangan kekasihnya dia tidak peduli dengan larangan orang tuanya yang melarang dia untuk menjauh dari kekasihnya.


Dia terus menghubungi kekasihnya walau tak kunjung diangkatnya, dia terus berusaha menghubunginya sambil berlari masuk ke bandara mencarinya dan celingukan.


Karin dan Johan berjalan santai menuju jeprinya, disana sang pilot sudah siap menyambut.


Hp Karin terus berbunyi berulang kali bahkan sampai ratusan kali berikut pesan WhatsApp miliknya. Karin hanya melihatnya tak ada niatan untuk mengangkatnya walau dia sangat ingin.


"angkat saja baby" kata Johan yang melihatnya.


"males Jo biarkan saja" balas Karin sambil terus berjalan.


"kasian kalo kita ada di posisinya pastinya juga jengkel kan, dia pasti mengira kau sedang marah dan menghindar saat ini" kata Johan.


Mendengar Johan berkata seperti itu Karin sedikit terkejut apa yang dikatakan Johan ada benarnya, bahwa dia sempat marah sama kekasihnya yang main cium juga cemburu karena dia tidak menolak waktu Fani memeluk lengannya dengan manja dan mesra.


Dia menghela nafas sejenak lalu meraih hpnya dan segera mengangkatnya.


"kamu dimana Bi?" kata Erick setelah terhubung dengan suara tersengal-senggal akibat berlari, Karin hanya diam saja.


"bandara mau keJakarta, ada apa?" balas Karin santai.


"posisimu dimana jawab aku dan jangan tutup telfonnya"


"Erchan ka..."


"jangan beralih cepat jawab sekarang"


"aku tunggu dipintu loket dalam lima menit" setelah berkata seperti itu Karin menutup telfonnya sepihak dan berjalan menuju pintu loket diikuti Johan.


"ok, jangan kemana-mana"


*****

__ADS_1


__ADS_2