THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
KARIN VS FANI


__ADS_3

"bukankah begitu Fani" kata Karin lagi menggoda sambil memainkan jarinya diarea segitiga Felix membuatnya memanas juga menegang seketika.


"ya tuhan kuatkan hambamu hiks sudah sesek banget hiks" batin Felix meronta.


"Felix!!" teriak Erick dari dalam mobil karena cemburu melihat dia dirangkul oleh Karin.


"oh selamat, terima kasih ya tuhan" batin Felix mengelus dadanya dalam bayangan.


Lalu Erick berganti melototi Karin yang cengingisan kearahnya, dia tahu kalo Erick pacarnya sedang cemburu mengingat bagaimana dia sangat posesif waktu dirawat dirumah sakit.


"baby aku pergi dulu ok dipanggil pak bos tuh" Felix berjalan mendekat kemobil yang ditumpangi Erick.


"dadah nona cantik" sapanya sama Fani sambil tersenyum kecil dan dijawab acuh olehnya.


Kini tinggal Karin juga Fani berdua berhadapan. Karin nampak tenang didepan Fani sedangkan lawannya nampak marah dan ingin sekali menampar wajah Karin yang tenang.


Dia semakin marah saat melihat anting berinisial ER melekat ditelinga kanan Karin berikut kalung yang dia kenakan.


"seharusnya itu jadi milikku bukan milikmu" batin Fani geram.


"aku wanita Fan dan aku juga menyukai Erick" kata Karin memulai.


"apa maksudmu kau wanita" balas Fani kaget tak percaya.


"kita sama Fan menyukai orang yang sama dan aku tidak akan pernah melepaskannya untukmu"


"tak akan kubiarkan dia jadi milikmu"


"Fani Fani seharusnya kau tahu bahwa kau itu sudah kalah dia menganggapmu sebagai saudara harusnya kau beruntung itu"


"kalo aku tidak mau, apapun yang terjadi mas Erick harus jadi milikku"


"aku juga! Aku juga tidak akan pernah melepaskannya hehehe kita lihat siapa yang menang, usaha kerasmu tidak pernah berhasil"


"tidak akan pernah kubiarkan itu terjadi kita lihat saja" ucapnya mengancam.


Saking geramnya Fani hendak menampar wajah Karin tapi tangannya langsung dipegang sama seorang wanita yang ikut keJogja dengannya dia tunangan Johan bernama Ersya.


"mau kau apain litle kesayanganku" kata Ersya ketus juga sinis.

__ADS_1


"lepaskan" kata Fani melepaskan tangannya secara kasar lalu berjalan menjauh pergi ke mobil milik Erick.


"kamu gak apa litle" tanya Ersya.


"gak apa, tumben kesini ada apa gerangan ooo aku tahu kamu pasti cemburu Johan dekat sama Nana" jawab Karin menggoda Fani.


"ngaco, aku capek dibangsal terus gak ada yang nemenin kalian pada minggat semua makanya aku keluar" balasnya ketus dan manyun.


"apa lagi sama nenek haduh bikin sakit kepala mau pecah rasanya harus begini begitu gak boleh begini begitu" Ersya yerocos tanpa henti.


"ooo aku kira kamu mau yusul Johan dia ada tuh lagi duduk disana berkutat sama hpnya" ucap Karin menunjuk Johan.


"biarin sajalah mungkin lagi sibuk sama anak buahnya temanin aku makan aku laper banget mau makan gak ada temennya" kata Ersya.


"ok kebetulan aku juga lapar mau ajak mereka juga" Karin menujuk beberapa pemuda yang baru dikenalnya.


"terserah kau saja yang penting makan"


"ok!!" setelah itu Karin juga Ersya berjalan menghampiri temannya yang baru bermain tadi mengajaknya untuk makan sekalian dan dijawab setuju oleh mereka semua.


Johan juga Nana langsung bergabung ikut makan bersama mereka semua dan mencari warung lesehan dengan menu yang lengkap dan segera masuk mencari tempat duduk masing.


Sementara didalam mobil Erick masih kesal dengan apa yang dia lihat barusan dia tahu Fani hendak menampar Karin juga Karin yang memanasi Fani.


"jangan macem-macem sama Karin" kata Erick tanpa melihat kearah Fani.


"kenapa begitu peduli mas sama Karin, bagaimana denganku?" balas Fani kesal.


"kamu adikku! Sekarang ayo pulang besok main lagi sebentar lagi aku mau balik keJakarta" kata Erick tetap pada pandangan kedepan.


"kenapa mas tidak mau melihatku? Kenapa!?" Fani melihat kalung juga anting berinisial KA yang dipakai Erick.


"apa ini?! Mas pakai kalung juga anting yang sama dengan dia" kata Fani sambil mengulurkan tangannya hendak memegang kalung yang dipakai Erick tapi tangannya langsung dipegang olehnya.


"cuma mainan bukannya kamu juga sudah aku belikan" katanya berubah datar.


"bicaranya sudah tidak lembut lagi" batin Fani melihat Erick dengan tatapan tak percaya.


"jalankan mobilnya Lix aku capek mau istirahat" printah Erick.

__ADS_1


"siap tuan" jawab Felix singkat lalu dia segera menjalankan mobil dan sedikit melirik kearah spion diatasnya.


"benar kata baby sekeras apapun Fani berusaha dia tidak akan menang, kasian juga" batin Felix.


"mas Erick berubah, dia sudah berubah aku gak terima" batinnya. Fani meraih kepala Erick membuatnya menoleh kearahnya dan mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Erick.


"Fani!!" teriak Erick melepas tangan Fani secara kasar.


"kenapa aku tidak boleh menciummu, aku mencintaimu dan ingin menciummu" kata Fani mulai menangis.


"rasanya percuma menjelaskan sama dia kalo sudah dimakan cinta apapun bisa dia lakukan" batin Erick memandang tak suka sama Fani.


"maaf Fan aku gak bisa duduklah yang benar aku capek"


"gak bisa! Gak bisa kenapa? Apa kamu sudah berciuman sama dia atau jangan-jangan kalian juga..." belum selesai Fani bicara Erick sudah memotongnya lebih dulu dengan nada kesal.


"cukup Fani jangan membuatku marah" kali ini Erick berkata dengan dingin melirik keFani.


Deg...


"apa ini kali ini berubah dingin sama aku" batin Fani dengan raut wajah kaget.


Karena tidak mau ribut lagi Erick menyuruh Felix menghentikan mobilngya mendadak.


"hentikan mobilnya" katanya datar. Felix segera menepi menghentikan mobilnya.


"antarkan dia pulang Lix aku akan naik taksi, pastikan selamat" katanya sambil membuka pintu mobil.


"Baik tuan" jawab Felix.


Melihat itu Fani segera meraih lengan Erick menahannya.


"tunggu mau kemana? Jangan pergi!! katanya menahan Erick.


"lepaskan tanganmu Fan"


"nggak!!"


Grrrr....

__ADS_1


*****


__ADS_2