THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
SIKAP YANG BERUBAH


__ADS_3

"panggil papa atau ayah!!!"


"iya deh PAPA, sekarang lanjutin ceritanya lagi"


"mamamu tak bisa diselamatkan karena pendarahan terjadi lagi setelah melahirkan, tapi sebelum itu dia menyuruhku memberimu nama Arandita saja tak peduli anaknya lahir cewek apa cowok juga memberikan sepucuk surat, mamamu berpesan supaya aku menjagamu sampai orang bernama Reyno datang sendiri menjemputmu selain dia tidak boleh ada yang membawa kamu tapi..." pak Sanjaya tertunduk sedih didepan Karin lalu dia memegang wajah Karin dan membelainya.


"tapi apa pa?" tanyanya


"saat papa membawamu pulang istri papa sangat marah dia mengira kamu adalah anak hasil selingkuhan papa, dan memberi papa dua pilihan nak"


"papa memilih membawaku kepanti asuhan!!"


Pak Sanjaya hanya mengangguk. "maafkan papa nak" ucapnya lirih.


Karin menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya lewat hidung, dia gerakan tangannya kearah wajah pak Sanjaya menyeka air mata dengan jemarinya yang panjang.


"aku mengerti pa kalopun aku berada diposisi istri papa aku juga pasti akan melakukan hal yang sama, terima kasih papa sudah mau menjaga juga merawatku sampai papa Rey menjemputku pulang" kata Karin sambil tersenyum.


"sekarang anak angkatmu ini sudah menjadi orang yang hebat ini semua berkat didikan juga dukungan kalian semua, jangan menangis harusnya papa bahagia karena kita bertemu dalam keadaan sehat begini" ucapnya lagi.


"dasar bodoh ini air mata kebahagiaan" pak Sanjaya langsung memegang pinggang Karin dan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berputar-putar dan ketawa lepas.


Mereka berduapun kompak ketawa bersamaan hingga menggema disana. "papa mirip kak Aoi dia paling demen ngangkat aku seperti ini dan selalu menganggapku seperti anak kecil"


"benarkah! Kalo gitu sekarang giliran papa yang angkat kamu hahaha"


"hahaha turunkan aku pa nanti tangan papa bisa patah mau disambung pake gagang sapu hahaha"

__ADS_1


"apa yang anda lakukan!!!" teriak Erick saat mengetahuinya, seketika mereka berdua berhenti ketawa dan melihat kearah Erick juga yang lainnya, pak Sanjaya langsung menurunkan Karin.


"PAPA!! apa maksudnya? Kenapa Karin memanggil papa?"


***


"ternyata kau bayi itu ya nak, aku sangat senang sekali bertemu denganmu saat ini, Vivi gak salah ngomong ternyata" batin pak Sanjaya menahan air bening yang hendak keluar dipelupuk matanya.


Pak Sanjaya yang sudah memastikan dan yakin sekali bahwa Karin adalah bayi mungil yang pernah dirawat dulu membawanya agak menjauh membuat semua orang disana dipenuhi tanda tanya.


Dua bodyguard yang selalu berada disisi Karin hendak mengikuti mereka berdua tapi langsung dicegah sama Johan. Johan bener-bener mampu membuat mereka bisa mematuhi ucapannya.


Begitupula dengan Vivi dia begitu ingin sekali mengikuti papanya yang menarik Karin menjauh dari mereka semua.


"duduk dulu sayang, nanti capek" kata Evan yang mengerti istrinya gak tenang.


"iya mas" ucapnya pendek.


"jauh amat sih mau ngomong begitu saja sampai gak kelihatan batang hidungnya begitu" gerutu Ersya.


"aku jadi penasaran, Han aku mau kesana kalo baby kenapa-napa gimana" sahut Billar emosi.


"sebentar lagi kau bisa kesana Bi" Johan menahan Billar yang hedak berjalan.


"ok sepuluh menit gak balik aku kesana"


"hhmmm"

__ADS_1


Sepuluh menit lebih sudah berlalu tapi Karin juga pak Sanjaya belum juga kelihatan batang hidungnya.


Erick yang sudah gak sabar berjalan mencari mereka berdua diikuti sama semua orang yang ada disana. Mereka semua melewati lorong rumah sakit dengan perasaan yang resah juga kawatir apalagi Vivi.


Dari kejauhan samar-samar mereka berdua mendengar tawa membahana dari keduanya. Karena penasaran dengan apa yang terjadi Vivi mempercepat langkahnya bersama Erick yang lain berada dibelakang.


Dan begitu tiba ditempat mereka berdua. Vivi dan Erick langsung terpengarah dengan apa yang dilihatnya, belum ada lima belas menit mereka berdua sudah sangat akrab begitu, Vivi langsung menyunggingkan senyum dibibirnya. Apalagi saat melihat pak Sanjaya yang sedang mengangkat Karin tinggi-tinggi sambil memutarnya seolah bertemu anaknya yang terpisah lama.


"papa mirip kak Aoi dia paling demen ngangkat aku seperti ini dan selalu menganggapku seperti anak kecil hahaha" perkataan Karin langsung membuat Vivi mematung dan tak percaya dengan apa yang didengarnya, badannya mulai gemetar dengan sigap Evan memegangi badan istrinya.


"maksudnya apa Karin mamanggil papa seperti itu?" ucapnya lirih tapi masih bisa didengar suaminya dengan jelas.


"kita dengarkan dulu penjelasan mereka berdua ya, sabar dulu!" ucap Evan lembut.


"benarkah! Kalo gitu sekarang giliran papa yang angkat kamu hahaha"


"hahaha turunkan aku pa nanti tangan papa bisa patah mau disambung pake gagang sapu hahaha"


"apa yang anda lakukan!!!" teriak Erick saat mengetahuinya, seketika mereka berdua berhenti ketawa dan melihat kearah Erick juga yang lainnya, pak Sanjaya langsung menurunkan Karin.


"PAPA!! apa maksudnya? Kenapa Karin memanggil papa dengan sebutan PAPA!!"


"Erchan kita cuma bercanda" kata Karin sambil berjalan kearah Erick berserta yang lainnya.


"kau itu bukan bocah! Sekarang gak boleh lagi" ketus Erick membuat Karin cemberut.


"banyak banget sih maumu" kata Karin. Erick melotot kearah Karin membuatnya tambah cemberut menyatukan kedua alisnya.

__ADS_1


Sementara yang lain hanya diam melihat adegan dua insan manusia didepannya. Karin memang sedikit berubah sejak bertemu dengan Erick, remaja yang begitu bebas, angkuh, seenaknya sendiri tidak suka diperintah juga mempunyai pemikiran sendiri dalam bertindak kini sudah berubah. Karin yang sekarang lebih suka menghabiskan waktunya didalam rumah, jarang keclub atau mabuk-mabukan bahkan sama para pelayannya juga akrab. Apalagi sifat psikopatnya itu sepertinya sudah tidak ada lagi, semoga saja!!.


****


__ADS_2