THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
PENJELASAN


__ADS_3

"iya dia sedang tidur!!" tanpa sadar Erick keceplosan menutup mulutnya dan Ersya segera mematikan panggilannya.


Setelah tiba Ersya berjalan keresepsionis menanyakan kamar Karin pemilik hotel, begitu mendapat petunjuk dia bergegas menaiki lift lantai paling atas sendiri.


Erick yang bingung karena keceplosan akhirnya membangunkan Karin menceritakan semuanya, mendengar itu Karin cemberut tak suka juga kecewa sama Erick.


"mulutmu bener-bener tak bisa dipercaya Erchan" kata Karin jengkel.


"jangan begitu dong Bi aku beneran baru bangun tidur tadi dan keceplosan begitu saja" Erick berkata sambil menyatukan kedua tangannya seraya memohon.


"Ersya akan datang kesini dan meminta penjelasan padaku Johan juga sudah membaik hanya butuh istirahat beberapa waktu saja dan memulihkan tenaganya" batin Karin menggaruk kepalanya malas.


Baru selesai bicara terdengar pintu sudah mulai diketuk dari luar Erick berjalan membukakan pintu melihat siapa yang datang.


"dimana dia?" tanya Ersya berjalan masuk begitu saja.


"aku disini Sya gak usah keburu duduk saja dulu" ucap Karin santai dan sudah duduk dikursi.


"jangan berbohong lagi aku sudah tahu semuanya aku ingin melihatnya dimana dia sekarang" kata Ersya bertubi-tubi.


Erick cuma melongo tak mengerti melihat keduanya. "sebenarnya apa yang terjadi sih" katanya.


"diam" jawab keduanya kompak bersamaan.


"ukh bener-bener sudah gak dibutuhkan ya hiks" batin Erick meringkuk dipojokan.


"Sya ini semua perintah Johan hanya karena tidak mau melihatmu menangis dia merencanakan sedemikian rupa, sebisa mungkin menutupi apa yang terjadi sebelum melakukan pengobatan secara intensif" tutur Karin.


Ersya meneteskan air mata. "aku akan lebih sakit hati dan menangis jika dibohongi, aku ingin ketemu dia dimana dia berada" air mata Ersya terus mengalir membasahi pipinya membuat Karin menghela nafas kasar sekaligus merasa bersalah.


Sebagai sesama wanita dia tahu apa yang akan terjadi jika kekasihnya kenapa-napa apalagi sampai tidak ada kabar sama sekali menyembunyikan kondisi yang sebenarnya.


Dia beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju pintu.


"tadinya Johan ingin pulang dalam keadaan sehat tapi kalo sudah begini mau gimana lagi ayo ikut kuantar kamu kekamar tempat Johan dirawat"


Ersya dan Erick mengikuti Karin dari belakang mereka berjalan menaiki lift menuju kamar Johan.


"halo Jo bagaimana keadaanmu saat ini" ucap Nana membetulkan infus diatas Johan.


"aku sudah lebih baik bisakah kau melepas infus ini ribet tahu gak" balas Johan mencoba mengubah posisi menjadi duduk.


"sabar nanti kalo sudah waktunya juga dilepas ok" Nana berkata sambil membantu Johan duduk.


"sudah kubilang aku tidak apa-apa"


Cklek


Pintu dibuka begitu saja tanpa ada pengetekukan membuat keduanya menoleh melihat kearah pintu tersebut.

__ADS_1


"Ersya" kata Johan lirih.


Ersya berjalan masuk begitu saja kearah Johan menahan tangisnya yang hampir jatuh.


Plak....


Semua orang disana dibuat menganga melihat Ersya memberi stempel lima jari dipipi Johan. Karin mengajak Erick keluar kamar disusul oleh Nana tanpa bersuara sedikitpun.


"pasti sakit tuh sampe ngecap begitu" kata Erick melirik kebelakang. Karin menepuk pundak Erick sambil tersenyum menakutkan kearahnya membuat Erick bergidik ngeri.


"apa kamu sudah lupa juga pernah membuat stempel lima jari dipipiku" katanya.


Karin mengepalkan kedua tangannya hingga berbunyi didepan Erick membuatnya menelan salivanya dengan berat.


"sini aku juga ingin memberimu stempel sekalian"


"tega kamu sama aku Bi, salahku dimananya?"


"apa kamu belum sadar kesalahanmu itu sangat banyak"


"apa dimana aku pernah berbuat salah?"


Nana hanya bergeleng kepala saja melihat keduanya lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua yang beragrumen tanpa henti.


Didalam kamar perawatan Johan, setelah menampar Johan Ersya menangis sesenggukan didepan Johan membuatnya mengeryitkan dahi.


"Sya" ucap Johan mengulurkan tangannya.


Johan meraih tubuh Ersya mendekapnya begitu erat, dia tahu tanpa sadar sudah membuatnya menangis.


"maafkan aku Sya" katanya pelan.


"jangan pernah berbohong lagi kumohon"


"sorry baby, aku tak akan melakukanya lagi sudah jangan menangis ok" Johan berkata sambil menempelkan dahinya didahi Ersya lalu mencium bibir Ersya lembut.


"seandainya aku tidak menemukan baju perangmu mungkin hingga nanti aku tak akan pernah tahu"


"baju perang!"


"iya terlipat ala kadarnya dipojok lemari"


"jadi begitu, aku lupa membereskannya" batin Johan.


"apa masih sakit, dimana yang sakit perlihatkan padaku"


"jangan kawatir sudah membaik beberapa hari lagi juga sehat kembali"


"bener"

__ADS_1


"iya"


"kalo begitu aku akan menginap disini dan akan merawatmu mulai sekarang"


"terima kasih, maaf sudah membuatmu kawatir"


"kalo begitu jangan diulangi lagi"


"damai itu jauh lebih indah daripada berantem tahu gak" Kata Erick dari balik pintu dengan pandangan lurus kedalam.


"damai terus tidak menarik ada kalanya berantem juga perlu guna melemaskan otot" balas Karin yang berada di bawahnya yang ikut mengintip.


"pikiran macam apa yang ada diotakmu, bahkan negara Palestina saja merindukan hidup damai sampai kebawa mimpi walau tidur berdiri"


"lho..."


"apa kalian berdua tidak bisa masuk" suara Johan mengagetkan keduanya membuat mereka berbalik badan seketika.


"sorry Jo kami harus pergi maaf mengganggu" kata Karin spontan lalu menutup pintunya menyeret Erick keluar entah kemana.


Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar sambil bercengkrama disepanjang jalan, Erick memperkenalkan Karin aneka jajanan yang dijual oleh pendagang kaki lima karena selama diJakarta Karin tidak pernah menyentuh jajanan yang dijajakan oleh mereka pendagang kaki lima kecuali Ersya dulu.


Dia menikmati apa yang ditawarkan kekasihnya walau awalnya ragu juga enggan mencicipi.


Karena terlanjur tidak membawa kendaraan mereka kembali dengan jalan kaki, setelah jalan cukup lama sampai Beratus ratus meter jauhnya bahkan kiloan dan hampir sampai didekat hotel seorang wanita datang menghampiri.


"Johan sudah sembuh sudah saatnya aku pergi ke Amerika ketempat profesor gila itu berada" batin Karin.


"oh ya Erchan sepertinya besok atau lusa aku akan keAmerika" kata Karin nendahului


"bener kamu gak bohong, memangnya ada urusan apa kamu kesana?" balas Erick ragu.


"beneran aku gak bohong, apa aku harus menjelaskannya lebih detail, apa kau meragukan diriku Erchan"


"baiklah, kau tidak memintaku menemanimu"


"tidak kali ini aku akan berangkat sendiri"


Ditengah jalan menuju hotel mereka berdua dihadang oleh seorang wanita tadi, wanita itu tampak marah dan kesal lalu berjalan mendekat.


Dia mengangkat tangannya begitu saja dan melayangkan kearah Karin, Karin sendiri cuma bisa bengong karena kejadian itu terlalu mendadak.


Plak....


Tamparan keras mendarat dipipi mulus Karin meninggalkan bekas merah disana.


"apa yang kamu lakukan" teriak Erick memeluk Karin mengelus pipinya.


"ini semua gara-gara dia, semua karena dia" ucap wanita itu.

__ADS_1


*****


Terima kasih sudah like, komen dan lainnya dukungan anda sangat berarti bagi author 😘🥰🤗


__ADS_2