
Sesaat kemudian Karin membuka matanya, dia tak lagi kesakitan nafasnya juga kembali normal detak jantugnya pun sama. Dia melihat kanan kirinya lalu terpaku pada sesosok pria yang membersihkan pecahan vas bunga yang dilemparnya.
"Erchan kamu sedang ngapain?" tanyanya pelan dan berusaha untuk duduk.
"kamu sudah bangun Bi, hati-hati ayo kubantu" balasnya menghentikan aktifitasnya dan beralih membantu Karin untuk duduk.
Karin duduk dan bersandar kebelakang berlahan dia menghela nafas pelan. "maaf aku selalu membuatmu kawatir" katanya memandang seorang pria melankolis didepannya.
"kalo begitu kamu harus tetap semangat dan kuat supaya aku bisa melihatmu selamanya, kalo tidak aku tidak akan memaafkanmu!!" ucapnya pelan didekat wajah Karin sambil membelai pipinya.
Karin tersenyum senang mendengarnya. "iya!!" balasnya pendek.
"kalo suatu hari terjadi sesuatu padaku hingga aku melupakan semuanya apa kau mau mengingatkan aku"
"jangan bicara yang aneh2 tidak terjadi sesuatu denganmu ok"
"musuhku begitu banyak Erchan, sejak masih belasan tahun tanganku sudah terlalu banyak membunuh hingga saat ini"
"aku tahu Bi Johan sudah menceritakan semuanya, kau melakukan itu pasti ada alasannya dan aku yakin pasti hatimu sangat bertentangan dengan apa yang telah kamu lakukan"
Mendengar hal itu Karin terkejut lalu tersenyum, berlahan dia mendekatkan bibirnya sampai menempel kebibir Erick membuatnya melongo. "terima kasih! Aku senang mendengarnya" ucapnya pelan dan memperdalam ciumannya.
"agresif!!" katanya saat Karin melepas tautannya. Karin hanya terkekeh mendengarnya.
"tapi aku suka, lagi dong baby!!" bisiknya ditelinga Karin membuat dia meremang kegelian, lalu beralih kebibir mengulangi apa yang tadi mereka lakukan saling bertautan, mengexsplor, dan bertukar saliva.
"aku mau buang pecahan vas bunga dulu gak apakan" kata Erick setelah cukup lama menikmati apa yang dilakukannya.
"iya!!" ucapnya pendek.
Kini tinggal Karin sendirian didalam kamar dia melihat infus yang masih menancap ditangannya, juga beberapa peralatan lainnya didekat ranjang yang terhubung kebadannya.
Tanpa ragu atau takut sedikitpun dia mencabut semuanya lalu mengembalikan ketempat semula setelah itu dia berbaring kembali. Dia mengingat lagi saat dirinya menemui Jun mengingat kembali apa yang diucapkannya.
__ADS_1
"mencintainya, apa maksud Jun dia mencintai Yoko ya" batinnya sambil melihat langit-langit kamarnya.
"ko rasanya ada sesuatu yang aku tidak tahu ya, apa mungkin Yoko menolak kak Aoi karena dia juga suka sama Jun" batinnya lagi.
Cklek...
Suara pintu terbuka terlihat Erick yang masuk dan berjalan mendekat dengan senyum membahana lalu berubah diam saat melihat semua yang terpasang dibadan Karin pada lepas dan tertata rapi diatas meja.
"apa ini? Kenapa kamu melepas semuanya? kalo terjadi sesuatu lagi gimana Bi? Dasar kau ini bentar aku panggil Nana dulu" katanya yerocos tanpa berhenti.
"aku tidak apa-apa Erchan tadi itu aku habis mimpi buruk hingga membuat detak jantungku bergemuruh dan sesak" kata Karin membuat Erick menghentikan langkahnya dan melihat kearah Karin.
"Erchan sini naik dan tidur ini sudah larut malam aku capek"
"beneran kamu gak apa-apa"
"iya Erchan"
Erick hanya diam tetap memandang Karin dan melipat tangannya didepan dada.
"kamu beneran gak apa-apa!!" ucapnya lagi membuat Karin mendesah kesal.
"kamu mau tidur atau tidak terserah kamu" katanya dengan sinis lalu membaringkan diri dan mamakai selimut.
Dalam diam Erick berjalan mendekat setelah menghela nafas panjang, Dia berbaring disamping menghadap Karin diatas selimut sementara Karin tidur dibawah selimut menghadap Erick posisi mereka kini berhadapan.
"Erchan apa kamu masih ingat sama seorang profesor Tama Yamashita yang pernah aku sebutkan waktu berkunjung kerumah istri pak Toni" kata Karin.
"oh itu ya, masih ingat kenapa memangnya?" tanyanya.
"dia seorang peneliti obat-obatan, dia juga membuat berbagai serum dan vaksin juga mengembangkan obat lainnya aku diam-diam kerja sama dengannya, ada suatu obat yang belum selesai kami teliti hingga saat ini berikut serta penawarnya"
"kau terlalu pandai aku takut kepintaranmu akan menjadi musuh dalam dirimu"
__ADS_1
"mungkin juga, dari semua yang pernah aku coba dua hal yang membuatku tertarik yaitu penelitian terhadap tubuh manusia dan teknologi tapi ternyata pusing juga ya"
Erick hanya diam mendengar Karin bercerita. "sekarang tidurlah sudah malam" katanya
"kau tidak penasaran dengan obat yang belum selesai itu Erchan"
"tidak!!"
"kau menyebalkan Erchan"
"biarin aku ngantuk cepat tidur!!" Erick mendekatkan wajahnya lalu dia mendaratkan kecupan didahi Karin. "cup"
"tidurlah semoga besok harimu menyenangkan" ucapnya pelan menggenggam tangan Karin dengan lembut menaruhnya dipipi.
"iya!!" jawabnya pendek. Dalam hati dia sangat senang mendapatkan perhatian dari Erick hingga senyum-senyum sendiri.
Esoknya Kiran, romo juga bunda memandang heran sama mereka berdua karena tidur seranjang walau Karin berada dibawah selimut dan Erick berada diatas selimut tetap saja hal itu sangat tabu dikalangan rakyat Indo. Mereka semua datang karena ingin melihat kondisi Karin mengingat semalam.
Kiran cemberut tak suka lalu berjalan mendekat kearah adiknya yang masih tertidur, dia mendesah kesal apalagi saat mendapati semua peralatan yang dipasang oleh Nana sudah tertata rapi diatas meja.
Romo juga mendekat membangunkan putranya yang masih tertidur disamping Karin.
"le bangun sudah siang" ucap romo sambil menepuk badan Erick berkali-kali dan sedikit kasar.
"ya, romo ada apa?" katanya pelan juga parau khas orang baru bangun tidur.
"bangun sudah siang semua pada nunggu dimeja makan" sahut bunda.
"gak ikut makan pagi, capek habis olahraga mulut semalam mau tidur lagi kalian tinggal saja"
"HAH!! apa maksudmu?" teriak bunda.
Erick tak menjawab lalu berbalik badan membelakangi Karin.
__ADS_1
"jelaskan apa yang terjadi semalam cepat, plak!!" karena jenggkel bunda langsung manapok kepala Erick dengan kasar.
*****