
Suara pesawat pribadi menggema diseluruh rumah membuat seisi rumah terkejut dan berlari keluar ingin tahu apa yang terjadi?.
Mereka semua terperangah saat pesawat mulai mendarat dilandasan yang berada dibelakang rumah, dan lebih dari 50 pengawal berbadan besar juga tinggi berparas Jepang keluar dari badan pesawat itu.
"mereka semua siapa pak?" tanya bi Ratna menghampiri pak Aldo suaminya.
"aku juga tidak tahu bu" jawab pak Aldo tanpa melihat kearah istrinya.
"jangan-jangan mereka mau membajak rumah ini lagi pak" sahut pelayan lainnya.
"aku tidak mau seperti dulu lagi, lebih baik mati saja daripada harus seperti itu" sahut yang lain.
"itu benar, kita sudah damai mendapat majikan sebaik tuan muda Karin kita harus mempertahankan rumah ini sampai beliau tiba apapun itu" semua bersahutan melontarkan komentar masing-masing yang tak rela jika rumah itu harus dibajak lagi dan mendapat perlakuan buruk untuk kedua kalinya.
"tenang dulu kalian semua, kalo mereka berniat membajak rumah ini harusnya mereka sudah menyerang dari tadi" kata pak Aldo dengan posisi yang sama. Dia berdiri tegak tak kalah dengan para pengawal yang berada didepannya walau dalam hati dia sebenarnya juga takut.
Kejadian yang lampau masih teringat jelas difikiran juga hati semuanya, dimana mereka semua diperlakukan semena-mena hingga beberapa dari mereka harus kehilangan yawa.
Pak Aldo berjalan maju karena tidak bisa bicara bahasa Jepang pak Aldo menggunakan bahasa inggris dengan fasih dan berhati-hati supaya tidak membuat mereka semua marah.
"kalian semua darimana dan ada keperluan apa?" tanya pak Aldo tegas dengan bahasa inggrisnya. Yang dibelakang berdiri tegang sambil menelan saliva masing-masing.
Salah satu dari para pengawal bicara mewakili semuanya menggunakan bahas inggris.
"kami semua dari MIG diperintahkan menjaga tempat ini atas perintah tuan Aoi" kata pengawal itu dengan tegas.
"apa buktinya?" tanya pak Aldo.
__ADS_1
Pengawal itu mengambil hpnya lalu menelfon tuan Aoi menggunakan VC dan diberikan kepada pak Aldo. Setelah bicara cukup lama pak Aldo akhirnya menerima semuanya dan menyuruh mereka semua menepati posisi masing-masing.
Malam hari disaat mereka semua beristirahat terdengar suara gerbang terbuka dengan sendirinya dan mobil sang majikan pun tiba. Segera mereka semua berjalan kerumah utama untuk menyambutnya, mobil mewah suport warna silver metalik anti badai plus serbaguna mulai memasuki pelantaran dan parkir tepat didepan pintu, dengan cemberut sang majikan mulai keluar dan berjalan masuk.
Semuanya menyambut Karin sang majikan dengan senang. Disusul dengan Johan sambil menggendong tunangannya berjalan masuk.
Nampak wajah pak Aldo dan bi Ratna terkejut saat melihat wanita yang tertidur dalam gendongan Johan.
"Ersya!!!" ucap keduanya kompak. Karin yang hendak berjalan kedalam berhenti begitu mendengarnya.
"kalian kenal dia!?" kata Karin sama keduanya.
"i, itu...." mereka berdua bingung harus bicara apa karena wanita yang digendong Johan adalah keponakan mereka yang berada didesa.
Terakhir kali mereka berdua menghubungi keponakannya saat rumah ini baru selesai dan diboyong keJakarta, mereka berdua berniat ingin mengajak keponakannya berkerja ditempat yang sama karena dia sudah tak punya siapa-siapa selain mereka berdua.
Namun semua itu kandas ditengah jalan saat Jun membuat bangkrut sang pemilik rumah dan mengambil alih rumah sebagai pelunasan hutang, dan semua berubah dratis rumah itu dijadikan club malam dan pengedar berbagai obat-obatan kerja rodi juga penyiksaan sering mereka alami hampir setiap hari, apalagi jika mereka tidak mau menuruti perintah sang majikan.
"APA!! Tunangan!!" jawab keduanya kompak tak percaya.
"kenapa kalian terkejut begitu? Memang ada yang aneh ya?" sahut Johan yang masih berdiri.
Pak Aldo dan bi Ratna saling melempar pandangan, pak Aldo mengangguk tanda dia harus menceritakan semuanya.
"a anu den sebenarnya Ersya keponakan kami" kata bi Ratna memulai.
"HAH!" kini Johan dan Karin yang dibuat terkejut.
__ADS_1
"dunia tak seluas daun kelor, asal kalian tahu saja Ersya selalu menunda pernikahaannya sebelum menemukan kalian berdua" kata Karin. Johan berjalan menuju sebuah sofa dan duduk disana memangku kekasihnya.
"coba bayangkan jika kalian berdua tak pernah ditemukan bisa-bisa seumur hidup mereka berdua gak bakal menikah" katanya lagi dengan kesal.
"maafkan kami den kami ingin sekali menghubungi keponakan Kami tapi kami berdua lupa nomor telfonnya" kata pak Aldo disamping bi Ratna.
"kenapa kalian bisa sampai putus kontak? Ersya hampir saja putus asa mencari kalian berdua" tanya Johan.
"terakhir kali saya menghubungi Ersya setelah diboyong keJakarta disaat rumah ini baru saja selesai, kami berdua berniat mengajak Ersya berkerja bersama kami tapi sebelum keinginan itu terwujud rumah ini sudah diambil alih sama Jun dan semua koneksi diputus" tutur pak Aldo.
"hmm begitu mungkin sudah jodohmu Jo, selamat Jo akhirnya kau sudah bisa menikah juga sama Ersya aku mau istirahat capek banget" Karin bicara sambil berjalan menuju kamarnya tak lupa dia mengambil hp yang berada disaku celananya melihat pesan saja yang berada disana.
"apa kalian tahu orang tua Ersya?" tanya Johan. Mereka berdua hanya diam saja.
"o orang tuanya sudah meninggal den kecelakaan" jawab bi Ratna Johan hanya diam.
"begitu ya pantes dia menganggap paman dan bibinya begitu penting" batin Johan.
Johan berdiri hendak berjalan kekamarnya. "nostalgianya besok saja kami mau istirahat dulu" kata Johan lalu berjalan menuju rumah belakang.
"iya den gak apa-apa silakan" jawab pak Aldo.
"apa gak apa ya pak Ersya sama den Johan?" tanya bi Ratna sama pak Aldo suaminya tanpa mengalihkan pandangan dari Johan yang membawa Ersya menuju rumah belakang.
"menurutku gak apa bu, ibu sendiri kan lihat den Johan sangat mencintai Ersya" balas pak Aldo dengan pandangan yang sama dengan sitrinya.
Sesampainya dikamar Johan langsung membaringkan tunangannya dikasur berukuran 180×200 dan menyelimutinya, tak lupa dia mendaratkan kecupan sayang didahi juga bibirnya setelah itu berjalan kekamar mandi, tapi tangan Ersya meraih tangan Johan membuatnya menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"jangan pergi, temani aku sebentar saja!!"
******