THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
KEMARAHAN ROMO


__ADS_3

Dibangsal Erick keluar mobil tanpa mempedulikan Fani. Dia berjalan menemui orang tuanya untuk mengutarakan niatnya ingin pergi keParis bersama Karin.


Fani sendiri langsung berlari menyusul Erick setelah dekat dia menarik lengan Erick.


"mas tunggu" katanya sambil menarik lengan Erick.


"apalagi sih Fan, pusing aku dengan sikapmu"


"apa bener kamu gay!?" Fani melontarkan pertanyaan yang membuat Erick mengeryit dan diam.


"apa didunia ini kekurangan wanita sampai kamu berubah seperti ini" katanya lagi.


"pertanyaan itu lebih baik kamu lontarkan sama dirimu sendiri" kesal Erick.


"ok, aku akan jauhi mas tapi dengan syarat kalo mas punya pacar wanita bukan pacar pria seperti ini, jelas Fani gak terima kalo mas Erick berubah melenceng sampai segini jauhnya"


"tidak bisa Fan, aku sangat mencintai Karin, dan aku sangat nyaman bersamanya" terang Erick membuat dua orang paruh baya yang tak sengaja lewat juga ikut mendengarnya.


"maksudnya gimana? Putra bisa kau jelaskan sama ucapanmu itu?" tanya seorang wanita paruh baya berjalan mendekati mereka berdua bersama suaminya.


Erick langsung mendelik mendengarnya, apalagi saat melihat kedua orang tuanya berjalan mendekat, wajahnya mulai bingung keringatpun mulai keluar dari sela-sela rambut didahinya. Tidak tahu harus mencari alasan apa karena tidak mungkin dia berkata jujur karena ibunya punya riwayat jantung.


"bu, bu, bunda juga romo" katanya terbata.


"bisa kau jelaskan sama ucapanmu itu Putra"


"perkatan yang mana romo?" tanyanya.


"kalo mas Erick gak bisa ngomong biar Fani yang ngomong" sahut Fani yang memang disengaja.


"Fani" teriak Erick.


"biarkan dia ngomong kami berdua juga ingin mendengarnya" kata romo santai.

__ADS_1


"tidak ada apa-apa romo lebih baik kalian jalan-jalan santai saja atau duduk ditaman sambil minum teh" kata Erick yerocos tanpa henti dan gugup.


"gak usah ditutupi mas kalo kamu itu sekarang gay!!" celetuk Fani.


Kedua orang tua Erick langsung mendelik juga terkejut dengan uacapan yang keluar dari mulut Fani.


"bener itu putra" tanya bunda tak percaya.


Erick menunduk sambil mengempalkan tangannya. "jawab pertanyaan bunda, putra" pekik romo. Erick hanya diam mulutnya serasa kaku tak mampu berucap.


"dia habis menginap dihotel om bersama Karin, berciuman lagi dikoridor" kata Fani membuat kedua orang tua Erick terkejut kedua kali.


Sang bunda langsung sesak nafas mendengarnya sambil memegangi dadanya. Berlahan badan bunda lemas dan ambruk didada suaminya, segera romo menggendongnya menuju kamar.


"panggil dokter kita sekarang" teriak romo.


Walau bingung dan takut tapi Erick masih bisa mendengarnya, segera dia mengambil hp dan menelfon dokter pribadi.


Beda dengan Fani dia bukannya panik justru tersenyum penuh kelicikan seolah sudah direncanakan.


Tidak lama kemudian sang dokter datang, dia segera berlari menuju kamar tempat sang bunda istirahat dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.


"lain kali harus jaga emosi supaya tidak drop lagi, saya akan menuliskan resepnya dan segera diminum" kata sang dokter.


"terima kasih lain kali saya akan hati-hati menjaganya" ucap sang romo sambil berjalan mengantar dokter keluar.


Romo menarik nafas dalam-dalam lewat hidung dan membuangnya lewat mulut lalu berjalan menemui putranya.


"putra ikut romo" katanya lalu berjalan keluar menuju sebuah ruangan tempat dia berkerja dirumah.


Erick menyusul romonya dari belakang dia tahu apa yang akan romo lakukan setelah ini. Mereka berdua menuju ruang kerja dan hanya berdua saja, Romo memandang putranya dengan serius dan tajam juga dingin, diruang kerja itu sang romo berubah menjadi orang lain bagi seluruh keluarganya. Dia akan berubah tegas dan tidak bisa dibantah setiap kata yang terucap dari mulutnya.


Cuma diruang kerja dia akan dingin dan tegas dalam setiap tindakannya, tempat itu seperti neraka dingin bagi yang sudah masuk kesana, sedangkan diluar romo akan ramah dan santai, penyanyang bagi keluarganya.

__ADS_1


Erick menunduk tak berani menatap romonya, dia tahu, dia juga sadar jika apa yang dia lakukan sudah salah dan melenceng dari agama, tapi perasaan cintanya sama Karin juga tidak bisa dipungkiri semakin dia menghindar dan menjauh maka perasaan itu semakin tumbuh dan kuat.


"telfn dia sekarang" ucap romo datar dan dingin.


"i,iya" ucapnya terbata. Erick segera mengambil hpnya dan berkutat mencari nama "Chibi tersayang" disana lalu menekan kontaknya hingga membuat panggilan.


Romo menyatukan kesepuluh jarinya didepan wajah memandang putranya dengan serius dan dingin.


"romo ingin tahu sejak kapan kau melenceng putra? Ada banyak wanita didunia dan kau bisa pilih setiap wanita yang kau inginkan" katanya datar.


"mohon maafkan putra romo, putra tidak bisa memungkiri kalo putra sangat mencintai Karin" ucap Erick tetap menunduk sedangkan sang romo hanya mengangkat sebelah alisnya saja.


"ka, ka, kami memang tidur sekamar dan seranjang tapi jujur kami tidak melakukan lebih, walau Karin gay dia tidak pernah menggoda atau memaksaku melakukan lebih, pe, pe, percayalah sama putra, putra masih perjaka dan tidak rusak"


"jauhi Karin, dan menikahlah dengan Fani atau kau bisa pilih calonmu sendiri kecuali Karin"


"putra tidak mau! Putra akan menikah sama orang yang putra cinta dan membuat putra nyaman dia adalah Karin"


"kau menentang romo"


"maaf, tapi putra memang tidak bisa lebih baik putra tidak menikah!!"


Brak....


Romo langsung menggebrak meja mendengar apa yang keluar dari mulut anaknya, membuat Erick kaget tapi tetap menunduk. Suara gebrakan meja juga terdengar sampai keluar menerobos pintu merambat keudara hingga masuk ketelinga seseorang yang baru tiba.


Karin yang baru sampai dan berjalan keruang kerja sang romo bersama seorang pelayan disampingnya langsung terkejut mendengarnya. Johan dan Ersya yang mendengarnya juga langsung terpaku baru kali ini dia tahu sang romo yang lagi marah hingga menggebrak meja seperti itu.


Ketiganya mulai mendekati pintu ruang kerja romo dan siap masuk untuk mendengar apa yang akan romo katakan. namun ketiganya terkejut dan terpaku kedua kali saat mendengar suara tamparan yang keras dari dalam.


PLAK....!!!!


Mereka bertiga saling memandang satu sama lain, bertanya pada diri sendiri ada gerangan apa yang membuat romo marah sampai seperti itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2