
"jangan mencoba menyentuhnya lebih dari ini" ucap pria itu dingin tatapannya begitu tajam menusuk sanubari. Sorot matanya sangat marah melihat jarum suntik itu menyentuh kulit Karin.
Ibarat induk yang langsung mengeluarkan taring juga cakarnya sekaligus disaat anaknya dalam bahaya.
"kau!!" teriaknya geram.
Dia hempaskan tangan itu lalu menendangnya membuat pria itu terjungkal kebelakang.
"bedebah menganggu orang saja, Ran Ran bukannya kau anggota dari Mateo sejak kapan kau berkhianat"
"aku tak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu, jangan melakukan penelitian yang tidak berguna kalo tidak aku sendiri yang akan menghancurkannya"
Pria itu berdiri sambil menyentuh perutnya yang masih sakit sekaligus menggertakkan gigi.
"heh memang tahu apa kau tentang penelitian yang aku lakukan"
"penelitian yang kau lakukan merugikan orang lain hanya demi membuat tubuh tidak bisa tua menggunakan orang sebagai kelinci percobaan berbagai obat"
"bukannya itu menarik lihatlah F dia menciptakan sesuatu yang mustahil orang lain ciptakan apa salahnya jika aku juga mencobanya, bahkan Mateo saja tertarik padanya dan ingin merekrutnya tapi sayangnya F menolak semua itu hingga terjadilah perang yang tak bisa dihindari membuat keluarganya tercerai berai"
"walaupun kau bisa hasilnya akan berbeda, berani kau melakukannya aku yang akan menghalangimu"
"haaaaah mari kita tentukan hari ini juga Ran Ran"
"jadi ini keputusanmu" Ran Ran yang mengerti maksud ucapan dari lawannya menerima dengan senang hati karena dia juga berniat membuat lawannya berhenti melakukan penelitian berbahaya.
Pertarungan terjadi antara dua pria dari pihak berbeda, Ran Ran dari pihak Karin mantan dari anggota Mateo lalu lawannya dari pihak Mateo sendiri yang melakukan penelitian tersembunyi dan diketahui oleh Ran Ran sendiri.
Apartemen pusat Jakarta yang disewa Felix sama Fani, disana dia membuat Fani menjadi pelayanannya menyuruhnya menjalankan tugas rumah berikut memasak juga tentunya.
Membuat Fani uring-uringan karena Felix kadang mengerjainya untuk mencairkan suasana.
Hp Felix berbunyi dia mendelik saat mendengar suara seseorang dari seberang, segera dia beranjak dari tempat duduknya berlari keluar Fani yang tahu segera berlari memegang erat lengan Felix.
"aku ikut aku gak mau sendirian ditempat gak dikenal" cerocosnya membuat Felix cemberut.
"jangan kawatir tak ada yang berani menculik cewek belut sepertimu" ketus Felix.
"kau yang membawaku dimana tanggung jawabmu"
"ukh dia menghatamku begitu telak" betin Felix lalu mendesah kesal.
"Lichen ayo" ucapan Fani membuat Felix terkejut.
"tadi kau bilang apa?"
__ADS_1
"hal yang sama tidak bisa diulang kembali nama itu pantas dengan wajahmu yang kecewek an" ucap Fani sambil berjalan keluar.
"hahaha dimana mana yang namanya mulut wanita memang selalu sadis ya" gerutunya sambil berjalan menyusul Fani yang sudah keluar duluan.
Mereka berdua menaiki mobil porsche menuju ketempat yang dituju. Telfon yang Felix terima sebenarnya dari salah satu anak buahnya yang diam-diam mengikuti Karin dia memberi kabar Karin dibawa kesuatu tempat dan diikuti oleh pihak lain juga.
Tentu saja dia akan segera meluncur kealamat yang sudah disharlok oleh anak buahnya, karena tanggung jawab menjaga Erick masih berada ditangannya.
Sesampainya disana dia segera keluar tanpa mempedulikan Fani didalam, Fani yang tahu langsung keluar dan berlari mengikuti Felix dari belakang.
"ngapain dia kemari?" tanya Fani dalam diri sendiri sambil terus berlari mengikuti Felix.
Sisupir dan temannya masih berada didepan pintu tetap menjaga pintu tanpa mengetahui jika didalam terjadi perkelahian.
Tanpa bertanya sedikitpun Felix membuatnya pinsan ditempat dan masuk begitu saja.
Brak...
Felix menendang pintu begitu keras sambil berteriak. "baby kamu tidak apa-apa sayang!!" teriaknya lalu diam seletika saat melihat dua orang pria sedang berkelahi.
"gayamu gak mbois Lichen" kata Fani dengan pandangan mengejek.
"diam kau nama apa yang kau berikan padaku itu" balas Felix dengan tak suka.
"ok, kamu gimana?" tanya Felix.
"ini urusan kecil jangan kawatirkan aku" jawab Ran Ran Felix mengangguk mengerti dia segera menuju tempat Karin dibaringkan lalu menggendongnya keluar menuju mobil.
Fani sendiri teriak histeris saat mengetahui Erick diikat dikursi dalam keadaan tak sadarkan diri.
"mas Erick bangun apa yang terjadi padamu?" teriaknya tapi Erick tak bergeming sama sekali. Dia segera membuka tali yang mengikat badan Erick memapahnya keluar menuju mobil.
Felix yang tahu segera membantu Fani yang sempoyongan berjalan memapah badan Erick.
"Na pergi keapartemen sekarang bawa peralatan medismu" Felix langsung menelpon Nana begitu selesai mendudukkan Erick dibangku belakang bersama Karin.
"apartemen siapa?" tanya Nana dari seberang telepon.
"mm apartemen Erick" Felix mematikan telf secara sepihak setelah itu melajukan mobilnya begitu cepat.
Fani melihat kebelakang wajahnya begitu sedih saat melihat Erick masih pingsan.
"kasian mas Erick semua ini gara-gara wanita ini aku ingin sekali mencekiknya jika tidak ada ada Felix" batinnya geram dan marah melihat Karin disamping Erick.
Begitu tiba diapartemen Felix segera membopong badan Karin membaringkannya ditempat tidur terpisah.
__ADS_1
Fani memapah Erick membaringkannya ditempat tidurnya sendiri.
Nana yang datang langsung memeriksa keduanya.
"tidak terjadi hal yang serius mereka berdua hanya pingsan"
"fuh" keduanya menghela nafas lega.
"aku pergi dulu, dihotel ada rapat"
"ya maaf mengganggu"
"hmm"
Tinggal mereka berempat Fani berada dikamar Erick, sedangkan Felix mencoba menghubungi pria bernama Ran Ran.
"aku tetap disini merawat mas Erick" kata Fani merajuk.
"tidak boleh setelah sadar nanti kita balik" balas Felix.
"dasar bencong pelit huh" Fani masuk kamar Erick begitu saja lalu duduk disamping ranjang. Dia menggenggam tangan Erick melihat wajahnya begitu lekat.
"dia sangat tampan" gumamnya lirih.
Felix yang melihatnya cuma berdecih tak suka lalu pergi keruang tengah menghidupkan tv mencari hiburan sambil menunggu Karin sadar.
Ditempat semula Ran Ran masih berkelahi dengan musuhnya, dia mengangkat kakinya keatas lalu dihantamkan kakinya kepundak lawan disaat lawan lengah membuat tulang dipundaknya retak.
"akh tanganku, aku akan membalasmu" teriaknya.
"coba saja aku memang sengaja membuatnya begitu, lebih baik kau merakyat daripada melakukan perkerjaan kotor"
"diam kau tahu apa kau tentang perkerjaan yang kujalani"
"aku tahu segalanya, kali ini aku membiarkanmu jika kita ketemu lagi jangan harap kau bisa lolos" Ran Ran berkata sambil berjalan keluar meninggalkan rumah itu menuju apartemen dengan dijemput salah satu mata-matanya.
"kita kemana tan?" tanya sisupir.
Ran Ran membuka hpnya melihat titik lokasi dimana Karin berada. Dia nampak begitu lega saat melihat pesan dari Felix jika Karin sudah aman juga sudah diperiksa oleh Nana.
"kita keapartemen X" titahnya sama sang supir.
"baik tuan" jawab sang supir sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen X tempat Karin berada.
*****
__ADS_1