THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MENJENGUK KARIN


__ADS_3

Ersya melihat Karin juga Kiran bergantian berkali-kali sembari takjub dengan wajah mereka berdua, hingga keluar gambar waru dari kedua matanya.


"waaaaaaah ternyata yang asli jauh lebih tampan, baru kali ini aku lihat manusia kembar" ucapnya terpesona. Nana juga Johan hanya ketawa geli.


"Sya, perkenalkan tuan ini kakaknya baby, namanya tuan Aoi" kata Johan memperkenal Kiran. Ersya sendiri masih memandangi Kiran dengan wajah yang berbinar-binar.


"tuan dia..." belum selesai bicara Kiran sudah memotong lebih dulu.


"calon istrimu! Dia lucu ya!" setelah berbicara Kiran berjalan keluar menuju parkiran.


"Sya bisakah kau itu minta maaf gitu sama tuan Aoi" Ersya langsung sadar mendengar ucapan Johan.


"lho kenapa aku harus minta maaf"


"gak sadar apa tadi ngamplok begitu sama tuan"


"ya kan gak tahu kalo kakaknya comut, lagipula sesekali gak apalah peluk cowok ganteng hehehe"


"Sya!!" Johan mulai cemberut dengan kelakuan kekasihnya itu.


"haduuuh calon imamku mulai cemburu ya, awas cepet tua lho cini cini aku peluk biar sembuh" goda Ersya sama kekasihnya.


Ersya memeluk Johan dengan mesra didepan Nana juga Billar yang masih tidur.


"jangan kawatir hatiku cuma milikmu cup" CIPIKApun langsung mendarat, membuat Johan melongo dibuatnya.


"hei kalo mesra-mesraan jangan disini" pekik Nana menghentikan Johan yang hendak mencium bibir kekasihnya.


Diruang perawatan lain, Vivi yang sudah sadar dari tadi dan ingin bertemu orang tuanya. Evan menghela nafas kasar melihat istrinya yang dari tadi hanya diam saja.


"sayang kamu sebenarnya kenapa? Kalo kamu diam saja gimana aku bisa tahu dan mengerti bagaimana keinginan kamu?" Evan mulai membuka pembicaraan tapi Vivi masih diam saja.


"ngomong dong sayang, ngomong, suamimu ini harus ngapain" Evan berbicara dengan nada putus asa.


"peluk aku mas!!" pinta Vivi pada Evan.


Evan duduk disebelah istrinya lalu memeluknya begitu erat. Vivi menyandarkan dirinya didada bidang suaminya.

__ADS_1


"aku cuma teringat sama adik bayi yang pernah dibawa papa saja dulu"


"apa segitu pentingnya ya sampai membuatmu seperti ini"


"iya, penting sekali, karena aku sudah menganggap bayi itu seperti adikku sendiri, aku ingin ketemu sama papa sekarang"


"sebentar lagi sampai aku sudah mengabari papa dan mama tadi, satu lagi Karin masuk rumah sakit juga sayang, Erick bilang tadi pagi pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang" jelas Evan sama istrinya.


"antarkan aku kesana sekarang ya, aku mau menjenguknya mas" Vivi yang mendengarnya tak sabar ingin melihat keadaan Karin.


"tapi kamu masih sakit, badanmu lemah" cegah Evan.


"kan bisa naik kursi roda, aku ingin melihatnya sekarang pokoknya" Vivipun bersikeras ingin menjenguk Karin dan Evan tak bisa menolaknya.


Vivi duduk dikursi roda dan didorong oleh Evan suaminya, mereka berdua menuju kamar tempat Karin dirawat. Belum tiba dikamar Karin ditengah jalan mama orang tua Vivi sudah tiba.


"nak mau kemana? bukannya harus istirahat dikamar sampai sembuh" sapa mama yang berjalan mendekati Vivi dikursi roda.


"Vivi mau ketemu temen ma, oh iya papa mana?" tanya Vivi balik. Karena tidak melihat papanya.


"iya ya kemana ya papa kamu"


"baik nak, kamu sendiri gimana?"


"alkhamdulilah baik ma, tapi dia yang gak baik" Evan tersenyum kearah mama mertua lalu gantian melirik keistrinya.


"bener itu nak, ada apa cerita saja kalo ada yang difikirin sama mama juga suamimu"


"gak ada ma, oh iya ma, mama tunggu Vivi dikamar Vivi saja ma sebentar lagi Vivi kesana" kata Vivi mengejutkan mamanya.


"kenapa?" tanyanya heran.


"mau jenguk temen dulu ma sebentar saja"


"baiklah mama kekamar perawatan kamu duluan ya" walau heran dengan ucapan anaknya tapi mama Vivi tetap menuruti anaknya.


"makasih ma"

__ADS_1


Vivi memperhatikan mamanya sampai bener menghilang dari balik tembok.


"coba telf papa mas, dimana papa sekarang?" ucap Vivi sama suaminya.


"sebentar ya, sambil jalan kekamar Karin saja biar cepet selesai" Evan menekan hadsed yang berada ditelinga lalu mendorong kursi roda menuju kamar tempat Karin dirawat.


"halo pa, papa dimana?" katanya pada seseorang diseberang telf.


"sudah hampir tiba ko, tadi beli sesuatu didepan dulu"


"temui kami dikamar VVIP 32 ya pa, kami menunggu didepan" sahut Vivi membuat Evan melongo tak bisa bilang apa-apa lagi.


"baiklah kalo begitu papa langsung kesana" sambungan telf pun terputus. Evan terus mendorong kursi roda itu sampai didepan kamar Karin.


"semoga bayi itu bener-bener kamu Karin, semoga juga dengan ini keretakan antara papa dan mama bisa diselesaikan"


Papa Vivi sudah tiba tepat didepan kamar tempat Karin dirawat mereka bertiga disana dalam diam. Evan heran mengapa istrinya mengajak bertemu papanya disini, sedangkan sang papa juga heran kenapa putrinya menyuruhnya kesini!.


"tolong bukakan pintunya kami ingin menjenguk Karin" ucap Evan.


"anda siapa tuan?" kata salah satu penjaga disana.


"saya Evan temen bisnisnya ingin menjenguk Karin, kalo ada nona Nana atau Johan pasti dia tahu" balas Evan sambil tersenyum.


"baiklah tunggu sebentar tuan" setelah itu penjaga itu memberi tahukan tentang Evan sama Nana.


beberapa menit kemudian penjaga itu keluar.


"silakan tuan" ucapnya mempersilakan.


"terima kasih" ucap Evan pendek.


Didalam kamar terlihat hanya Nana dan Billar saja, Johan dan Ersya pergi keluar. Wajah Karin tampak begitu tenang saat tidur seperti itu membuat semua orang akan terpana kepadanya.


Vivi, Evan juga papa mendekat kesebelah ranjang Karin. Sang papa masih dipenuhi tanda tanya kenapa dia ikut-ikutan menjenguk remaja cowok yang tak dia kenal.


"kenapa aku pernah melihatnya ya? Apa mungkin perasaanku saja" batin papa Vivi sambil memandang Karin dengan lekat.

__ADS_1


*****


__ADS_2