THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
DIBALIK BUKU KECIL


__ADS_3

Karin duduk seorang diri ditaman didepannya tersaji kudapan berikut kopi latte yang menemaninya, tapi semua itu tak membuatnya berselera tuk memakannya dia menyatukan kesepuluh jarinya dan bersandar kebelakang, dia pejamkan matanya seakan sedang memikirkan sesuatu.


Pak Aldo berdiri tak jauh dari tempat Karin berada berikut seorang pria misterius pengganti Johan yang menemuinya waktu dinegri sakura. Tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut ketiganya mereka semua nampak diam dan serius.


Karin membuka matanya berlahan lalu menghela nafas sejenak.


"apa dia sudah pulang?" tanya Karin.


"sudah den diantar supir" jawab pak Aldo yang sadar pertanyaan itu dilontarkan kepadanya.


"baguslah dengan begini aku bisa tenang" batin Karin.


Erick yang berlari keluar pesawat menuju rumah utama bingung karena tidak ada yang dia temui, begitu ketemu sama kepala pelayan dirumah Karin dia langsung melontarkan pertanyaan tentang keberadaan Karin.


"pak dimana Karin? Kenapa tidak ada dimanapun?" tanya Erick.


"Aden tadi langsung keluar karena ada perkejaan yang mendesak" jawab pak Aldo berbohong.


"begitu"


Erick sedikit menjauh dia mengambil hpnya dan mencoba menghubungi Karin tapi jaringannya selalu saja sibuk. Karena saat ini dia berada diruang rahasianya sedang mengamati para kucingnya.


"saya sudah menyiapkan supir untuk anda pulang tuan, silakan ikut saya" kata pak Aldo mengagetkan Erick dari kesibukannya.


"begitu tiba dia langsung berkerja bener-bener tidak ada waktu untuk istirahat barang sejenak saja" batin Erick dengan cemberut.


"baiklah mungkin aku harus pulang dulu membersihkan diri"

__ADS_1


"mari ikut saya den"


Pak Aldo mengantarkan Erick sampai dia masuk kemobil yang sudah disiapkan. Barulah dia menyiapkan apa yang diminta oleh Karin majikannya.


Karin hanya butuh ketenangan karena dia ingin membaca buku diary yang ditemukan waktu dinegri sakura. Dia merasa ada sesuatu dibalik buku itu yang belum dia ketahui sebelumnya.


Karin beranjak dari tempat duduknya dia mengambil kopi latte berikut kudapannya membawanya masuk kedalam, melihat majikannya membawa sendiri pak Aldo segera berjalan mengambil alih apa yang dibawa Karin.


"biar saya yang bawa den" kata pak Aldo.


"oh yang ini saja, kudapannya terlalu manis aku gak begitu suka" balas Karin sambil memberikan kudapan yang dia pegang.


"nanti saya akan bilang sama bibi untuk mengecek gulanya, den"


"hmm, oh iya untuk hari ini aku tidak mau diganggu siapapun dan kamu istirahatlah sana biar gak lelah"


"aku bisa tidur dimanapun dan kapanpun" jawab pria itu.


"aku tidak suka kucing yang membangkang"


"menyebalkan sekali baiklah aku akan istirahat"


"itu lebih baik"


Karin berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga, disana terdapat ruang membaca dengan deretan buku mulai dari novel sampi mata pelajaran perguruan tinggi di sanalah dia berada guna membaca diary kecilnya.


Seperti biasa dia duduk didekat cendela yang terbuka.

__ADS_1


"aku harus bisa mengurai ini hari ini" batin Karin.


Dia mulai membuka lembaran buku itu.


"dia melakukan berbagai penelitian dirumah hingga pindah kerja disebuah laboratorium demi menolongku. Semua orang menyebut dia gila karena siang dan malam yang dia lakukan hanya melakukan penelitian dia mendapat julukan profesor gila, dia tidak mempedulikan semua itu dan menganggapnya angin lalu aku tak mengerti kenapa dia melakukannya sampai sejauh itu"


"hari ini dia memberiku suatu obat. Aku tidak bertanya padanya obat apa itu aku percaya padanya obat itu pasti aman, selang beberapa hari dia mengecek perutku terutama rahimku. Dia bilang rahimku sudah menghasilkan telur tapi tidak mampu menampung janin jadi dia akan mencoba melakukan pembuahan diluar berikut darahku dia ambil, betapa senangnya aku malaikat kecil akan hadir di sisiku menemaniku setiap hari, aku akan punya anak!!"


"semuanya hancur!! pihak kepolisian Amerika tiba-tiba datang dan menggeledah semuanya, ada yang melapor dia melakukan penelitian diluar batas, malaikat kecilku dihancurkan tepat didepan kami berikut ruang penelitian dia dipenjara dan aku tak rela itu, dia tak bersalah dia hanya membantu mewujudkan impianku untuk melahirkan keturunanku apa itu salah"


"aku menjenguk dia tiga hari sekali dipenjara, tepatnya hari ini aku kesana sambil membawa makanan kesukaannya kulihat matanya merah dan sembab seakan habis menangis, aku bertanya padanya tapi dia menyembunyikannya dariku, hari ini juga ada seorang pria paruh baya menemuinya pria itu masih gagah, tegas juga dingin menakutkan aku tak berani menatapnya berikut tongkat emas itu sepertinya menemaninya setiap hari, pria paruh baya itu bilang dia sudah menebus semua dan dia boleh pulang hari ini juga, mereka ngobrol hanya berdua saja ditempat lain nampak pria itu mengamatiku dari atas sampai bawah membuatku risih"


Karin terkejut membacanya dia mengeryitkan kedua alisnya dan sekali lagi membacanya.


"pria paruh baya dengan tongkat emas ditangan! Apa mungkin situa itu tapi pria paruh baya membawa tongkat emas banyak kan, dia tidak menyebutkan ciri-ciri pria itu" batin Karin nampak berfikir lalu dia melanjutkan membaca buku itu.


"setelah keluar dari penjara dia membawaku pindah ke negeri lain dan tidak lagi menetap di Amerika, dia mengajakku pindah keJepang membeli rumah disana memulai kehidupan baru dan "itu" masih tetap dilanjutkan kita bagaikan keluarga kecil saat ini entah kenapa itu membuatku merasa bahagia"


"dia memberiku obat lagi dan selang beberapa hari dia mengecek dan mengambil telur dirahimku. kini telur itu sudah menjadi embrio dia memperlihatkannya padaku mulutku tak mampu lagi ditahan tuk bertanya milik siapa yang membuahi milikku, aku terkejut saat dia bilang dia mengambil miliknya untuk proses pembuahan, tapi sayangnya dia tidak bisa berada dirahimku dan itu membuatku sedih, kami membutuhkan rahim pengganti secepat mungkin!!"


"aku duduk didekat cendela dengan tatapan kosong sambil menulis buku kecil ini, aku suka sekali berada didekat cendela karena aku bisa merilekskan pikiran sejenak tapi bukan hari ini, aku berada didekat cendela karena sedih dia datang dan mengetahui keadaanku dan tahu apa yang aku pikirkan saat ini, dia memelukku dari belakang menenangkan diriku dia bilang semua ada jalan keluarnya"


"hari ini dia membuatku tak bisa berkata-kata juga terpaku bagaikan patung bahkan mulutpun terasa kaku untuk berucap, sementara dia malah tersenyum-senyum didepanku. Hari ini dia melamar dan langsung menikahiku kami pergi kesebuah gereja dan disana sudah siap segalanya yang aku tidak tahu, kami akan menikah dan anakku nanti akan mendapatkan status yang sah, kebahagiaan macam apa yang diberikan Tuhan padaku sampai kami mengucapkan janji didepan pendeta semua ini terasa bagaikan mimpi!!"


*****


Jangan lupa like & komenπŸ₯°πŸ˜˜

__ADS_1


Ikuti terus perjalanan Karin dalam mengungkap siapa dia sebenarnya juga kisah cinta anak buahnya, dan maaf kisah cinta Karin sendiri juga tokoh prianya memang sengaja dibuat tidak terlalu menonjol. πŸ™πŸ™


__ADS_2