
Posisi mereka seperti sedang bermesraan dibelakang mobil, Johan melirik kearah mereka dengan sorotan yang tajam membuat mereka semua gemetar dan kabur.
"awas kau kali ini kulepaskan cih" katanya sambil berlalu pergi.
Mereka berdua begitu dekat hingga suara jantung Johan terdengar begitu jelas oleh Ersya membuatnya bersemu merah.
"sudah pergi Sya" ucap Johan dengan suara datar.
"makasih mas Jo fuuuh kalo gak ada mas gak tahu lagi nih" balas Ersya menghela nafas panjang mengelus dadanya.
"lain kali jangan ceroboh ayo ikut nanti kuantar ketoko" kata Johan.
"kemana mas?" tanya Ersya.
"menemui baby dia masih dicaffe" kata Johan menjelaskan.
"mas Jo sama sicomut aku jadi ganggu nih"
"ganggu gimana maksudnya, tadi baby yang memberitahu kalo kamu lagi kena masalah"
"gitu ya, aku berhutang banyak sama dia"
"gak usah difikirkan yang penting kau selamat"
"umm besok akan kubuatkan puding untuk mas Jo dan baby kalian berdua suka makanan manis kan"
"aku sih suka saja tapi kalo baby dia tidak terlalu suka"
"oh gitu baik akan kuingat"
Kruyuuuk kruyukkkk....
Terdengar bunyi suara dari perut Ersya membuatnya sangat malu.
"hahaha perutnya tidak bisa diajak kompromi nih" ucap Ersya sambil tertawa menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"aduh bikin malu saja nih perut dasar!!" umpatnya dalam hati.
"tidak apa ayo sekalian makan" Johan langsung menggandeng tangan Ersya tanpa disadarinya.
"ta, tapi aku gak bawa uang mas"
"nanti aku yang bayar semuanya"
"maaf ya jadi merepotkan mas Johan"
"gak apa!"
__ADS_1
Dicaffe Karin menghela nafas panjang karena menunggu Johan yanh belum juga datang, piring didepannya sudah kosong bahkan minuman pun sudah mau habis dua gelas.
"dia lama banget sih" batin Karin, lalu mengambil hp mengecek beberapa data yang dikirim.
Erick dan Evan yang berada disebelah sudah selesai dengan rapatnya.
"saya permisi kebelakang sebentar tuan" ucap Erick lalu berjalan kebelakang.
Karin yang mendengarnya hendak mengikutinya menyeselesaikan masalah supaya tidak berkepanjangan.
"Karin!!!" baru saja melangkahkan kakinya sebuah suara menghentikannya. sosok wanita sexsi yang sudah sangat dikenal itu tersenyum lebar kearah Karin.
"cecan!!" ucap Karin melihat sosok wanita pertama yang bertemu dengannya saat tiba diIndo.
Vivi langsung berlari kearah Karin melemparkan dirinya kedalam pelukan, Evan yang terkejut melihatnya mencoba untuk tidak menghiraukannya walau sebenarnya dalam hati dia sangat kesal.
"apa kabarmu Karin? Aku sangat kangen sekali padamu" ucap Vivi dengan girang sambil jingkrak-jingkrak gak karuan.
"baik sangat baik seperti yang kau lihat jangan loncat begitu bahaya ya" balas Karin sambil tersenyum.
"habisnya seneng banget ketemu kamu hari ini dari kemarin-kemarin aku pengen banget ketemu sama kamu tapi mas posesif banget larang ketemu"
"ya wajarlah suamimu posesif ting ting bukannya itu tandannya cinta mati hehehe" Karin bicara sambil menunjukkan giginya yang putih.
"tapi kalo terlalu posesif juga gak baik kan sama hubungan huh"
"tunda dululah ketemu Erchan" batin Karin.
"aduh Karin kamu masih muda belia tapi punya fikiran yang begitu dewasa makin gemes tahu gak aku suka aku suka" Vivi mencubit kedua pipi Karin dengan gemes.
"wah pipimu kenyal banget ya alus mulus deh perawatan dimana sih pengen deh"
"cecan sakit sudah dong aduh"
"aaaaaaaa sicomut" terdengar teriakan seorang cewek dari arah pintu keduanyapun langsung menoleh bersamaan.
"Ersya!!" kata Karin, sedangkan Vivi masih diam.
Ersya juga sama dia langsung berlari memeluk Karin dengan gemes sambil berjingkrak ria.
"minggir yu gantian" spontan Ersya mendorong Vivi membuatnya sebel.
"aku senang deh ketemu kamu"
"hahaha iya iya aku juga senang sudah jangan loncat kenapa kalian suka loncat-loncat sih hadooh"
"mimpi apa ya aku semalam dalam sehari dipeluk sama dua cewek gini" ucap Karin.
__ADS_1
"anggap saja mimpi ketiban bulan hahahaha" Ersya ketawa dengan lantang.
"hei kamu siapa ya main seenaknya dorong orang" teriak Vivi dengan sebel.
"lho ada orang toh kukira patung"
"apa katamu sengaja ajak ribut ya"
"sudah-sudah jangan ribut silakan duduk sambil ngobrol dan makan yang kenyang" kata Johan melerai.
"gratis ya" ucap Ersya.
"ya" balas Johan.
"ambil apa saja boleh"
"ya"
"boleh bawa pulang"
"ya"
"yuhuuu makan gratis"
"dasar miskin sukanya sama gratisan" kata Vivi dengan sinis.
"diam kau yang penting kenyang"
Karin yang melihat itu semua cuma ketawa saja, sedangkan Johan cuma diam memperhatikan Ersya yang bertengkar sama Vivi hingga pelayan datang siap mencatat pesanan masing-masing.
"ok mbak catat pesenan saya ayam bakar, penyet ikan mujair, rawon, jus buah air putih kentang goreng hamberger roti bakar juga dah ya"
"busiet kamu kecil-kecil makannya banyak banget"
"biarin yang penting kenyang wleeek"
"mbaknya pesen apa" tanya sipelayan sama Vivi.
"nasi omelet, hamberger, cocacola, air putih nasi remes penyet tempe sama lele sambelnya yang pedes ya pokoknya yang pedes pol mie ayam dikasih bakso jus wortel dicampur tomat ya"
"busiet pesenanmu jauh lebih banyak daripada aku itu perut apa karet"
"yang penting kenyang!!"
"hei itu kata-kataku" teriak Ersya.
*****
__ADS_1