THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
ANGIN MEMBELAI BUNGA


__ADS_3

Sore itu Ersya pulang dari toko butik sekitar jam empat lebih demi menghemat uang gajinya Ersya berjalan kaki menuju tempat kos yang berada disebuah gang kecil.


Tapi belum sampai pada gang tersebut Ersya sudah dibekap seseorang menggunakan sebuah saputangan yang sudah diberi obat bius.


Seorang preman yang dibayar Johan mengetahui kejadian itu tapi dia tidak bisa turun tangan karena dirinya hanya sendirian lalu dengan segera dia menghubungi Johan.


Atas perintah Johan preman itu mengikuti kemana mereka semua membawa Ersya. Disebuah gedung tua yang berada dipinggiran kota Ersya dilempar begitu kasar oleh salah seorang yang membawanya karena kesal.


"kita apakan nih cewek buktinya saja sudah berada ditangan polisi sekarang kita jadi buronan" kata salah satu dari mereka.


"mang kita sudah jadi buronan bro hhmmm kita nikmati saja gimana biar kapok hehehe"


"hmmm boleh juga tapi bangunin tuh gak enak kali kaya seks sama mayat"


"siappp bro hehehe"dengan segera dia membangunkan Ersya dengan menyiram air kemukanya.


Johan yang ngebut menerjang lampu merah hingga pengguna jalan lain marah-marah akhirnya tiba dilokasi dan segera mencari orang suruhannya.


"dimana dia?" tanyanya dengan datar juga dingin setelah menelf dan menanyakan posisinya.


"didalam gedung itu bos, maaf bos saya gak berani bertindak kalah jumlah oh iya bos mereka semua pengguna narkoba jenis sabu selama ini mereka semua memalaki orang-orang untuk membeli barang haram itu dan sudah jadi buronan sejak lama" katanya menjelaskan.


"sejak lama hebat sekali bisa lolos"


"menurut kabar yang saya dengar ada orang dalam yang ikut campur bos"


"maksudmu orang dikantor polisi yang ikut campur" mendengar perkataan itu sipreman hanya mengangguk menghiyakan Johan langsung berdecik tak suka.


Johan berjalan kearah pintu gedung itu lalu dia memdobrak pintunya dengan sangat keras hinggal terpental, dia menunjukan aura tajam juga dinginnya siap mencabik-cabik mangsangnya saat melihat Ersya sedang menangis ditindih seorang pria apalagi pakaiannya yang sudah robek.


Secepat kilat Johan sudah berada dibelakang pria yang menindih Ersya dan langsung melemparnya kesembarang tempat membuat yang lain melongo dengan pergerakan Johan seperti ninja dari Jepang.


"lho sejak kapan sibos berada disana" ucap sang preman yang melongo melihatnya.

__ADS_1


Johan segera merapikan baju Ersya dan memeluknya, Ersya langsung menangis sejadi-jadinya dipelukan Johan.


"siapa kamu menganggu orang saja dasar bangsat" teriak salah satu preman itu.


"dia pacarnya bang!" sahut sipreman.


"peduli amat ayo kita hajar"


Mereka semua langsung mengroyok Johan tanpa ampun didepan keduanya, Johan juga begitu dia yang sudah disulut api amarah karena Ersya sudah dilecehkan menghajar mereka tanpa ampun.


Sepuluh menit kemudian mereka semua terkapar tak berdaya ditangan Johan dan berjalan kearah Ersya hendak menggendong keluar. Entah dari mana dia mendapatkannya salah satu dari mereka berdiri ditangannya sudah memegang sebuah pistol.


Ersya yang tahu Johan dalam bahaya berlari dan menabrakan dirinya supaya Johan bergeser walau tidak jatuh.


DOR!!! satu buah peluru lepas melayang menghantam pundak Ersya membuatnya jatuh tapi dengan sigap Johan menerima badan Ersya supaya tidak jatuh.


Johan menghantamkan sebuah kayu kekepalanya hingga membuatnya lamgsung tak sadarkan diri.


"baik bos"


Rasa panas mulai menjalar diseluruh tubuh Ersya, badannya gemetar menahan sakit tak luput keringat dingin bercucuran menghiasi badannya.


Johan segera membuka baju Ersya hendak mengeluarkan pelurunya.


"ma, mas Jo mau apa?" tanyanya dengan nafas yang tersenggal-senggal memegang tangan Johan.


"mengeluarkan pelurumu dulu setelah itu kita kerumah sakit"


"ta, tapi mas"


"Ersya ini harus segera dikeluarkan, disini cuma ada kita ok hanya aku yang melihatnya" ucap Johan menyakinkan tapi Ersya tetap diam menatap Johan.


"kalo sudah tutup segera kepalamu juga" katanya dengan geram sama sipreman itu.

__ADS_1


"ok boss!" dengam cepat sipreman menutup kepalanya dengan tas kresek hitam yang dia temukan disekitarnya.


"kau boleh berteriak atau mengigit tanganku asal jangan lidahmu"


"nnggg!"


Dengan berat hati Ersya harus merelakan badannya disentuh oleh Johan seenaknya, mutiara bening jatuh menghiasi pipinya tanpa disadari dia tidak tahu harus menggambarkan seperti apa situasi saat ini.


"ukh!!! aaaaaaaaaaaaa" karena tidak kuat menahan sakit karena tidak ada obat penghilang rasa sakit teriakan Ersya langsung menggema diseluruh gedung.


Johan memeluk tubuh Ersya yang lemas dan berbisik ditelinganya.


"maafkan aku!" ucapnya pendek membuat Ersya langsung mengarahkan pandangannya ke Johan.


"untuk apa" kata Ersya.


"karena sudah melecehkanmu, kalo kamu ingin aku bertanggung aku akan melakukannya"


"tapi aku tidak mau menikah dengan perasaan bersalah"


"begitu, tapi aku sudah tertarik padamu saat pertama kali ketemu kamu dirumah sakit waktu itu, namun aku juga tidak mau membuatmu menjadi janda karena aku seorang pengawal yang sewaktu-waktu bisa kehilangan yawaku" tutur Johan menatap wajah Ersya didepannya.


"terima kasih!" Ersya menempelkan bibirnya kebibir Johan dengan lembut membuatnya terpengarah, "aku juga tertarik padamu" ucapnya saat melonggarkan kecupannya.


Johan yang terpengarah dengan apa yang dilakukan Ersya langsung menahan tengkuknya sedangkan tangan yang satunya merengkuh tubuh Ersya masuk kedalam pelukannya yang begitu Erat membalas ciuman Ersya dan mengexplor bibirnya cukup lama sebelum kerumah sakit terdekat.


Drrrttrt ddddrrrrrrrrrt dddrrrrrrrrrrt


Hp Johan berbunyi Johan segera mengambil hpnya dan melihat siapa yang telf. Terlihat dilayar hp tulisan BABY dan segera mengangkatnya.


"butuh bantuan gak!!" kata Karin dari seberang.


*****

__ADS_1


__ADS_2