THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MEMASTIKAN


__ADS_3

"dia temen bisnis mas Evan pa, dan kami langsung dekat saat pertama ketemu" kata Vivi memulai pembicaraan, semua hanya diam.


"masih muda ya, sudah pandai berbisnis" balas papa.


"namanya Karin Arandita Sanjaya!!" mendengar nama lengkap Karin sontak papa Vivi terkejut, seluruh badannya langsung kaku tak bisa digerakan, bahkan bibir juga tak sanggup tuk berucap.


Lalu dia memandangi wajah Karin begitu lekat tak terlewatkan sedikitpun.


"sama kan pa seperti nama dedek bayi yang papa bawa dulu, cuma ketambahan satu nama saja" kata Vivi, dia berharap bahwa Karin adalah anak bayi yang dibawa papanya dulu. begitu pula dengan Nana juga Billar yang berada disana seolah tak percaya dengan apa yang Vivi ucapkan.


"mungkin saja namanya sama nak" ucapnya pelan seolah dipaksakan.


"papa lihat baik-baik Karin juga berumur dua puluh dua tahun, papa masih ingatkan ciri-ciri bayi itu, wajahnya juga!" gak terasa Vivi menangis gak terima dengan apa yang dikatakan papanya, padahal dirinya sangat berharap bayi itu adalah Karin.


Bayi mungil yang pernah dia ajak main waktu dulu, dan berharap segera berjumpa lagi setelah dibawa keluarganya.


"apa anda tahu tanggal lahirnya nona?" tanya papa Vivi sama Nana. Dia bertanya tanggal lahir hanya untuk memastikan saja.


"maaf tuan saya tidak tahu" jawab Nana.


"mungkin Johan tahu, dia kucing gila yang pertama ditemukan baby diantara kita semua" sahut Billar dari belakang.


"tolong telf dia" teriak Vivi tanpa sadar.


"sudah sayang, biarkan Karin beristirahat kita kembali ya" ajak Evan, supaya istrinya mau kembali kekamarnya.


"tidak mau mas, aku mau memastikannya sendiri"


Tanpa disadari tangan sang papa menggenggam tangan Karin begitu saja, entah kenapa ada rasa rindu yang amat dalam dirasakan saat tangan itu dipegangnya.


Kali ini dia begitu ingin sekali memeluknya, papa Vivi memandang kembali wajah Karin dengan begitu lekat.


"pa, kenapa pa?" tanya Vivi yang membuatnya kaget dan menghentikan tindakannya.


"gak ada, ayo kita kembali mamamu sudah lama menunggu kita nanti dia marah"


Papa Vivi hendak berjalan keluar tapi langkahnya terhenti saat tangan Karin menggenggam tangannya, seketika itu sang papa langsung melihat tangan Karin.


Berlahan tapi pasti matanya mulai terbuka, semua orang diruangan itu begitu senang. Nana segera memeriksa kondisi majikannya lebih lanjut.

__ADS_1


"Erchan!!!" ucapan Karin langsung membuat semua orang menatapnya. Setelah itu dia tertidur kembali.


"apa dia gak apa-apa? Kenapa dia tertidur lagi?" tanya Vivi yang panik.


"tuan hanya butuh istirahat saja nona" jawab Nana sambil tersenyum.


"Erchan itu siapa ya?" tanya Evan heran.


"anu i itu sekretaris anda tuan!!" jawab Nana gugup.


"HAH! Apa Erick! Sejak kapan dia begitu dekat dengan Karin?" pekik Evan.


"hahaha saya kurang tahu maaf tuan"


"dasar kampret tuh orang"


"hampir setiap hari mereka bersama, tidur bersama, makan bersama minum digelas yang sama bahkan sendok dan garpu pun bergantian" Ersya yang baru datang langsung menyahut begitu saja.


"wow pesat sekali perkembangan mereka, masa Erick sudah suka sesama jenis sih" kata Evan heran.


"oh ada tamu tuan Evan serta keluarganya" sahut Johan yang baru datang.


"nah itu orang yang bernama Johan mungkin dia tahu" Billar langsung menunjuk Johan, Johan sendiri hanya terpaku tak mengerti. Papa Vivi langsung melihat kearah Johan memperhatikannya.


"berapa tanggal lahir Karin?" tanya Vivi spontan. Semua hanya diam.


"oh itu ya, tanggal cantik 55.99 ada apa dengan tanggal lahirnya"


"tuh kan dia tahu segalanya tentang baby, cih dia begitu disayang sama baby hal kecil apapun dia tahu, brengsek!" gerutu Billar yang ngedumel sendiri.


"gimana pa" kata Vivi.


"maaf anda belum menjawab pertanyaan saya" kata Johan menyela.


"kami sedang mencari seseorang saja siapa tahu orang yang kami cari sama dengan Karin" balas Vivi.


"oh gitu, semoga cepat ketemu"


"apa dia pernah bercerita sesuatu sama anda tuan" papa Vivi mulai penasaran.

__ADS_1


"maksud anda tuan" kata Johan.


"maksud saya bercerita tentang dirinya saja" kata papa Vivi menimpali.


"kalo cerita sih sering baby, tapi kalo masalah pribadi saya tidak bisa cerita maaf tuan" ucap Johan dengan sinis kali ini.


"ya gak apa" balas papa Vivi dengan tersenyum.


"ayo nak kita kembali kekamar, kamu kan harus banyak istirahat" lanjutnya hendak mendorong kursi roda.


"biar aku saja pa" sahut Evan melarang.


"kami permisi dulu maaf telah mengganggu, semoga Karin cepat sembuh" kata sang papa.


Vivi terlihat begitu kecewa, tak ada kata sedikitpun yang keluar dari mulutnya sepanjang perjalanan kekamarnya. Sang papa dan Evan ngobrol santai tanpa mempedulikan Vivi.


"nak kamu kenapa? Apa kamu kecewa dengan yang tadi?" tanya sang papa saat menyadari anaknya tertunduk lesu.


Vivi hanya diam tak menjawab ucapan papanya, lalu air matanya mengalir membuat sungai diatas kulit pipinya.


"sebenarnya papa juga gak yakin nak, tapi papa gak berani bilang takut kamu tambah kecewa" batin papa menatap anaknya itu.


"nak, bayi yang papa bawa pulang itu bayi cewek, sedangkan temanmu itu cowok"


"iya pa Vivi mengerti ko"


"sayang, kamu kan sudah menganggap Karin seperti saudara sendiri" sahut Evan menimpali.


"iya mas itu sudah lebih dari cukup dia mau menerimaku"


"sekarang yang kamu harus lakukan sekarang adalah banyak-banyak istirahat dan jangan banyak fikiran ingat kedua anak kamu kasian mereka berdua" tutur sang papa.


"kamu bisa main kerumahnya nanti kalo sudah sembuh sayang"


"iya makasih"


Dikamar Karin Johan menyendiri sambil menelfon seseorang dengan serius.


"ada tugas untukmu lakukan segera" printahnya sama orang diseberang.

__ADS_1


"siap tuan"


****


__ADS_2