
Seorang wanita sexsy seperti model berjalan memasuki sebuah restoran, dilihat dari sudut manapun dia sudah tak terlihat muda lagi kulit mulus dan wajahnya yang cantik itu semua karena perawatan yang rutin.
Memakai baju yang ketat memperlihatkan setiap lengkuk bentuk badanya, kancing bajunya bagian depan sengaja tidak dikancing sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang besar, dia berjalan bagaikan seorang model diatas catwalk melenggak lenggokkan tubuhnya.
Begitu tiba ditempat seseorang dia langsung memeluknya begitu saja menempelkan dadanya ditengkuk orang itu.
"hallo sayangku, beberapa hari ini kau melupakanku dan pindah kelain hati membuatku harus mencarimu" kata wanitu itu dengan manja dan membelai pipi pria itu melalui jari telunjuknya yang lentik.
"berisik, minggir gak ganggu orang saja" kata pria itu, sedangkan siwanita cuma tertawa geli senang menggodanya.
"sejak kapan kamu mulai berani menolakku, hallo siapa dia?" kata wanita itu sambil menyapa seseorang yang duduk didepan pria itu.
"dia calon istriku sekarang pergilah kutu pengganggu" ketus pria itu.
Wanita itu memasang wajah menakutkan begitu mendengar calon istri dari mulut pria itu.
"istri!!! Bocah tidak tahu diri dikasih hati ambil ampela, mau dihukum semalaman suntuk dibikin gak bisa tidur baru tahu rasa" geram wanita itu.
Sipacar hanya diam saja memperhatikan wanita sexsy didepannya, didalam pikiranya sudah penuh tanda tanya siapa wanita ini?
"minggir, pergi sana sama pacarmu" ketus pria itu.
"kau tidak ingin memperkenalkan dia padaku" ucap pacarnya tersenyum.
"ogah, dengar tuh perkenalkan dirimu sana"
"bocah kurang ajar baru tidak bertemu beberapa hari sudah ngelunjak"
"jadi dia yang sering diceritakan bocah ini setiap hari, dilihat bagaimanapun dia bukan orang sembarangan dan lagi orang yang duduk disebelahnya itu" batin wanita itu memperhatikan makhluk ciptaan Tuhan yang duduk didepannya.
"hallo namaku Carline" kata wanita itu memperkenalkan dirinya. "coba tebak aku apanya dia hayo" lanjutnya dipandang tak suka oleh pria disampingnya.
"hallo juga namaku Karin senang berkenalan denganmu kalian berdua sangat akrab ya" Karin menjabat tangan Carline tersenyum ramah.
"Halah nama sebenarnya mir mi mi mi" Carline langsung menjewer telinga Erick sebelum menyelesaikan perkataannya. Carline dan Karin cuma tersenyum gemes melihat Erick yang lagi kesal.
__ADS_1
"sakit te, hiiis bayarin nih sebagai ganti rugi"
"sudah kubilang jangan panggil tante, boleh asal kau mau menginap ditempatku"
"kau itu sudah Tante Tante masih berlagak jadi anak muda terlalu tua" ejek Erick.
Mendengar ejekan Erick Carline menginjak kakinya menggunakan high heels yang dia pakai begitu saja sambil tersenyum membuat Erick meringis kesakitan.
"pergi gak kau ganggu orang saja"
"kamu tidak ingin aku akrab sama dia"
"gak boleh bisa-bisa dia terkena penyakit centilmu, sudah sana pergi tuh dipanggil temen gengmu tuh" Erick mendorong tantenya supaya menjauh dari dia dan Karin duduk.
"bocah nanti malem harus datang ketempatku"
"tak sudi, aku mau terbang keIndo sekarang pergi sono"
Carline mendengus kasar berjalan pergi meninggalkan restoran itu.
"dia apanya kamu orangnya cantik dan mudah akrab" tanya Karin melemparkan senyum manis.
"oh suaminya mati kenapa?"
"suaminya mati terbunuh karena menolong seorang wanita yang kabur dari rumah sakit menurut ceritanya begitu, sejak saat itu aku sering melihat dia gonta ganti pasangan"
"berarti kau sering kemari dong"
"iya sebelum aku kabur dari rumah, sekarang gak sempet ikut orang soalnya ayo jalan lebih baik kita segera terbang mumpung cuaca masih cerah" ajak Erick supaya segera lepas landas karena ada perkerjaan yang sedang menunggu diIndo.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil terus ngobrol menceritakan suami Tante Carline yang terbunuh.
Disaat mereka berdua sudah mendekati pintu seseorang memakai topi dan berjaket sengaja menbrak Erick membuat dia kaget sedikit melangkah kebelakang lalu pergi begitu saja.
Erick masih berdiri mematung seperti orang kesambet mulutnya bergetar seolah ingin mengucapkan sesuatu, wajahnya mulai pucat keringat dingin juga mulai keluar dari sela-sela rambut didahinya, kaos berlapis jiper mulai basah sesuatu merembes keluar dari dalam dibagian perut berlahan badannya bergetar lemas dan tak bertenaga hingga membuatnya ambruk dilantai.
__ADS_1
Karin yang bengong melihat orang yang menabrak Erick barusan masih terpaku, dia tak menyadari sesuatu terjadi sama kekasihnya sampai suara jatuhnya Erick menyadarkannya dari lamunan.
"Erchan" teriak Karin terkejut tak percaya melihat Erick sudah bersimbah darah dilantai menahan sakit.
"cari dia sampai ketemu" teriak Karin memberi perintah sama Ran Ran.
Segera dia mengambil hp menelpon ambulans dengan tangan yang bergetar dan air mata mengalir deras dipipi.
"kamu harus kuat tidak boleh goyah, apa kamu lupa siapa dirimu" Erick berkata lirih mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Karin.
"berjanjilah padaku kamu harus tetap hidup Erchan" Karin mencoba melakukan pertolongan pertama sebisa mungkin sebelum ambulans datang.
"kalo aku bisa aku akan berjanji padamu, jika Allah berkehendak kita akan bersama selamanya karena badan juga yawaku bukan milikku atau mereka" perkataan Erick mulai terputus putus hingga tak terdengar lagi.
"Erchan Erchan" teriak Karin berulang kali ditengah keputusannya.
Dia menangis diatas badan Erick yang tak sadarkan diri sambil menggoyang badannya. Baru sebentar dia merasakan kebahagiaan bersama kekasihnya tapi semua itu harus sirna begitu saja dalam sekejap, rasanya sungguh tidak adil bagi dia.
Suara roda bangker menderit memekik telinga namun semua itu tidak menghentikan para suster juga dokter dan Karin mendorongnya menuju ruang ICU melakukan operasi secepat mungkin.
Dia tak berhenti menangis didepan ICU seorang diri tidak ada yang menemani, sambil menangis dia mendaratkan bokongnya dikursi tunggu menaikan kedua kakinya supaya dia bisa memeluknya erat-erat menaruh dahinya diatas lutut.
Sungguh ini tidak bisa diterimanya, kenapa tuhan begitu tidak adil padanya sekejap dia bahagia secepat itu pula dia segera mengambilnya. Seluruh badannya mulai bergetar dia tak kuasa harus kehilangan orang yang dicintainya menganggapnya ada didunia ini, selalu ada disaat dia lagi membutuhkan dirinya, selalu ada disaat dia ingin bercerita tentang masalahnya tanpa memikirkan masalahnya sendiri, selalu ada untuk semua keluh kesahnya.
Suara sepatu heels menggema disepanjang koridor namun tak membuat dia ingin melihatnya, berlahan suara itu semakin jelas ditelinga dan berhenti tepat didepannya.
"apa yang terjadi padanya bukannya kau selalu bersamanya bersama bodyguardmu itu" teriak Carline. Dia langsung menuju kerumah sakit begitu mendengar kabar Erick ditusuk orang dan dilarikan kerumah sakit.
"maaf" sepatah kata yang keluar dari mulut Karin karena dia tidak tahu harus bicara apa.
"aku tahu siapa dirimu sebenarnya, jika hubunganmu membuat dia celaka lebih baik kau akhiri saat ini juga" kata Carline geram mencengkram baju Karin.
"maaf tante kalo soal itu aku tidak bisa tolong jangan pisahkan kami" Karin yang tak rela hubungannya berakhir ditengah jalan berusaha menolak permintaan Carline.
"musuhmu sangat banyak dan Erick adalah korban dipihakmu jika kalian masih melanjutkan hubungan ini itu artinya dia adalah sasaran empuk untuk dijadikan umpan, apa kau lupa itu bos MAFIA"
__ADS_1
*****
Karya ini iku lomba ayo dukung author dengan memberi like & komen, vote, ranting bintang lima juga boleh.😘🥰🤗💪💪💪💪