
Karin melihat keduanya berlari menuju ruang IGD sambil menghela nafas panjang juga berdecih. Setelah itu dia melangkah keluar dengan cepat untuk pulang karena sudah sangat lelah dengan semuanya apalagi dia baru keluar dari rumah sakit, bukannya disambut dengan sesuatu yang menyenangkan tapi malah disambut sama ucapan pedas dari seorang wanita seperuh baya.
"anda tidak apa-apa nona?" tanya Nana yang kawatir sama keadaan majikannya.
"jangan kawatir Nana aku sudah biasa dengan perkataan seperti tadi, mungkin saking biasanya aku sampe bosen mendengarnya" ucapnya tegas dan penuh penekanan tak lupa dia sunggingkan senyum kecil disudut bibirnya.
"baiklah nona mari kita pulang dan segera istirahat" kata Nana sembari membuka pintu untuk majikannya.
"anda berusaha begitu tegar dan menutupi semuanya walau sesungguhnya anda sendiri pengen menangis mendengar ucapannya tadi" batin Nana melirik kebelakang lewat kaca spion diatasnya.
Karin bersandar kebelakang mendongakan kepalanya, terlihat begitu jelas raut wajahnya yang lelah dan menahan rasa ngantuknya.
"tidurlah nona nanti saya bangunkan jika sudah tiba" kata Nana dengan sopan.
"baiklah aku tidur dulu" setelah berkata dia memejamkan matanya dalam posisi bersandar kebelakang.
***
Dirumah besar hasil bajakan milik pak Toni Pak Aldo memandangi sosok pria tampan tanpa expresi sedikitpun berdiri dipintu. Namun pak Aldo langsung tahu pria tampan didepannya ini adalah saudara majikannya karena wajahnya yang sama hanya pilahan rambutnya saja yang berbeda, membuat mereka berdua seolah bercermin dalam diri masing-masing.
Dengan sigap dan cepat pak Aldo langsung mengubah sikapnya yang terkejut tadi lalu mempersilakan tuannya masuk.
"dimana kamar tamunya?" katanya datar tanpa melihat kearah kepala pelayan.
"mari tuan saya antar" ucapnya dengan sopan membungkukkan sedikit badannya.
Mereka bertiga berjalan menuju lantai dua yang memiliki empat kamar besar yang sudah disiapkan untuk seseorang yang akan menginap.
"silakan anda pilih sendiri tuan mau kamar yang mana?" ucapnya lagi dengan sopan.
"kamar litle yang mana?" tanyanya sama sang pelayan.
__ADS_1
"litle!!?" pak Aldo hanya bengong setelah mendengar kata yang keluar dari mulut pria tampan didepannya yang tak lain adalah Kiran.
"itu panggilan untuk tuan muda" sahut Sota yang dari tadi hanya diam.
"oh maafkan saya tuan, kamar aden yang berukiran cendrawasih tuan tepat didepan butterfly ini" jelas pak Aldo.
Tanpa berkata apapun dia berjalan mendekati kamar yang ditepati adiknya itu, berlahan dia gerakan tangannya menyentuh gagang pintu hendak membukanya, tapi seketika wajahnya langsung berubah dan melihat kearah pak Aldo dengan sorotan yang tajam juga dingin membuat pak Aldo pucat pasi.
"maaf tuan aden tidak suka kamarnya dimasuki orang setelah dibersihkan jadi saya menguncinya setelah aden pergi" ucapnya dengan bibir bergetar juga gugup. Seakan tahu arti dari tatapan matanya yang tajam juga menusuk.
"buka!!" katanya singkat dan padat.
"i, itu maafkan saya tuan, saya tak bisa tanpa seizin aden" pak Aldo menolak keinginan pria didepannya.
"aden sangat melarang siapapun masuk kekamarnya kecuali den Johan sama non Nana saja, mohon maafkan saya tuan" lanjutnya lagi seraya membungkukkan badannya dalam.
Sota hanya diam saja melihat semuanya. Dia tahu kalo tuannya saat ini sedang menguji saja.
"lebih baik anda menghajar saya tuan daripada saya membuka pintunya" kali ini pak Aldo berkata tegas, walau sebenarnya dia ketakutan tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"kepala pelayan yang hebat dia rela dihajar demi mematuhi tintah tuannya! Padahal aku sendiri sudah tahu kenapa pintu ini tidak boleh dimasuki orang!!" batin Kiran lalu berjalan memasuki kamar didepannya.
"cuma bercanda!!" ucapnya tanpa melihat sedikitpun.
"kalo litle pulang segera kabari" ucapnya lagi sebelum menutup pintu.
"baik tuan!!" balas pak Aldo.
Setelah memasuki kamarnya Kiran tak lagi keluar sedikitpun walau itu hanya untuk makan, sedangkan sekretaris Sota berada dikamar satunya tepat disebelahnya. Pak Aldo sendiri berjalan menuju kebelakang memberitahu pelayan yang lain soal kedatangan saudara majikannya supaya lebih sopan lagi.
Mobil yang ditumpangi Karin memasuki pelantaran rumahnya yang sudah direnovasi sesuai keinginan majikannya dan terlihat lebih mewah juga beberapa tambahan didalamnya.
__ADS_1
Pak Aldo yang mengetahuinya segera berjalan menuju kamar yang ditepati Kiran memberitahu kedatangan majikannya.
Tok tok tok
Tak ada jawaban diketukan pertama membuat pak Aldo mengulanginya beberapa kali.
Cklek...
"ada apa?" tanya Kiran dengan datar.
"aden sudah pulang tuan" jawabnya sopan menundukan kepala.
Tanpa membalas perkataan kepala pelayan Kiran berjalan menuju halaman dengan santainya. Karin masih tertidur didalam mobil wajahnya terlihat tenang tapi menunjukan raut yang letih membuat Nana tak tega membangunkannya.
Cukup lama Nana tidak turun pikirannya begitu bingung ingin membangunkannya atau tidak, hingga akhirnya keputusannya bulat untuk membangunkannya saja daripada tidur didalam mobil.
"dia tidur!!" sebuah suara langsung menghentikan Nana hendak membuka pintu mobil bagian belakang.
"iya tuan" jawabnya singkat sembari membungkuk.
Kiran berjalan mendekat segera dia membopong adiknya menuju kekamar.
"nnngggg...." Karin menggeram sambil memeluk badan kakaknya, membuat Kiran tersenyum tanpa memperlihatkan giginya.
🎶Moshimo mou ichido anata ni aeru nara
Tatta hitokoto tsutaetai arigatou, arigatou🎶
Hp Karin berbunyi dan langsung diraih sang kakak dilihatnya siapa yang telf, terlihat tulisan Erchan disana tanpa banyak kata dia langsung mengangkatnya.
"hallo Bi, apa kamu sudah sampai? Kamu tidak apa-apakan? jangan dimasukan kehati ya ucapan mamanya nona Vivi, Bi ko kamu gak balas ucapan aku kalo kamu butuh temen curhat aku siap mendengarkan Bi, jawab Bi jangan bikin orang kawatir, Chibi, chibi" Erick yerocos sedari tadi tapi Kiran hanya diam saja.
__ADS_1
*****