THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
JAWABANKU


__ADS_3

Ran Ran mengangguk mengerti dia mengantar Erick sampai kepintu berlahan menutupnya.


Erick berdiri didepan rumah Karin hatinya sungguh pilu mendengar kenyataan pahit yang dia terima hari ini, dalam lubuk hati yang paling dalam dia yakin Karin kekasihnya masih mencintainya dia berbuat begini agar kejadian yang kedua tidak terulang lagi.


Berlahan dia pergi meninggalkan rumah Karin berjalan lemas tak bersemangat sama sekali. Suara petir menyambar disiang hari gerimis pun datang mengiringi hati yang dirundung gulana, Erick bersandar dipohon menengadah keatas meratapi nasip cintanya yang begitu malang.


"aku akan menunggumu Bi sampai kapanpun" gumamnya lirih berlahan memejamkan matanya.


Karin berdiri didekat cendela dia menyaksikan kepergian Erick dengan pilu tanpa sadar air matanya mengalir mengiringi kepergian sang pacar, hatinya bergemuruh tak menentu mengawatirkan keadaan Erick disaat petir dan gerimis datang.


Tangannya mengepal erat kakinya tak mampu ditahan ingin sekali dia berjalan keluar melihat keadaannya.


"jika ingin menemuinya kenapa mesti ditahan" kata Ran Ran mengagetkan Karin melihat sekilas lalu tertunduk bingung.


"dia berteduh dibawah pohon dalam keadaan basah kuyup apalagi lukanya yang belum sembuh, kau tahu sendiri kan luka seperti itu jika tidak segera dibersihkan dan ditangani"


"siapkan payung sekarang juga" kata Karin yang sudah tidak bisa menahan diri lagi dan ingin melihat Erick.


"ini" Ran Ran menyerahkan dua payung sama Karin.


Begitu menerima payung itu dia segera keluar mencari keberadaan Erick disepanjang jalan. Dia bernafas lega setelah mendapati Erick bersandar dipohon dalam keadaan tertidur dan basah kuyup.


Dia segera menghubungi Ran Ran supaya datang dan membantu. Tiba dirumah Erick dibaringkan dikamar rawat yang berada dilantai bawah karena Karin ingin melihat lukanya.


Benar saja lukanya masih belum sembuh betul bahkan masih merembes, dengan cekatan Karin mengganti kain kasa dan memberi anti septik agar cepat kering.


Dengan telaten dia merawat kekasihnya itu tanpa meninggalkan dia sedikitpun.


Erick membuka mata, dia melihat langit-langit kamar yang berbeda lalu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, melihat tangannya yang dipasang jarum infus juga melihat perutnya yang diperban, pandangannya tertuju oleh seseorang yang tertidur disampingnya dengan bantalan tangan.


"Chibi" katanya pelan.


Dia turun dari tempat tidurnya mengangkat tubuh Karin pelan supaya tidak membangunkan dia membaringkannya ditempat tidurnya.


Erick sendiri tidur disampingnya menggunakan selimut berdua menghadap kearah Karin melihat wajahnya dengan intens.


"terima kasih" ucapnya lirih mendaratkan kecupan didahi sang pacar.


Karin membuka matanya dia terkejut saat mendapati dirinya berbaring didekat Erick apalagi tangan Erick yang memeluk pinggangnya.

__ADS_1


Dia memindahkan tangan Erick pelan hendak turun tapi Erick malah mengeratkan pelukannya dipinggang Karin membuatnya mengerutkan dahi.


"kamu sudah bangun" katanya kesal.


Erick hanya tersenyum. "jangan kemana-mana sebentar saja seperti ini" kata Erick.


"tapi aku mau kekamar mandi lepasin sekarang"


Dengan muka cemberutnya dia melepas tangannya yang melingkar dipinggang Karin membiarkannya memenuhi panggilan alam.


Selepas Karin pergi Erick mencabut infus ditangannya karena dia merasa tidak memerlukan itu lagi, dia mencari pakaiannya dimana-mana karena saat ini dirinya dalam keadaan telanjang dada.


Karin yang membawanya balik kerumah dan membaringkannya diranjang segera menggunting baju Erick agar dirinya tidak masuk angin sekaligus mempermudah merawat lukanya, lalu menyuruh Ran Ran untuk membeli baju baru untuknya.


Dia melihat paperbag yang berisi pakaian karena tidak ada pakaian lagi akhirnya dia memakainya.


"apa yang kamu lakukan?" teriak Karin mengagetkan membuatnya melihat kearah Karin.


"nanti kuganti habisnya dingin banget" balas Erik memberi penjelasan.


"bukan itu tapi infusmu kenapa dilepas"


"Erchan kamu belum sembuh benar masih harus dirawat"


"ini badanku aku yang merasakannya sakit atau tidak, sembuh atau tidak jadi kamu gak perlu mengkawatirkan aku ok"


"walau dia bilang begitu tapi aku tetap kawatir sama keadaannya" batin Karin melihat perut Erick yang terluka.


Karin menghela nafas kesal. "terserahlah, istirahatlah aku akan membawakan makanan untukmu" kata Karin berbalik badan dengan cekatan tangan Erick menarik tangan Karin dan memeluknya sekali lagi.


"jangan mengalihkan pembicaraan, aku ingin tahu perasaanmu sekali lagi"


Karin diam dalam pelukan Erick dia tak mampu membohongi perasaannya kali ini, dia memang menyukai Erick dari dulu dan begitu senang Erick juga menyukainya.


Dia melihat wajah orang didepannya begitu intens dan lekat seolah tak mampu kehilangan dia sekali lagi.


Erick membalas tatapan itu dia terhanyut dalam tatapan mata Karin, dia alihkan pandangannya kebibir tipis nan mungil milik Karin berlahan dia dekatkan kepalanya hingga kedua bibir itu menempel.


"Erchan!"

__ADS_1


Erick tersentak kaget mengalikan mukanya kearah lain. "maafkan aku Bi" katanya lirih tanpa melihat keKarin.


"tidak apa, aku akan memberi jawaban yang kau inginkan" kata Karin lirih.


Erick melihat wajah Karin sekali lagi dia menetapkan hati mendengar jawaban yang akan membuat dia menangis atau justru membuatnya senang.


"jawabanku sama seperti yang kau dengar dirumah sakit"


"yang mana, aku tidak mau berbelit-belit"


Karin menghela nafas sejenak sebelum dia menarik kerah baju Erick hingga membuatnya sedikit menunduk.


Karin menempelkan bibirnya cepat. "ini jawabanku" katanya.


Mendengar jawaban itu Erick membalasnya dengan antusias dia sangat bahagia saat ini perjuangannya tidak sia-sia.


Dia memberi stempel kepemilikan dileher Karin, tidak hanya itu dia mendorong Karin tanpa melepas tautannya hingga mereka berdua jatuh keranjang, tangan Erick bergerilya mencari sesuatu dipunggung Karin.


"Erchan" panggil Karin terhadap Erick dia mengerti apa yang dicari kekasihnya itu.


"sedikit saja Bi boleh ya, kali ini saja" kata Erick memohon. Karin hanya cemberut walau begitu dia tetap memberikan apa yang Erick inginkan.


Dia melonggarkan apa yang mengingkat dadanya membiarkan kekasihnya itu melihatnya, tanpa ragu Erick segera menghisap dan memilin bermain pada sikembar dan sedikit memberi gigitan kecil disana, Karin tak kuasa menahannya dia keluarkan suara-suara yang membuat Erick semakin bersemangat, tangannya mencengkram erat rambut kekasihnya dan sedikit menekannya.


Puas bermain dengan sikembar dia turun kebawah menyusuri perut bermain dipusar Karin dengan lidahnya, sekali lagi dia tak bisa menahan suaranya cengkraman dan desahan desahan kecil keluar dari mulut Karin matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang Erick berikan.


"Erchan" panggilnya pelan.


Erick melihat wajah kekasihnya dia puas melihat kekasihnya begitu menikmati apa yang dia berikan, dia kembali ******* bibir Karin mengexplor hingga kedalam mengabsen deretan gigi disana.


Dia memeluk badan Karin begitu erat seolah tak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"terima kasih, aku senang sekali" katanya ditelinga Karin. "temani aku tidur badanku masih sakit" katanya.


"kalo masih sakit kenapa bangun dan mencabut infusnya" kesal Karin.


"karena aku gak suka, sudah dioperasi ditusuk pake jarum lagi aku kan bukan boneka yang dipolah enak saja" kesal Erick membela diri.


*****

__ADS_1


Maaf ya man teman ada adegan panasnya 🙏🙏🙏, tetap ikuti episod selanjutnya dan dukungannya 🤗🥰🤩


__ADS_2