THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
DIRESTOURAN


__ADS_3

Restouran lantai dasar hotel, Kiran sedang duduk santai bersama Fay juga Louris. Suasana yang cerah suhu yang hangat nampak berubah suram juga dingin disana bagaikan berada dikutub selatan. Bagaimana tidak itu disebabkan karena Fay juga Kiran yang sama-sama dingin dan pendiam, Louris yang berada ditengah keduanya nampak bingung harus memulai obrolan darimana.


"tuan Fay sepertinya anda harus membantu cucu anda saat ini" kata Kiran datar.


"aku sudah tahu, jangan kawatir aku akan segera menyerang kekuasaannya dengan telak" balas Fay.


"itu bagus, semakin cepat bertindak semakin bagus karena ini berhubungan dengan rivalmu Mateo"


"aku sudah mengusirnya dari negaraku sekarang mau mengusik cucuku, mungkin harus dimutilasi hidup-hidup supaga jera"


"sekalian keakar-akarnya biar tidak tumbuh lagi"


"beres!!!"


Louris semakin kesal dibuatnya bukannya obrolan yang hangat malah membahas soal pembalasan. Sota hanya diam saja duduk disebelah Kiran sambil minum teh.


Suara langkah kaki berlahan semakin jelas mendekat kearah mereka. Seorang remaja Jepang berwajah sama dengan Kiran berjalan sambil menggendong kucing persia pemberian nyonya Mahesa tanpa senyum.


"beb" panggilnya setelah dekat membuat semuanya menoleh melihatnya.


"wah cucuku kalo ada dia pasti ramai" batin Louris tersenyum senang.


Karin memberikan kucingnya pada Sota lalu duduk dekat kakaknya.


"ada apa litle?" tanyanya.


Karin mencengkram hem kakaknya dan menariknya supaya mendekat, lalu dia membisikan sesuatu ketelinga sang kakak. Fay dan Louris memandang heran saja.


Kiran terkejut dengan apa yang dibisikan adiknya, bagaimana tidak demi cinta dia harus berbuat seperti itu.


"sampai segitunya kau sama dia" kata Kiran.


Karin hanya diam menunggu kakaknya melanjutkan ucapannya.


"apa kau yakin dengan keputusanmu" kata Kiran menyakinkan. Karin hanya mengangguk.


"kalo begitu kenapa mesti bertanya? Setuju tidak setuju kau pasti akan melakukannya kan"


Karin langsung menunjukan giginya yang rapi dan memeluk kakaknya juga mendaratkan kecupan kilat dibibir sang kakak. "tanks kau memang mengerti aku"


"jadikan sekali seumur hidup kakak gak suka kau mempermainkan keyakinan orang"


"siap beb" katanya sambil mengangkat tangan memberi hormat.


Karin melihat kakek neneknya lalu membuka suara. "lho ada manusia ternyata kukira patung" ketusnya Kiran dan Fay hanya mendesah kesal.


"kau bener-bener bocah sialan" kata Fay geram.

__ADS_1


"sudah dibilangin jangan marah-marah nanti cepat ded, gak pingin apa lihat citcitnya lahir" Karin mengedarkan pandangannya keseluruh meja, dan matanya tertuju pada kopi latte yang masih utuh milik Fay.


Louris yang mendengar citcit langsung buka suara. "benar sayang jaga emosi gak pingin lihat citcit kita lahir apa" katanya sambil tersenyum.


"dia yang mulai duluan sayang" kata Fay sambil melirik Karin meraih kopi latte yang berada didepannya.


"hei itu kopiku main ambil saja pesan sendiri sana dasar bocah kurang ajar"


"tadi bagaikan kutub selatan sekarang adu mulut kaya anak kecil lagi berantem" batin Louris.


"sebagai orang yang sudah tua mengalah sedikit sama yang lebih muda, jangan kawatir didapur masih banyak" Karin meminum kopinya dengan tenang.


Fay langsung mengeluarkan taringnya sambil mengayunkan tongkat siap memukul.


"sabar sayang jaga emosi jaga emosi" teriak Louris mengelus dada suaminya.


"jangan kelewatan kenapa?" sahut Kiran.


"habisnya tegang banget dari tadi kaya es balok" jawab Karin.


"lawanmu orang tua litle"


"cih kau kaya Erchan ya"


"litle"


Hp Karin berbunyi segera dia melihat siapa yang menelfonya, setelah tahu dia langsung mengangkat didepan semuanya.


"sayang kenapa aku gak boleh ikut keJakarta?" kata orang diseberang yang ternyata Felix.


"tugasmu belum selesai" jawabnya.


"kalo begitu sebagai bayarannya boleh gak main-main sama cewek itu"


"kau ingin membuatku bertengkar sama Erchan"


"tapi dia membuatku gemes sayang boleh yah"


"apa yang dia lakukan?"


"wah pertanyaan yang bagus aku suka"


"mau kubuat bisu selamanya" ancam Karin.


"gak berani gak berani maaf deh, dia menyuruh seorang detektif untuk menyelidikimu untung anak buahku berhasil menangkapnya dan memberi alamat palsu hehehe nah sekarang boleh yah dia imut banget jadi ngiler nih pingin wik wik dikit"


"terserah kau saja tapi jangan berlebihan"

__ADS_1


"siap sayang muah"


"punya anak buah pada lebay semua, kena panyakit apaan sih?" batin Karin dengan cemberut mematikan panggilannya.


"kau tidak melakukan sesuatu sama Fani" sahut Kiran.


"sepertinya Felix tertarik padanya apa salahnya membiarkan dia menggodanya" balas Karin. "yah semoga saja bisa seumur hidup" lanjutnya.


"kamu dan anak buahmu seperti bukan atasan dan bawahan ya" sahut Fay.


"kami semua hanya bersikap formal saja dan saling membantu, lagipula aku dan mereka menjalin hubungan yang menguntungkan kalo mereka mau berbuat lebih ya terserah mereka saja" tutur Karin.


"bersikap formal ya" batin Fay.


Rumah mewah bernuansa Jawa Eropa tempat tinggal Fani. Dikamar dia sedang berkutat dengan laptopnya melihat data-data yang dikirim oleh detektifnya.


Dia terpengarah begitu melihat data yang dia baca dengan teliti itu.


"jadi dia beneran wanita!! Tapi kenapa dia berpenampilan pria dan lagi pemilik Savana hotel juga cafe blue. Emm kalo cuma pemilik hotel sama cafe kenapa ada mereka berdua seolah orang penting saja? Sebenarnya siapa dia?" gerutu Fani didepan laptopnya.


Fani mengambil hp didalam tasnya hendak menelfon seorang haters untuk mengumbar kebencian melalui sosmed. Baru saja tangan Fani menyentuh layar mencari sebuah nomor yang dia simpan hp itu sudah melayang keatas.


Dia mendongak keatas melihat siapa yang mengambil hpnya. Terlihat seorang pria asia timur berambut seleher sudah berdiri dibelakang Fani.


"siapa kamu?" teriak Fani.


"hai lama tak bertemu makin cantik saja" goda Felix.


"kembalikan hpku" Fani berusaha meraih hp yang berada ditangan Felix.


"bentar mbak bentar hapus nomor dulu sekalian cek in" Felix segera mengotak atik hp Fani sambil mencegah tangan Fani agar tidak sampai merebut hpnya.


"jangan" Fani berteriak bertepatan dengan dia mendorong badan Felix.


Felix yang kurang keseimbangan terdorong kebelakang hingga jatuh kelantai bersama Fani.


Bruk...


Keduanya jatuh bersamaan hppun terlempar agak jauh. Posisi mereka timpang tindih sayangnya badan Fani sedikit keatas hingga wajah Felix tepat berada ditengah dadanya. Sementara bagian bawah juga bisa mereka rasakan membuat Fani memerah seketika.


Plak....


*****


FELIX CHEN


__ADS_1


__ADS_2