
"entah mengapa mereka semua berhubungan" gerutu Karin tapi masih didengar Erick juga Johan.
"berhubungan maksudnya gimana" tanya Erick.
"gak tahu juga mungkin ini hanya firasat saja" jawab Karin.
"apa kau akan menghubungkan dengan Jun" sahut Johan memperhatikan Karin yang lagi mikir sesuatu.
"gak tahu juga semoga tak seperti yang aku bayangkan saja"
"sudahlah jangan difikirkan nanti cepat tua ikuti alur sungai saja santui gitu" kata Erick.
"tapi kalo terlalu deras banjir hanyut trus mati.."
"gentayangan hahaha" sahut Erick yang langsung memotong ucapan Karin membuatnya cemberut.
"dan menghantuimu setiap hari mencekikmu seperti ini" Karin menaruh kedua tangannya melingkar dileher Erick mencengkran begitu erat serta menggoyang leher itu dengan kencang.
"aww aww sakit sakit Bi, Chibi Maroko Chaaaaan uhuk uhuk uhuk" ucap Erick yang kesakitan memegangi lehernya.
"gila kamu ya dasar ini sih gak mati dibunuh hantu melainkan kamu sendiri, sengaja kamu ya!" lanjutnya dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"kalo iya kenapa!!" Karin bicara dengan nada kesal sambil melipat tangannya.
"kau kenapa sih gak ada hujan gak ada badai muka ditekuk begitu marah gak jelas" ucap Erick semari mengelus lehernya yang sakit.
"gak ada, kalo dah selesai pergi sono"
"habis manis sepah dibuang dasar, ok deh pulang dulu capek juga bikin beginian" Erick beranjak dari tempat duduknya hendak berjalan keluar.
"kamu beneran mau pulang"
__ADS_1
"lho gimana sih tadi diusir sekarang ditahan"
"ya sudah pergi sana huh" ucapnya sambil berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Johan hanya melihat saja sambil berkutat dengan hpnya sibuk membalas pesan dari Ersya.
Selama seminggu Karin tidak keluar rumah dia menyerahkan perkerjaannya kepada Johan untuk melihat perkembangan hotelnya dikota S. Selama dirumah itu pula Karin sering marah-marah gak jelas membuat semuanya hanya tertawa kecut. (maklum lagi PNS bawaannya marah mulu😒)
"tuan laporan baru datang tentang Johan" ucap seorang pengawal pada pria blesteran tampan dihadapannya.
"katakan" ucapnya dengan dingin kepada pengawalnya.
"Johan pemgawal pribadi tuan Karin tuan diantara para pengawalnya dia yang paling dekat sama tuan Karin mereka tinggal dikota XX" jelas pengawal itu.
"Karin!!"
"namanya Karin Arandita Sanjaya tuan" mendengar nama itu pria tadi langsung mendelik terkejut seolah teringat sesuatu dulu.
"i, i, iya tuan, pemilik hotel SAVANA Jakarta sama CAFFE BLUE Surabaya dan sekarang sedang membangun cabang dikota S loparan datanya ada disini"
Pria itu menggerakan tangannya supaya pengawal tadi keluar, lalu dia mengambil map yang berada diatas meja membukanya meneliti setiap kata yang ada dilembaran kertas putih, dia baru menyunggingkan senyum disudut bibirnya saat tahu apa yang dibacanya itu ternyata benar bahwa mereka orang yang sama cuma beda penampilan saja.
"ternyata memang itu kau ya Aran, wajahmu bener-bener tak berubah masih tetap sama seperti dulu tujuh tahun yang lalu" gumam pria itu.
DiJepang Karin lebih dikenal sebagai Aran oleh sebagian temannya, jadi nama Karin jarang ada yang tahu bahkan mantannya dulu memanggilnya Arandita.
"kau dan kakakmu seperti bayangan dalam cermin sayang kalo seperti ini hihihi" pira itu melihat foto Karin yang sama dengan Kiran kakaknya.
"Karin dan Kiran sikembar yang mengagumkan sekaligus menggemparkan karena kecerdasan otaknya, tapi dia jauh lebih cerdas daripada kakaknya hhmmm" batin pria itu menatap dua foto milik Karin juga Kiran.
"sayang apa yang kau lihat" seorang wanita keluar dari kamarnya hanya berbalut selimut saja mengagetkan.
__ADS_1
"laporan tentang Johan"
"oh kamu sudah mengetahui tempat tinggalnya bagus kalo gitu, kita lanjutin yuk sayang yang tadi kan ketunda" wanita itu menggoda mengajaknya berjalan kekamar.
"tunggu saja Aran aku akan menemuimu nanti" batin pria itu.
Sementara di Itali didalam rumah besar nan mewah Loris juga suaminya sedang bercengkerama duduk santai ditaman.
Aron Fay Andromeda nama suami Loris dia lebih dikenal dengan nama FAY sang HADES. Seorang pengusaha besar juga berpengaruh disebagian besar di Itali. Bukan hanya seorang pengusaha bahkan mafia dan geng tunduk padanya karena dia terkenal kejam dan tak akan segan-segan membunuh musuhnya jika mereka berbohong atau berkhianat, keluarga Andromeda juga memiliki laboratorium pribadi dimana tempat itu dijaga begitu ketat tidak ada yang mampu menerobosnya.
"sayang apa kau sudah mengirim orang-orangmu ke Indo untuk menjaganya secara diam-diam" tanya Loris sama suaminya Fay.
"sudah sayang sejak tahu hasil dari laboratorium waktu itu" ucap Fay sambil menyeruput tehnya.
"wow hebat bergerak cepat ya" sanjung Loris.
"hhhmmmm"
"aku jadi teringat waktu dia diperkenalkan sama gadis itu tujuh tahun yang lalu, ingat kan sayang bagaimana kelakuannya waktu pertama mengijakan kaki dirumah ini"
"iya aku masih ingat waktu itu dia bener-bener berani menatapku juga tersenyum dan bilang kalo dia gak takut seolah mengejekku"
"dan kelakuannya itu mengingatkan kita pada anak kita yang telah tiada, seandainya kita tidak terlambat menolongnya pasti saat ini semua tidak akan terjadi" raut wajah Loris menunjukan raut yang sedih gak terasa buliran mutiara melewati pipinya.
"jangan diungkit sayang kalo itu hanya membuat kita menangis, yang kita bisa lakukan saat ini melindungi cucu kita dan membawanya kesini"
"trima kasih sayang semoga dia mau diajak kesini ya aku sudah gak sabar ingin melihatnya berada dirumah ini"
"ya semoga saja sayang aku juga tidak sabar karena kita sudah waktunya pensiun"
****
__ADS_1