
Mendengar kabar Karin pingsan Louris sang nenek jingkrak-jingkrak ingin melihat cucu semata wayangnya hingga marah-marah tanpa sebab. Fay menghela nafas kasar memegangi jidatnya dia tahu jika menolak bertemu cucunya Louris akan semakin mengamuk.
Fay, Louris berserta tangan kanannya berangkat menuju hotel tempat Karin berada, Fay sengaja mengajak tangan kanannya supaya dia tahu cucu tuanya.
Tiba dihotel mereka segera berlari keresepsionis menanyakan kamar yang ditempati Karin.
"kamar presdir berada dilantai paling atas nyonya, silakan naik lift sebelah sana" kata resepsionisnya dengan sopan menunjuk pintu lift yang tak jauh dari tempatnya.
Ketiganya segera menaiki lift yang menuju kekamar Karin. Sesampainya diatas mereka bertiga kebingungan dan bengong melihat hanya ada dua kamar dilantai atas.
"Glen coba telfon dia yang mana kamarnya" kata Fay sama tangan kanannya yang dipanggil Glen.
"baik tuan" setelah membalas perkataan tuanya dia mengambil hp menelfon anak buahnya yang menemui Karin.
Beberapa menit kemudian Glen berjalan mendekat kearah keduanya. "kamar tuan muda pintu sebelah kanan tuan, nyonya" katanya sedikit menunduk.
Glen segera mengetuk pintu kamar Karin, tak berapa lama seseorang membuka pintu dia langsung menunduk hormat begitu tahu yang datang para tuanya.
"bagaimana keadaannya?" tanya Louris langsung mempertanyakan keadaan cucunya.
"tuan cuma kecapekan nyonya setelah istirahat yang cukup nanti akan sembuh" jawab orang itu yang ternyata suruhannya sendiri.
"minggir aku mau masuk melihatnya" Louris menerobos masuk kedalam melihat cucunya.
kamar terluas diantara kamar lainnya apalagi lantai atas cuma dua kamar saja, membuat semua orang berdecak kagum dengan nuansanya yang elegan berkarisma. Diatas spring bad berukuran king size berbalut hijau daun motif bunga Karin tidur dengan tenang disana bagaikan putri tidur yang tidak ada seorangpun berani mengusiknya.
"kalo tidur begini dia begitu menawan" kata Louris mendekat keranjang dan duduk ditepi.
Fay duduk dikursi yang sudah tersedia disana sedangkan Glen berdiri didekat Fay memperhatikan Karin.
"jadi dia cucu tuan, wajahnya sangat jauh berbeda dari tuan muda Aran, tapi kenapa aku pernah melihatnya sebelumnya" batin Glen tanpa mengalihkan pandangannya.
Nana datang mengecek kondisi majikannya dia terkejut ketika melihat ketiga orang asing sudah berada didalam kamar.
"anda siapa?" tanya Nana.
Glen maju memperkenalkan tuanya. "maaf nona kami datang tanpa pemberitahuan, perkenalkan tuan Fay juga nyonya Louris dari Paris menjenguk tuan muda" jelas Glen.
"tuan muda!!?" kata Nana pendek.
"iya, tuan muda Karin" kata Glen bingung juga heran.
"sepertinya kalian salah paham, oh maaf sebelumnya saya dokter pribadi lilte sekaligus penanggung jawab hotel ini, panggil saja saya Nana" Nana mengulurkan tangannya menjabat tangan Glen. Dan Glen sendiri membalasnya sambil tersenyum kecil disudut bibirnya.
"apa maksudmu dengan kami salah paham" sahut Fay yang duduk dikursi.
__ADS_1
"nanti anda akan tahu sendiri, permisi nyonya saya mau memeriksa little" Karin berjalan menuju ranjang Karin memeriksanya lagi.
"apakah anda mau menginap?" tanya Nana.
"iya kita akan menginap sampai litle sembuh" Louris langsung menjawab begitu saja sebelum yang lain menjawab.
"baiklah saya permisi" kata Nana sedikit menunduk memberi hormat.
"tetap awasi mereka" titah Nana sama Ran Ran yang baru saja masuk.
"hmm" Ran Ran hanya bergumam lalu melihat mereka bertiga bergantian.
Diwaktu yang bersamaan Erick berkunjung kehotel juga, Erick yang sebelumnya sudah bolak-balik kehotel tidak membuat semua orang curiga apalagi mengetahui hubungan asmara mereka.
Begitu tiba dia langsung menaiki lift menuju kamar Karin, tujuan dia kesana hanya untuk melepas rindu dengan tidur dikasur milik Karin dan siapa tahu Karin nantinya akan menuju hotel saat pulang.
Tapi dia dikejutkan oleh kamar Karin yang ramai karena ketiga orang masih berada disana dan diawasi oleh Ran Ran.
"ada apa kenapa semua pada kumpul dikamar Karin?" tanya Erick heran setelah tiba dikamar kekasihnya.
Semua pada melihat kearah Erick yang bingung dan heran sama situasinya.
"apa kamu tidak tahu kalo dia sakit" kata Louris.
"sakit gimana bukannya dia berada diluar kota" balas Erick menimpali.
Erick berjalan mendekat rencana dia beristirahat dikamar kini jadi dia yang kawatir dengan keadaan Karin. Dia mengecek suhu tubuh Karin menggunakan punggung tangannya.
Karin yang merasa ada yang menyentuh dahi juga lehernya merasa terusik lalu membuka matanya lebar-lebar melihat tangan siapa yang menyentuhnya.
"Erchan kamu disini" katanya saat mengetahui milik siapa tangan itu lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"litle kamu tidak apa-apa, sudah baikan dimana yang sakit" celetuk Louris menghamburkan diri memeluk Karin.
"siapa yang sakit aku cuma kecapekan, ngomong-ngomong kenapa semua pada disini bukannya sudah berangkat keParis ya"
"kami mendengar kamu pingsan jadi menunda penerbangan keParis" sahut Fay.
"beneran kamu gak apa-apa" sahut Erick Karin hanya mengangguk mengiyakan.
"Na kamu kesini sekalian bawa manisan dan kaya biasanya" kata Karin menelfon Nana melalui hpnya diatas meja lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar menuruti panggilan alam.
Semua pada melongo begitu melihat pemandangan didepan matanya saat Karin berjalan menuju kamar mandi. Bagaimana tidak karena dia hanya memakai hotpen dan kaos oblong biasa hingga menunjukkan siapa dia sebenarnya.
"kamu cewek!!" kata semuanya kompak kecuali Erick.
__ADS_1
"eh.." mendengar itu Karin langsung melihat diri sendiri. "aaaaaaaaa" teriaknya.
"ini pasti kerjaannya Nana" katanya lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"wah beneran ini asli lalu kenapa selama ini kamu berdandan ala cowok keren pisan aku saja tergoda" Louris berkata sambil memegang dada Karin membuatnya terkejut. Semua orang cuma memandang tak suka melihatnya.
"seandainya anda pria sudah hancur tuh badan" kata Karin tak suka.
"hahahaha jangan begitu cuma pengecekan"
"aku dari dulu memang suka berdandan ala pria, sudahlah kekamar mandi dulu bau banget badanku" Kata Karin melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi.
"apa kamu juga sudah tahu" tanya Fay sama Erick yang duduk ditepi ranjang.
"iya" jawabnya pendek dan singkat.
"tapi baru kali ini aku melihat dia seperti itu" batinnya.
Nana datang bersama tiga pelayan pria mereka membawa beberapa hidangan jugan beberapa kue dan minuman, Nana memerintahkan para pelayan itu supaya menatanya diatas meja dengan rapi lalu berjalan keluar setelah semuanya selesai.
"silakan tuan dan nyonya" kata Nana sedikit menunduk.
"nanti saja nunggu dia keluar kamar mandi" balas Fay.
"baiklah kalo begitu" dia berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"siapa" teriak Karin dari dalam.
"aku lilte, Nana!" balas Nana.
"masuklah"
Setelah mendapat izin Nana masuk kekamar mandi, mereka yang ada diluar hanya saling melempar pandangan satu sama lain.
"gantikan aku merawat Johan sementara mungkin aku jarang kesini untuk kedepannya" titah Karin sama Nana bawahannya.
"baik lilte, semua orang sudah pada tahu siapa anda sekarang"
"ya aku seperti memiliki dua identitas saat ini"
"kuharap anda tetap waspada sama orang-orang didekat anda" kata Nana sambil membantu Karin membersihkan diri sampai selesai.
"terima kasih"
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah like, komen juga yang lainnya dukungan anda sangat berarti bagi author 😘🥰🤗