
"baik tuan saya undur diri dulu" pak Anton menunduk lalu berjalan keluar.
"Johan akan mengantikan posisimu Nana kamu urus hotelnya mulai hari ini, besok aku akan kejepang sepertinya ada tikus pengganggu yang mengusik makananku" printah Karin.
"siap litle, nanti sore ada rapat dengan investor" jawab Nana menjelaskan.
"ok, setelah ini kita berangkat kau sudah menyiapkan pakaianku kan" tetap berkutat dengan cybernya.
"sudah semua litle"
"bagus"
Pak Aldo dan lainnya mulai menepati rumah belakang dan memilih kamar mereka masing-masing, mereka semua terpengarah melihat rumah belakang bertingkat dua dengan lima belas kamar, satu ruang keluarga lengkap dengan tv, dan dapur sendiri nan mewah bagi mereka semua,
"wah hebat pak ini sudah mewah sekali" jawab salah seorang cewek dengan berbinar.
"sssst biasa saja yang penting kita kerja dengan baik" balas bi Ratna menempelkan jari telunjuknya kebibir.
"ada bayarannya yang setimpal" suara Johan langsung membuat diam semuanya, Johan memilih kamar dibawah daripada diatas yang gak ribet dan langsung keluar jika dipanggil Karin.
"a, aden" kata bi Ratna
"baby tidak memperkerjakan seseorang dengan cuma-cuma dia akan meminta sesuatu dari kalian" semuanya mendengarkan dengan kidmad.
"ma, maksud mas Jo gimana?" tanya salah satu dari mereka.
Johan menghela nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya.
"seluruh karyawan baby baik wanita maupun pria semuanya harus bisa genjet senjata, dengan kata lain yawa kalian berada ditangan kalian sendiri, dengan begitu tidak ada beban yang perlu dipikul dari kedua belah pihak mengerti kan kalian"
Setelah bicara panjang lebar Johan keluar menemui Karin sementara pak Aldo dan yang lainnya saling melempar pandangan.
"ma, masa kita harus perang sih pak" kata si A
__ADS_1
"tapi ada benernya juga, kita minta diajari sama mas Jo saja yuk latihannya"
sahut si B
"boleh juga dengan begini kita semua bisa seperti anak buah pak Anton itu apalagi mas Jo hehehe" balas yang lainnya, dan mereka pun ngobrol sampai terbahak-bahak.
Karin menuruni anak tangga berjalan cepat hendak menuju kearah hotel lagi tapi dia langsung berubah masam ketika melihat Erick sudah berdiri dengan muka kesalnya.
"chibi ikut aku bentar" katanya dengan kesal.
"kenapa kau? Hari ini aku sibuk!" jawab Karin tak kalah kesal.
"please deh kali ini saja, demi gajihku nih" kata Erick memelas.
"hah!! apa hubungannya denganku"
"sudah pokoknya ikut dulu nanti kujelaskan dimobil" Erick langsung menarik tangan Karin membawanya masuk kedalam mobil.
"heeeei ini pemaksaan, sudah kubilang ada rapat dengan investor" teriak Karin.
"beh hahahahahahaha, hahahahaha kasian banget kamu Erchan" tawa Karin menggelegar hingga sakit perut.
"jangan menghina deh kalian enak para bos tinggal yuruh gak tahu susahnya orang huh"
"habisnya lucu sekali masa gara-gara itu saja sampai gajimu jadi taruhan hahaha"
"aih bikin pusing saja yang satu minta ini yang satu minta itu memang belakangan ini nona Vivi moodnya naik turun apa semua wanita memang seperti itu ya"
"bagaimana kalo kamu tanya seperti ini saat dia marah nanti"
"tanya apa?" tanya Erick penasaran. Karin menepuk bahu Erick hingga membuatnya melihat kearah dirinya.
"NONA VIVI APA KAMU SEDANG DATANG BULAN!!" Erick langsung mencep mendengar ucapan Karin.
__ADS_1
"gila kamu mana ada pertanyaan seperti itu kamu saja yang tanya sana"
"aku jamin Erchan pipimu langsung ada tanda merah lima jari hahahaha"
"gak lucu diam kau" Erick membawa mobilnya dengan ngebut memecah keramaian kota.
"hei hei Erchan antarkan aku kehotel dulu sudah mau telat nih" teriak Karin tapi Erick hanya diam saja.
"hoi setelah ini kita kerumah cecan main game ok, oooi jelek landak jabrik aku akan menciummu kalo kau gak nurut"
Karin mendekatkan wajahnya hendak mencium Erick beneran.
"gyaaa kau pikir aku apaan ok ok nih kehotel dulu puaskan"
"sial dia bener-bener mau menciumku ukh" batin Erick.
Sebuah kota diParis disalah satu rumah yang begitu mewah dan megah dengan bodyguard dimana-mana seorang wanita tua sedang berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk santai, terlihat pula seorang dokter pribadi sedang duduk disamping suaminya membicarakan sesuatu yang serius.
"bagaimana hasilnya?!!" tanya wanita tua itu setelah sampai didekat suaminya.
"nyonya besar" ucap dokter pribadi itu sembari menundukan kepala.
"tenang dulu Loris duduklah dulu dan dengar penjelasannya" kata sisuaminya dengan pelan.
"bagaimana aku tidak sabar aku sudah menunggu hasilnya sejak seminggu yang lalu sampai gak bisa tidur" walaupun ngomel-ngomel wanita tua bernama Loris menuruti apa kata suaminya untuk duduk.
Sang dokter hanya tersenyum melihat semua itu.
"sekarang coba jelaskan bagaimana hasilnya" kata Loris melanjutkan ucapannya.
"silakan anda lihat sendiri nyonya" dokter itu memberikan sebuah amplop putih dengan tulisan laboratorim XX diparis tempatnya berkerja, dengan cekatan Loris langsung mengambil dan membukanya meneliti setiap tulisan yang ada dikertas putih hingga tak ada yang kelewatan.
"matanya langsung terkejut dan air matanya sudah tak bisa dibendung lagi dia menangis disamping suaminya saat melihat tulisan dibawah yang tebal dengan kata "POSITIF!!"
__ADS_1
*****