
Karin datang keapartemen Erick dia ingin bertemu keduanya. Karin yang tahu kode masuk apartemen Erick langsung menekankan password dipintu dan terbukalah.
Karin berjalan sendirian masuk kedalam, apartemen itu begitu sunyi tidak ada suara sedikitpun disana, dia menyusuri kamar tamu tapi kosong lalu berjalan kekamar yang satunya.
Karin mengangkat sebelah alisnya saat melihat Fani tidur diranjang Erick lalu menghela nafas kasar, sementara Erick lagi dikamar mandi membersihkan diri dia berjalan keluar memilih duduk disofa menunggu kekasihnya.
Sesaat kemudian Erick keluar menuju arah dapur tanpa mengetahui keberadaan Karin membuat kopi dan menekan panggilan dihp.
📞"halo om" kata Erick memulai.
📞"kemana saja kau bocah kampret ditelfon dari kemarin kemarin gak diangkat" teriak seorang pria yang ternyata papa Fani dan didengar oleh Karin.
📞"maaf om aku lagi sibuk banyak kerjaan jadi baru bisa angkat sekarang"
📞"ah paling-paling sibuk pacaran sampai lupa yang lainnya"
📞"om kaya gak pernah muda saja, sitomboy ngambek minta ngamplok terus hehehe, omong-omong ada apa om telf kesini tumben banget?"
Telinga Karin membesar saat mendengar ucapan Erick yang jelas tertuju padanya.
📞"ah iya itu, Fani pergi keJakarta sama pacarnya tolong awasi dia ya, kamu kan tahu sendiri pacaran zaman now kaya gimana harta karun om atu atunya, tolong ya"
📞"siap dijalankan om"
"aku gak tega memberitahu sebenarnya sama om keadaan Fani" batin Erick sambil menyeruput kopinya.
📞"oh iya satu lagi"
📞"apa om?"
📞"aku sarankan kamu lebih baik pergi ke psikolog, om berharap kamu masih normal" papa Fani mematikan telfonnya begitu saja.
Buah.... uhuk uhuk uhuk
Erick langsung menyemburkan kopi yang dia minum hingga muncrat keseluruh meja dapur.
"aku masih normal, Chibiku cewek om cewek tulen" teriak Erick.
"dimatiin lagi, brengsek" gerutunya.
"kenapa semua orang menganggap ku sudah gak normal sih padahal kan aku pacaran sama cewek, dia saja yang terlalu tomboy penampilannya juga terlalu wow" Erick menggerutu sambil menggerakkan tangannya membersihkan meja dapur dan didengar oleh Karin yang berdiri dibelakang.
"om kamu benar Erchan sepertinya kamu perlu kepsikolog memeriksakan mentalmu" kata Karin mengejek melipat tangannya didada.
__ADS_1
"Bi kapan kamu datang ko gak kasih tahu" kata Erick kaget segera dia membersihkan tangannya.
"mau minum kopi atau yang lainnya"
"tidak perlu aku ada perlu sama Fani" ketus Karin.
"Fani sedang tidur semalam dia demam tinggi"
"sudah diperiksakan"
"sudah, dokter bilang badannya menggigil akibat terlalu lama didalam air" jelas Erick.
"sorry ya ini semua gara-gara Felix dia merendamkan Fani kebhatup karena kesal" Karin membungkukkan badannya meminta maaf.
"kenapa kamu yang meminta maaf, harusnya dia yang melakukannya" Erick gak terima sama apa yang dilakukan Felix terhadap Fani.
"gak apa-apa kan kita minta maaf untuk orang lain"
Erick mengacak rambut Karin seperti anak kecil. "bikin aku gemes" katanya beralih mencubit pipi Karin.
"sakit Erchan" kata Karin mengelus pipinya. "Erchan minta tolong beliin ketoprak dong lagi pengen nih" lanjutnya mengeluarkan uang didompet.
"ok, pakai uangku saja, aku pergi dulu tapi sebelum itu minta ini sebagai upahnya" Erick meraih kepala Karin menghadap kedirinya lalu mencium bibirnya dan berlalu pergi.
Setelah Erick pergi dia berjalan menuju kamar Erick duduk dikursi dekat ranjang, melihat wajah manis Fani yang masih tertidur lelap.
Fani berlahan membuka matanya mengubah posisinya setelah bener-bener terbangun.
"mas Erick" teriaknya memanggil Erick.
"dia lagi pergi sebentar" sahut Karin membuat Fani terkejut berlahan menoleh kesumber suara itu.
"kamu, ngapain kamu kesini?, Mau memberikanku sama dia hah" teriak Fani dengan wajahnya yang pucat pasi.
"mau membuangmu kelaut karena sudah membuat wajahku menjadi merah" kata Karin datar dan dingin membuat Fani teringat sama Felix.
"buang saja terserah kamu" Fani memalingkan wajahnya karena melihat sorot mata Felix dimata Karin. Sejak keluar dari apartemen Felix dia selalu teringat sama Felix sampai kebawa mimpi.
"teringat dia!!" Fani langsung mendelik sama ucapan Karin.
"sss siapa yang teringat sama dia" kata Fani terbata juga berdalih. Karin tersenyum kecil disudut bibirnya.
"Felix pernah menyukai seorang wanita lebih dari apapun didunia bahkan termasuk dirinya sendiri, sayangnya orang yang dia sukai terlalu matre demi uang dia rela melakukan apapun bahkan melempar dirinya keranjang pria kaya" Karin mulai bercerita. Fani yang berpaling kini mendengarkan cerita Karin dengan kyusu.
__ADS_1
"cinta Felix yang terlalu besar membuat dia rela melakukan apapun, lambat laut seiring berjalannya waktu cinta itu berubah menjadi kebencian dikala dia melihat sendiri apa yang pacarnya lakukan demi harta semu yang tidak pernah ada habisnya, sambil menangis dia menyiksa pacarnya sendiri hingga mati sejak saat itu dia tak pernah sekalipun berhubungan dengan wanita"
"jadi begitu ya, alasan dia berbuat kasar selama ini" batin Fani tertunduk.
"selama ini dia tidak pernah mengasarimu, pikirkan baik-baik kenapa dia berbuat kasar padamu"
Karin bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar, dia berhenti didaun pintu melanjutkan perkataannya.
"kalian yang pernah mencintai seseorang pasti mengerti"
Fani bingung mencengkram erat selimut yang dia pakai, pikirannya kacau saat ini juga bingung harus bagaimana.
Erick datang membawa ketoprak pesenan Karin tapi sayangnya Karin sudah pergi tanpa pamitan.
Ketoprak yang dia beli dikasihkan keFani dia yang kurang mood menolak ketoprak itu pada akhirnya dia makan sendiri.
"dasar nasip sial bener hari ini ya" gerutu Erick mengacak ketoprak itu tanpa ada niatan untuk makan.
Felix yang mendapat pesan dari anak buahnya sangat kesal memporandakan apartemennya.
"kenapa kau ikut campur urusan pribadiku baby" teriaknya lalu berjalan pergi hendak menemui Karin dirumahnya.
Sebelum itu dia mengambil sebotol wiski diteguknya minuman setan itu berkali-kali hingga dia merasa lega sambil menyetir mobil menuju tempat yang dituju.
Karin pulang kerumah langsung menuju kamarnya tanpa ada yang mengganggu, dia menelfon Nana menanyakan kabar Johan. tidak ada kerjaan hari ini dia sempatkan membuka buku kecil yang dia temukan setelah membersihkan diri dan hanya memakai bhatrobe.
Baru saja dia memegang buku itu suara ketukan pintu mengusik telinga Karin membuatnya menaruh buku kecil itu diatas meja kembali.
"apa apa pak?" tanyanya sama kepala pelayan rumah.
"ada seseorang mencari anda sedang menunggu dirumah belakang"
"seseorang!!?"
"sepertinya sama dengan tuan Han dia menyebut anda baby, wajahnya cantik tapi laki-laki" tutur pak Aldo menjelaskan.
"terima kasih aku sudah mengerti siapa dia" Karin berjalan menuju rumah belakang begitu cepat dengan langkahnya yang lebar juga badan yang tegak.
"baby katakan padaku kenapa kau ikut campur urusan pribadiku" teriak Felix sambil berjalan kearah Karin dan mulut yang bau alkohol.
Buak....
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah memberikan like & komen juga yang lainnya dukungan anda sangat berarti bagi author 😘🥰🤗