THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MY BEST FRIENDS


__ADS_3

"kenapa mesti dua kamar, kamu gak mau sekamar denganku ya" sahut Erick dengan nada tak suka.


sementara dua resepsionis saling memandang dengan heran melihat sikap Erick sama Karin.


"lho kan wajar kita pesen dua kamar" Karin heran dan bingung dengan perkataan Erick.


"gak wajar gak wajar, mbk pesen kamar satu saja ini aku yang bayar cepat berikan kunci cardnya" teriak Erick memandang sebal kearah Karin.


"tunggu dulu kalo pesen satu kamar aku tidur dimana masa dilantai heeeiii" Karin berteriak, tangannya sudah ditarik oleh Erick.


"apa temennya homo ya, wah kasian sekali siganteng kalo sampai temannya homo ya san" ucap resepsionis A


"iya amit-amit deh" resepsionis B berkata sambil bergeleng kepala.


Dikamar Karin masih gak terima karena Erick pesen cuma satu kamar.


"katakan padaku apa maksudmu pesen kamar cuma satu" kata Karin dengan nada kesal juga ngegas.


"aku pesen satu kamar tuh supaya ada temennya buat ngobrol huh"


"trus aku tidur dimana aku gak mau ya tidur seranjang sama kamu"


"nih ranjang kamu pakai sendiri nanti aku tidur disofa ok" Erick menepuk ranjang yang berada disampingnya, lalu sadar tentang sesuatu saat melihat Karin.


"eh tunggu dulu kita kan sesama cowok ngapain tidur pisah hmmm" lanjut Erick yang menaruh jari telunjuknya didagu.


"memang kenapa? Yang jelas aku gak suka tidur berdua pokoknya aku lebih suka tidur sendiri kau sudah memberikan ranjang ini padaku kau tidur disofa sana" Karin berkata sambil berkaca pinggang dan nada sinis.


"huh, ya ya ya aku akan tidur disofa, kau mau kemana?" kata Erick yang terkejut saat melihat Karin berjalan kearah pintu yang tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"mau mandi sudah leket banget apa mau ikut juga"


"apaan gitu aja marah" Erick mendesah kesal.


Didalam kamar mandi Karin tak segan-segan menanggalkan pakaiannya berikut korset silikon seperti warna kulitnya yang mengikat dadanya, korset buatan khusus yang sengaja dipesan ini mudah dibersihkan mendadak juga dikeringkan melalui hairdrayer jadi tak perlu menunggu lama dan kawatir.


Karin berjalan kearah bhatup melepaskan penat merilexkan pening dikepalanya, dia sengaja berlama-lama sambil menunggu pakaiannya kering, dan teringat sesuatu saat melihat kearah langit-langit kamar mandi.


Segera dia mengambil ponselnya menelfon seseorang guna mengerjakan tugas selanjutnya.


"hallo pak Anton, apa ruang bawah tanah sudah selesai" tanya Karin sama Anton sekretarisnya.


"sedikit lagi tuan" jawab Anton diseberang telf.


"berapa hari lagi"


"ok, lima hari beres kan" Karin menyeringai tipis lalu menutup telfnya, setelah itu dia menelfon seseorang lagi.


"bagaimana disana?" tanya Karin sama orang yang ditelf.


"beres bos aman" jawabnya dengan senang.


"ok, lima hari lagi kamu pindahkan dia ketempat asalnya hihihi"


"wah kau menakutkan bos kapan aku akan menetap disana lagi bos"


"urus dulu perkerjaanmu dengan baik" kata Karin dengan suara datar lalu menutupnya secara sepihak.


Erick yang merasa Karin terlalu lama dikamar mandi sekaligus tak tahan karena panggilan alamnya menggedor pintu dengan kencang.

__ADS_1


"Chibi kau mandi lama banget ini sudah satu jam buruan gatel-gatel nih badanku" Erick menggedor pintu kamar mandi.


"bentar masih berendam nih" sahut Karin dari dalam.


"masya allah Chibi dari tadi berendam dibhatup gak kelar-kelar buruan cepetan sudah gak tahan nih lima detik harus keluar kudobrak nih kalo sampai gak keluar" ancam Erick.


"tumben pake ancem segala kaya e baru sebentar aku masuk kamar mandi" gerutu Karin sambil merapikan pakaiannya lalu berjalan keluar.


Karin keluar kamar dengan cemberut melotot kearah Erick.


"ganggu orang saja padahal baru masuk sengaja kamu ya" teriak Karin ditelinga Erick membuatnya segera menutup telinga.


"hei lihat tuh jam didinding bisa lihat kan bisa lihat kan jam berapa?" sahut Erick menunjuk jam didinding dengan bibir juga mata yang sudah berubah segitiga.


"madus banget sih" Karin berjalan sambil cemberut kemeja rias, setelah selesai mengeringkan rambut juga merapikannya dia berjalan kearah balkon berdiri menghadap lampu kerlap kerlip berada didepannya.


"aku jadi kangen sama kamu Yoko" gumam Karin tersenyum kecil.


"seandainya kau masih hidup pasti semua akan berbeda aku sudah menepati janjiku padamu tapi kau tidak menepati janjimu padaku" kata Karin lirih dengan pandangan lurus kedepan.


"aku sudah mengembangkan usaha kita hingga namanya dikenal keseluruh dunia mewujudkan impianmu sekaligus impianku sendiri tidakkah kau tahu kalo itu sangat sulit, sulit sekali Yoko jatuh bangkit lagi begitu seterusnya hingga sampai sekarang" lanjutnya lagi tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipinya.


"dulu aku sering berkata juga akan melihatmu menikah dengan orang yang kau cintai hiks hiks" air mata Karin terus mengalir tak bisa ditahan lagi.


****


🍁🍁🍁🍁🍁


terima kasih sudah membaca jangan lupa likenya biar tambah semangat nulisnya😘😘😘 aku usahakan apdate tiap hari😍😍 ready you all.

__ADS_1


__ADS_2