
Dua puluh dua tahun yang lalu disebuah keluarga dikota Surabaya.
"mama kapan papa akan pulang?" tanya seorang anak cewek berusia lima tahun sambil berlari kearah mamanya.
"sebentar lagi juga pulang sayang" ucap simama sembari mengelus kepala anaknya dengan sayang.
"mama selalu bilang begitu Vivi bosen dengernya" kata anak kecil bernama Vivi merajuk. simama hanya tersenyum saja lalu mengangkat Vivi kepangkuannya.
"ma nanti kalo papa sudah datang jangan kasih kerja jauh lagi ya ma"
"iya nak nanti mama bilangin sama papa ya"
"umm ma apa Vivi nanti punya adik? Temen-temen Vivi semua punya adik ma, Vivi mau punya adik buat main bareng gak main sendiri lagi" mendengar penuturan anaknya seperti itu simama hanya diam saja memaksakan senyumnya.
Sang mama mengajak anaknya kekebun bunga bercengkerama disana, cukup lama mereka berdua disana hingga sang pelayan datang memberi tahukan kepulangan sisuami.
"bu, bapak sudah pulang tapi.." ucap sipelayan itu dalam keadaan bingung.
"oh sudah pulang ya, kenapa kamu bingung begitu bi?" tanya si majikan.
"a, anu bapak sudah pulang tapi bu..."
"tapi kenapa ngomong yang jelas"
"bapak, bapak bawa bayi bu"
"HAH! APA!! Bibi bilang apa barusan, bawa bayi!!" sontak simajikan terkejut lalu berjalan keruang tamu menemui suaminya yang baru pulang dari dinas.
__ADS_1
Vivi yang mendengar papanya pulang langsung berlari menyusul mamanya menemui sang papa.
Diruang tamu sang suami sudah duduk disofa menunggu istrinya datang, dia menggendong seorang bayi merah yang baru saja dilahirkan dua hari yang lalu. Begitu mendengar langkah setengah berlari dari sang istri dia langsung berdiri menghadap seseorang wanita yang sudah menjadi istrinya.
Sang istri begitu terkejut sekaligus terpungkul karena suaminya pulang dari dinas membawa bayi yang baru saja lahir. Matanya tak berkedip sama sekali bibirnya bergetar serasa kaku untuk berucap. sedangkan sisuami bingung menjelaskannya dari mana, apa istrinya mau menerima penjelasan darinya! Apakah istrinya mau merawat bayi ini sampai waktunya tiba? Hanya itu yang ada difikirannya.
"papa pulang!!" teriak Vivi yang berlari memeluk kaki papanya. Sang papa hanya diam tak membalas teriakan anaknya.
"papa bawa dedek bayi Vivi suka, sini pa Vivi lihat wajah dedeknya" teriak Vivi lagi tapi sang papa tetap diam.
"ma, tolong dengarkan dulu ya ma" sang papa mulai membuka suara.
"tidak ada yang perlu didengarkan, Vivi kamu kesini nak" kata siistri.
"tidak mau ma Vivi kangen sama papa, papa juga bawa adik bayi ma Vivi suka"
"kalo papa bilang dia bukan anak papa apa mama mau mendengar penjelasan papa"
"jadi kamu mau bilang kalo dia bukan anak kamu dan kamu ingin menolongnya begitu kan pa. Ceritamu basi pa kamu ingin menyembunyikan dia anak kamu dari wanita lain"
"tapi ma aku hanya menolong anak ini saja biarkan dia disini sementara ma cuma sebentar saja"
"aku tidak mau, kalo memang benar dia bukan anak kamu kenapa kamu tidak membawanya kepanti asuhan saja, disana lebik cocok untuk anak haram seperti dia"
"dia bukan anak haram ma, tega kamu bilang begitu"
"dimataku dia anak haram hasil selingkuhanmu, kalo anak itu tetap disini kami berdua yang akan keluar, kamu tinggal pilih pa keluargamu atau anak haram itu" setelah bicara seperti itu sang mama berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"pa, apa papa akan membawa dedek bayi pergi pa"
"tidak nak papa cuma membawanya ketempat yang aman saja supaya mama tidak marah lagi" ucap sipapa sambil tersenyum.
"panti asuhan ya pa seperti mama bilang tadi, panti asuhan itu seperti apa pa? Apa Vivi bisa ketemu sama dedek bayi pa?" kata Vivi dengan polosnya khas anak kecil.
"nanti Vivi akan tahu sendiri, Vivi bisa ketemu sama dedek bayi tapi jangan beri tahu mama ya nanti mama bisa marah, nanti papa ajak ketemu sama dedek diam-diam saja, Vivi suka kan sama dedek bayi"
"iya pa Vivi suka sama dedek Vivi pengen sekali punya adik kaya temen-temen pa"
"anak pinter papa pergi dulu ya Vivi pergi kekamar mama temeni mama"
"iya pa, tapi Vivi mau lihat wajah dedek pa"
Sang papa berjongkok didepan anaknya dan memperlihatkan wajah bayi itu pada Vivi, Vivi begitu senang melihatnya tak henti-hentinya dia ketawa sambil menciumi pipi sibayi.
"seandainya mamamu mau mendengar penjelasan dari papa nak pasti kamu bisa bersama dengan anak ini walau cuma sementara" batin sang papa dengan sedih.
Dengan berat hati sang papa menuruti keinginan istrinya pergi kesebuah panti asuhan, disana dia mewanti-wanti pada pengurus panti jika tidak ada yang boleh mengadopsi bayi itu siapapun orangnya, karena keluarga sibayi akan datang mengambilnya sendiri nanti.
Sesuai yang dikatakan sang papa, dia bersama anaknya selalu mengunjungi panti asuhan itu tiga hari sekali, kadang setiap hari kalo tidak sibuk, Vivi yang menginginkan sosok adik begitu senang bahkan dirinya begitu betah disana apalagi disana banyak anak seumuran yang langsung akrab dengannya.
Walau bayi itu sudah berada dipanti asuhan tapi keluarga itu masih saja bertengkar, sang istri selalu menuduh suaminya berselingkuh sejak dia membawa bayi itu pulang. Walau begitu dia selalu mengalah dan menerima kemarahan istrinya bahkan sampai mengundurkan diri dari perkerjaannya dan memilih membuka restouran dikotanya supaya istrinya lega.
Hingga suatu hari sibayi sudah dibawa pihak keluarga, sang papa merasa lega tapi bukan untuk Vivi yang selalu menangis dan memandangi foto dirinya bersama bayi itu waktu dipanti.
*****
__ADS_1