
Karin masih duduk pada tempatnya tidak ada kegiatan lain selain membersihkan buku kecil yang dia temukan, dia begitu tidak sabar ingin membacanya sampai selesai.
Sesekali dia melihat keluar cendela menikmati pemandangan diluar sana juga menghela nafas panjang.
"benarkah mereka berdua keluargaku sebenarnya?" gumamnya bertanya dalam hati.
Erick datang membawa beberapa masakan yang masih panas. Dia berusaha membuat sesuatu agar tidak jenuh diapartemen.
"Bi cobain nih masakanku" katanya sambil membawa napan berisi beberapa masakan yang dia masak sendiri.
"ini beneran kamu yang buat, tampangnya begitu menggoda Erchan" balas Karin saat melihat makanan didepannya.
"aku tadi browsing di internet dan mencobanya cobain nih kurang apaan"
Karin mengambil sendok lalu mencicipi hasil mahakarya.
"asiiiin, air air minta air" teriaknya.
Dengan cepat Erick berlari mengambil air didapur dan memberikannya sama Karin.
"kamu gak apa Bi? Minum dulu" kata Erick sambil menyodorkan segelas air putih.
"gila kamu Erchan uasin banget, luar menggoda dalamnya beracun" cerocos Karin.
"masa padahal sesuai resep ko" jawab Erick membela diri.
Karin mencoba lagi yang satunya. "anyep, kemanisan, pedes, Erchan apa kamu ingin membunuhku hah" jengkel Karin.
"sudah biar aku saja yang masak kamu tunggu saja disini" lanjutnya sambil membereskan makanan yang dimasak Erick barusan.
Erick tak mau tinggal diam dia mengikuti Karin kedapur dan membantunya memasak kembali makanan barusan.
Dengan cekatan dia memasak kembali makanan yang tidak karuan itu, Erick hanya tersenyum kecil melihat wanitanya memasak dengan cekatan bagaikan koki profesional, lalu dia berjalan mendekat dan memeluk pinggang Karin dari belakang.
"calon istriku bener-bener pintar segalanya" katanya menggoda ditelinga Karin lalu turun mengecup lehernya.
"jangan menggoda Erchan gali tahu gak"
Erick membalikan badan Karin agar berhadapan dengannya tanpa ragu dia mengecup bibirnya dan bermain disana, mendapat serangan seperti itu Karin tak bisa berkutik dia membalas apa yang diberikan sama kekasihnya.
"sudah Erchan badanmu mulai panas" kata Karin dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
"iya, baiklah aku berhenti" balas Erick sambil mengelap bibir Karin yang basah dan sedikit bengkak.
Lalu hidung mereka mencium bau hangus yang timbul dari makanan yang dimasak kembali.
"semua ini gara-gara kamu masakanku jadi gosong" jengkel Karin memperlihatkan masakannya yang gosong.
"masak kembali bahannya masih banyak dikulkas"
"males kamu saja yang masak sana"
"kalo gitu jangan salahkan aku kalo gak enak kaya tadi"
"kamu saja yang makan aku sih ogah" Karin berjalan kembali menuju tempat semula dimana ada buku diary kecil miliknya.
Dia berniat membacanya untuk kali ini dan tidak mau ada yang mengganggu. Erick berjalan masuk keruangan tempat Karin berada sambil membawa makanan barusan.
"kamu masih berurusan sama buku itu lagi" tanyanya dengan mulut yang penuh makanan.
"aku penasaran dengan buku ini aku yakin ada hubungannya sama file yang ada dikomputer itu" jawab Karin menjelaskan.
"seorang dokter yang menyandang gelar profesor berteman akrab dengan pasiennya, sedangkan yang dilakukan dokter itu hanya meneliti pembuahan bayi diluar rahim tidak ada lagi selain itu"
"kenapa ya setiap cewek selalu melakukan hal-hal yang tak berguna begitu" lanjutnya lagi sambil melihat keatas seolah berfikir.
"bagi kaum hawa hal yang tak berguna justru sangat berguna bagi mereka Erchan contohnya seperti apa yang aku temukan ini"
"begitu"
"mmm"
Karin mulai membuka lembaran buku yang sudah dibersihkan itu dan membacanya mencoba mengerti apa yang ada didalamnya.
"akibat mengonsumsi obat-obatan setiap hari beberapa organ tubuhku bermasalah salah satunya rahimku, aku difonis tidak bisa punya anak selamanya dan aku tidak mau itu, bagi seorang wanita dia sudah tidak sempurna lagi jika tidak bisa melahirkan keturunannya"
Karin terjenggang membacanya matanya tak berkedip dan mulutnya diam membisu.
"tidak bisa punya anak selamanya!!" batinnya dengan tatapan yang masih tertuju pada tulisan dibuku diary itu. Dia membuka dan membaca kembali tulisan yang tertoreh dikertas yang sudah kumuh itu.
"kucurahkan semua isi hatiku sama temanku. Apa yang kuinginkan dan dia mau membantuku mewujudkannya dan aku sangat amat senang mendengarnya"
"mewujudkan keinginannya apa ini soal anak" gumamnya lagi dalam hati lalu dia melirik Erick yang berada didepannya karena tidak bersuara sama sekali. Yang dilirik ternyata sudah tertidur pulas mimpi indah kemana-mana membuat Karin memandang sebal kearahnya.
__ADS_1
Dia bangkit dari duduknya menuju lemari mengambil selimut disana guna menyelimuti badan Erick, Karin menutup buku diary itu dia lalu berjalan menuju cendela dia naik kecendela dan meloncat keatas menuju keatap.
Kini dia duduk diatap apartemennya seorang diri memandang hamparan Bimasakti yang begitu luas berbaring dengan santai berbantalan kedua tangannya yang dilipat.
"sendirian sayang dimana Han?" Terdengar suara seorang pria mengusik ketenangannya namun Karin tak berkutik sama sekali karena dia tahu siapa pria itu. Seorang pria berparas Jepang murni itu berdiri tidak jauh dari Karin berbaring.
"kau mengganggu ketenanganku, apa yang membawamu menemuiku?" tanya Karin tanpa melihat kearah suara itu.
"tidak ada aku cuma ingin menemanimu saja" jawab pria itu sambil berjalan mendekat dan duduk disamping Karin.
"benarkah! Apa perlu diputar dulu lidahmu itu?"
"hahaha kukira ketajaman lidahmu itu sudah berkurang ternyata masih sama seperti dulu"
"kudengar kamu mengirim Aska sama Momo ketimur tengah" tanyanya.
"aku sudah cukup mengalah sama mereka, memang tidak boleh aku membalas apa yang mereka lakukan" jawab Karin acuh.
"jangan terlalu gegabah mengambil tindakan bisa saja itu menjadi bumerang untukmu sendiri" tutur pria itu menasehati.
"Mateo sangat berpengaruh dalam dunia bawah jika kamu menghentikan itu bisa dipastikan dia akan mengincar dirimu, apalagi mereka meneliti sekaligus mengembangkan berbagai obat" lanjutnya.
"kau tahu banyak tentang dia ya"
"itu karena aku pernah disana sebelum bertemu denganmu"
"jangan kawatir Aska pasti bisa mengatasinya, terima kasih sudah mengawatirkanku"
"itu karena kamu aset berharga MIG"
"dasar bodoh yang berharga itu justru kalian semua tanpa kalian MIG tak akan bisa sampai seperti ini, MIG berjaya semua itu berkat kalian"
"tetap saja tanpa dirimu MIG tidak akan pernah berjalan"
"kau terlalu menyanjung bodoh" Karin berkata sambil tertawa walau tidak melihat kearah pria itu, diatas atap mereka berdua mengobrol santai sambil tertawa kecil mengingat masa-masa dulu saat masih sulit membangun perusahaan MIG yang berpusat diJepang itu.
Karin yang menjadi pemimpin sekaligus pendirinya harus bisa mengontrol juga mengatur berbagai strategi tempur dan menempatkan bidak caturnya dengan tepat agar tidak terambil lawan, terutama dalam mengatur anak buahnya sendiri agar tetap berkerja sama dengan baik tanpa menimbulkan perkelahian antar sesama mengesampingkan kehidupannya sendiri.
*****
Dukung author dengan memberikan like & komen🥰😘
__ADS_1