
Terkisahkan sibabang preman yang terseret kedalam penjara bawah tanah dan terkena bogem mentah oleh mereka yang bersamanya.
Dia menangis menggeru-geru, sujud syukur, cium kaki dan lain sebagainya demi bisa menelfon Johan, karena hpnya langsung disimpan dengan rapi oleh pengawal Karin, hingga pada akhirnya kesampaian juga setelah dia bilang kalo dirinya berkerja untuk orang bernama Johan.
"nih telf kalo bohong kuremukan tulang-tulangmu" ucap seorang pengawal berbadan tinggi dengan muka yang menyeramkan.
"te te te terima kasih tuan yang baik" balas sipreman memaksakan menarik bibirnya walau badan gemetaran juga air mata yang belum mengering.
"spikeeer!!"
"ba baik"
Johan menuruti keinginan Ersya untuk berobat jalan karena dia sendiri tidak suka berada dirumah sakit, Johan membeli sebuah apartemen yang satu arah kehotel juga toko butik tempat Ersya berkerja atas nama Ersya sendiri tentunya.
Didalam apartemen baru itu Johan menjelaskan sesuai apa yang diinginkan Karin mengapa dia harus memasukan orang-orang itu kedalam penjara bawah tanah.
"jika mereka cuma pemakai biasa tidak mungkin ada senjata api ditangan mereka" batin Karin.
"sepertinya ini akan menjadi rumit karena dalang dibalik ini akan muncul tiba-tiba" sahut Erick yang menyimak.
"Sepertinya! Apalagi ada pendukung dari kantor polisi itu akan semakin mudah bagi mereka untuk mengedarkan barang haram itu"
Ditengah perbincangan itu hp Johan berdering dengan nada yang sedang.
🎶Can I call you baby?
Can you be my friend?
Can you be my lover up until the very end?🎶
"wow tumben pake nada dering Jo?" tanya Karin terkejut.
"Ersya yang melakukannya!" jawab Johan. Setelah melihat siapa yang menelfon Johan mengangkat ditempat itu juga tanpa berpindah bahkan dispiker.
"booos tolong aku hiks hiks" kata orang diseberang sambil menangis.
"saya dibawa beberapa orang berjas, tinggi kekar kaya bos lalu dimasukan kepejara bos dan sepertinya bukan kantor polisi" lanjutnya.
"ko bisa!!" lalu Johan menoleh kearah Karin.
"bisa kau jelaskan siapa dia?" tanya Karin yang mengerti isarat mata Johan.
__ADS_1
"tukang parkir yang aku bayar untuk mengawasi Ersya"
"gitu, terserah kau saja" mendengar perkataan itu Johan mengangguk.
"keluarkan dia sekarang juga aku masih membutuhkannya" ucap Johan yang sepertinya tahu jika telfnya dispiker.
"siaaap tuan Han" ucap pengawal itu.
Tanpa banyak bicara dia menutup kepala preman itu dan memasukannya keheli pribadi mengembalikannya ketempat semula saat itu juga.
"apa! Mas Jo mengawasiku selama ini!!" sahut Ersya dari belakang dengan muka kesalnya.
"wah didengar Ersya" batin Karin.
"pasti berantem!!" batin Erick.
"aku mengawasimu setelah dari caffe waktu itu Sya waktu kamu dikejar-kejar mereka" jelas Johan.
"bener gak bohong"
"ngapain aku bohong"
"aku gak suka ya diawasi kaya pasangan selingkuh saja huh" Ersya bicara dengan nada sebel.
"beneran" kata Ersya masih tidak percaya.
"iyaaa" balas Johan pendek.
Sedangkan Erick dan Karin sibuk sendiri sama hp mereka masing-masing dengan wajah geram dan serius karena game.
"aku ingin intropeksi dia Jo biasanya tukang parkir banyak banget informasinya" ucap Karin yang serius bersama gamenya.
"bukan intropeksi tapi introgasi Chibi" sahut Erick yang fokus juga sama hpnya.
"oh gitu, Erchan kita bikin game sendiri ya bosen nih main gini mulu kita buat yang lebih fantastik gitu"
"terserah kau saja, kita selesaikan dulu nih satu ronde lagi aku pasti dapat 2 M"
"ok, akan kuambil uangmu kalo gitu pencuri tak kalah hebat sama polisi hahaha"
"oe oe oe songong sekali"
__ADS_1
Kini giliran Johan dan Ersya yang jadi pendengar setia lalu mereka berdua pergi kedapur menyiapkan makan siang, karena tangan Ersya masih nyeri dia cuma membantu ala kadarnya saja.
"hhmm wangi enak enan" ucap Karin yang menghirup aroma wangi diatas meja makan.
"kalian berdua ayo makan dulu" ucap Ersya mempersilakan"
"ini semua masakanmu Sya?" tanya Erick.
"bukan tapi mas Jo yang masak"
Tanpa aba-aba Karin langsung berdoa dan melahap makanannya dengan lahap membuat semuanya melongo.
"masakan Johan emang enyak"
"masa coba incip dikit" Erick mengambil makanan dipiring Karin lalu memakannya dengan tenang dua orang didepannya saling memandang.
"ko mereka berdua seperti pasangan kekasih ya" batin Ersya. Johan hanya terdiam walau terkejut tapi dia tak berani bersuara.
Disuatu tempat seorang wanita berbadan sexsi menggebrak meja mengeluarkan nada tingi, dia murka karena beberapa orangnya hilang tanpa jejak.
"aku tidak mau tahu kalian harus menyelidikinya dengan teliti cepaaaaat" teriaknya menggema diseluruh ruangan.
"siaaap nona segera saya laksanakan" jawab seorang pria berjas rapi.
"kebanyakan ngomong" mendengar teriakan itu pria tadi langsung berlari keluar.
"tenangkan dirimu sayang kita masih punya yang lain" seorang pria blesteran tampan menghampiri sambil memeluknya dari belakang.
"kamu benar tapi entah kenapa hilangnya mereka semua membuatku penasaran membuatku tak bisa tenang"
"terserah kamu saja sayang, lagipula stok kita masih cukup banyak bisa rugi nanti cup" ucap pria itu sembari mencium lehernya.
Tak berapa lama datang kembali pria berjas hitam tadi sambil membawa sebuah map ditanganya.
"menurut laporan mereka punya masalah sama seorang wanita bernama Ersya nona"
"siapa Ersya?"
"dia pegawai toko butik nona, kekasihnya Johan seorang pengawal nona, semua datanya ada disini nona silakan dicek"
Wanita itu langsung meraih map yang sudah ditaruh diatas mejanya dan membukanya.
__ADS_1
"hanya seorang pengawal kita buat perhitungan dengannya cari tahu dia tinggal atau kerja dimana?"
*****