
Karin terkejut saat Erick kekasihnya kembali dengan Fani, walau hati sebenarnya sakit tapi dia harus berusaha bersikap biasa saja.
Dia melontarkan senyum seperti biasa walau hati seperti kerikil kala melihat Fani memeluk lengan Erick begitu mesranya.
"apa kabar Fan?" tanyanya.
"baik, kamu sudah lama disini?" tanyanya balik.
"sudah dari tadi"
"tadi kami bertemu dikoridor, Bi" sahut Erick berusaha menjelaskan.
"aku tahu, jadi gak perlu kawatir oh iya Fan mau makan lupis masih ada nih yang utuh" kata Karin beralih keFani.
"tidak terima kasih" tolaknya sambil tersenyum tanpa melepas lengan Erick.
Tring...
Hp Karin berbunyi segera dia mengambilnya disaku celana dan melihat siapa yang mengirim pesan.
"aku keluar dulu ya lanjutin ngobrolnya" katanya setelah membaca pesan yang masuk dan berjalan keluar.
Erick hanya diam memandang punggung Karin sampai dia menghilang dibalik pintu, terlihat ada yang ingin dia bicarakan namun tidak bisa.
"kenapa mas ko bengong terus? Kalo mas ada masalah segera diselesaikan ya jangan sampai ditunda nanti tambah panjang" ucap Fani dengan lembutnya.
"iya" balasnya pendek.
"sebenarnya aku bingung saja, entah kenapa aku merasa kikuk setelah kejadian tadi" batin Erick.
Lalu dia melepas pelukan Fani dan berjalan menuju bundanya dalam diam mendaratkan bokongnya dikursi yang berada disamping ranjang bunda.
__ADS_1
Dia menggenggam tangan bunda dan menempelkannya dipipi. "bunda cepatlah bangun, apa bunda gak kangen marah-marah sama aku, bunda putra ingin sekali bercerita panjang lebar sama bunda" katanya dengan sedih.
Fani yang berada disamping hanya mengusap pundak Erick saja tanpa bersuara seolah menyuruhnya untuk tetap bersabar.
Ucapan Erick disamping bunda merambat masuk melalui udara menerobos gendang telinga dan diteruskan ke otak dengan cepat direspon oleh keinginan. Berlahan dan pasti tangan sang bunda yang menempel dipipi Erick bergerak membuatnya terkejut juga tersenyum tak percaya, segera dia berdiri dan berlari memanggil dokter tuk melakukan pemeriksaan lebih detail.
Diluar rumah sakit Karin yang menerima pesan dari seseorang segera menelfonnya sambil berjalan menuju mobil yang berada ditempat parkir.
"ada apa? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku inginkan?" katanya tegas juga datar.
"sudah bos tapi apa anda yakin ingin mengetahuinya" balas orang diseberang yang ternyata anak buahnya sendiri.
Diam-diam Karin menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki masalah di Paris. Dimana salah satu keluarga Mateo mati disana dia tidak bisa membalas para musuhnya begitu saja tanpa mengetahui penyebabnya, dan tanpa dia sadari masalah itu berhubungan dengan ingatannya yang hilang dan hanya tangan kanannya yang tahu.
"kalo aku tidak ingin mengetahuinya aku tidak akan mengirim dirimu untuk menyelidikinya bodoh" umpatnya kesal sama anak buah sendiri.
"baiklah maafkan saya bos, bukalah laptop anda aku akan mengirim data-datanya sekaligus video yang berhasil aku ambil dari kamera CCTV yang dipasang disalah satu jalanan disana" katanya.
Karin yang duduk di bangku belakang segera mengambil laptopnya dan menyalakannya. Dalam hitungan detik semua data-data sekaligus file video sudah masuk disana segera dia melihatnya.
Disana tertulis keluarga Mateo adalah salah satu pengusaha terkaya ditimur tengah. Tapi sebagian besar kekayaannya itu dihasilkan dari bisnis gelapnya yang menjual wanita dan organ tubuh manusia, Mateo memiliki satu anak cewek dan dua anak cowok dan mereka semua sudah diberi kedudukan masing-masing.
Salah satu anak cowoknya pernah ditugaskan keParis untuk memperluas usahanya tapi dihancurkan sama Fay yang berkuasa disana, karena ketahuan menyelundupkan beberapa organ tubuh manusia secara rahasia dibeberapa rumah sakit dan diekspor keluar negri.
Anak itu tetap bertahan disana hingga suatu hari dia mati secara sadis ditangan seorang bocah berusia 17 tahun. Fay yang mengetahuinya segera menyuruh anak buahnya untuk menangkap bocah itu dan dibawanya kekediaman pribadinya. batin Karin.
"bocah 17 tahun, siapa?!! jadi penasaran!!" gumamnya sambil terus membaca setiap data tentang keluarga Mateo. matanya langsung mendelik tak percaya begitu melihat ada namanya disana.
Tertulis begitu jelas bahwa salah satu anak cowok Mateo dibunuh secara sadis ditangan Karin Arandita Sanjaya seorang bocah yang sedang menempuh pendidikan disalah satu universitas ternama di London dan sedang liburan keParis.
"heeh aku yang membunuhnya kenapa aku bisa gak ingat sama sekali" katanya tak percaya.
__ADS_1
"hei kau masih mendengarku kan, jelaskan secara detail" teriak Karin sama anak buahnya.
"baik bos, Setelah kembali keLondon anda mencoba alat hasil penemuan seorang profesor, sebuah alat yang bisa menghilangkan ingatan seseorang yang dikehendaki saja" tuturnya.
"lalu video ini apa?" Karin berkata sambil menggerakkan mouse kearah video yang sudah terkirim.
"buka saja bos, saya gak berani cerita sudah ya bos" setelah berkata seperti itu dia langsung menutup telfonnya tanpa menunggu persetujuan dari bosnya.
Karin hanya diam dia lalu mengklik videonya dan mulai berputar.
Didalam video yang ditonton itu dia sedang berjalan bersama teman ceweknya yang seumuran dengan dirinya, terlihat Karin dalam keadaan mabuk sedang dipapah sama temennya berjalan melewati sebuah gang.
Ditengah jalan mereka berdua bertemu dengan seorang pria timur tengah dan beberapa orang teman cowoknya. Didalam video itu mereka berdua sedang digoda sama pria timur tengah berserta temannya, teman Karin yang tak lain adalah Yoko berusaha untuk menghindar dan melawan sedangkan Karin sendiri teler akibat minuman berakohol.
Singkat cerita Karin dan Yoko dibawa secara paksa kesebuah gang buntu dan disana tindak asusila terjadi. Yoko yang histeris dan berteriak memanggil nama Karin mencoba menyadarkannya, Tapi Karin tak bergeming dia terus yerocos khas orang mabuk hingga badannya setengah telanjang akibat ulah mereka.
Yoko kembali berteriak, kali ini Karin tersadar juga karena tanpa sadar Yoko berteriak aneh membuat semua orang melongo tak melanjutkan aktifitasnya.
"maling, maling maling paha ayam, paha ayam dibawa kabur" teriaknya berulang kali. Walau terlihat konyol Yoko berharap teriakannya bisa membuat Karin sadar.
Karin langsung sadar seketika lalu mengucek matanya. "paha ayam, mana paha ayamnya" katanya bergumam khas orang setengah sadar.
Yoko sengaja berteriak demikian karena ayam goreng makanan kesukaannya terutama paha ayamnya, Yoko sering menggodanya waktu tidur pulas membuatnya berjalan sendiri mengikuti gorengan ayam yang sengaja didekatkan diwajahnya dan berjalan mengitari meja makan.
Salah satu dari mereka memegang pundak Karin dan berkata dengan menyeringai.
"apa kau suka paha ayam jangan kawatir sebentar lagi kau akan menikmatinya sampai puas hahaha" katanya. Karin hanya diam dia berusaha mencerna apa yang mereka bicarakan lalu melirik kearah Yoko temannya.
Dia menyatukan kedua alisnya kala melihat Yoko yang berantakan dan matanya yang sembab karena terlalu lama menangis, dan dia sadar situasi yang mereka hadapi saat ini.
Bruk...
__ADS_1
*****
Jangan like dan komen 😘🥰