THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
MENGHINDARIMU


__ADS_3

"Rick ada apa denganmu dari tadi hanya ngelamun mulu" tanya Evan membuatnya tersentak dari lamunan.


"gak ada apa-apa tuan" jawab Erick.


"baiklah ayo kita berangkat sudah telat nih"


Mereka berdua lalu keluar kantor bertemu dengan seorang klien disebuah caffe, Erick masih bingung dengan perasaannya dia berusaha menghindari Karin tapi hati tidak bisa dibohongi semakin dia menghindar maka perasaan itu semakin tumbuh dengan kuat.


Dicaffe yang didatangi Erick juga Evan ternyata disana juga ada Karin yang juga bertemu dengan kliennya soal cabang baru pembukaan sebuah hotel, Erick memandang Karin yang tampak santai tapi fokus pada perkerjaan tidak menyadari kedatangannya.


Cukup lama Erick menatap wajah Karin teringat saat dia menciumnya malam itu.


"kau tidak apa-apa" ucap Evan menyentuh pundak Erick.


"oh iya mari silakan tuan" balas Erick.


Klien yang mereka ajak ketemu ternyata masih belum datang, Erick memilih duduk membelakangi Karin terdengar tawa canda darinya bersama sang klien.


"baiklah tuan Karin silakan anda lihat lokasinya sendiri saya yakin anda pasti suka dengan tempatnya"


"terima kasih tuan jika tempatnya setrategis caffenya juga sekalian didirikan"


"terima kasih tuan saya mohon undur diri dulu"


"oh buru-buru sekali tuan apa tidak makan dulu sekalian"


"terima kasih tuan saya masih ada urusan lain" ucap klien itu lalu berjalan keluar.


Lalu Karin segera memesan makanan karena perutnya segera minta diisi, nampak wajahnya tidak begitu bersemangat.


"ada apa?" tanya Johan yang menyadari.


"gak ada apa-apa!" jawabnya sambil mengaduk minuman.


"oh iya soal masalah caffe aku ingin memasukan makanan yang waktu itu gimana" ucap Karin mengalihkan pembicaraan, sebenarnya Karin tahu kalo Erick belakangan ini menghindari dia sejak kejadian malam itu.


"jangan memasukan makanan yang bukan khas dari tempat itu sendiri" jawab Johan.

__ADS_1


"hais padahal cuma buat cuci mulut saja ternyata gak menarik"


Karin mengarahkan pandangannya keluar cendela fikirannya penuh dengan Erick yang menghindarinya, dia menyalahkan diri sendiri dan ingin meminta maaf padanya.


Diseberang jalan terlihat seorang gadis sedang berlari dikejar beberapa pria dan Karin sudah mengenal gadis itu.


"nnggg itu kaya Ersya ya" kata Karin melihat dengan seksama kearah gadis yang dikejar-kejar.


"mana?" kata Johan, pandangan matanya terus mencari sosok Ersya seperti yang dikatakan Karin.


Cukup lama bola matanya berputar kesegala arah dia langsung terpaku pada sosok gadis yang sudah dikenalnya, gadis itu ngos-ngosan habis berlari diseberang jalan, tangannya mengepal dengan erat seakan ingin menonjok saat tahu ada beberapa pria mengejarnya.


"dia dikejar-kejar beberapa pria bantu dia Jo" kata Karin. Melihat amarah Johan sudah keluar.


"ok, kamu gak apakan ditinggal sendiri"


"jangan kawatir!"


Johan langsung berlari keluar tanpa banyak bicara lagi.


"selamat siang tuan Evan maaf saya datang terlambat" ucap salah seorang klien yang baru datang.


"tuan Evan berarti Erchan juga ada" batin Karin tapi tidak menoleh kebelakang.


"baiklah tuan ini data yang anda butuhkan silakan dilihat dulu" Erick menunjukan berkas-berkas yang dibutuhkan pada kliennya.


Karin tidak mempedulikannya dia makan dengan santai dimejanya seorang diri.


Sementara ditempat lain Ersya masih berlari mencari tempat persembunyian yang aman dari para preman itu. Dia terus berlari hingga menuju sebuah gang buntu yang dikira adalah jalan.


"ah sial jalan buntu aku harus gimana ini" kata Ersya dengan paniknya.


"ayo fikir Ersya fikir" lanjutnya sambil memutar bola matanya mencari sesuatu yang bisa buat sembunyi.


Beberapa kaki yang berlari terus mendekat membuatnya semakin bingung.


"kemana dia pergi?" katanya dengan geram.

__ADS_1


"lihat saja nanti kalo ketangkep" sahut yang lain.


"ayo kita cari ditempat lain saja"


Mendengar hal itu Ersya merasa lega tapi dia masih belum mau untuk keluar karena takut jika mereka masih disana.


"sepertinya sudah aman" batin Ersya lalu berlahan berjalan kejalan.


"akhirnya keluar juga" suara si A dari preman itu mengejutkan Ersya.


Dengan paniknya dia mengarahkan pandangannya kebelakang lalu hendak berlari.


"mau kemana kau jangan buru-buru dulu"


"ya mau pergi mang mau kemana lagi" spontan Ersya mengambil pasir dan dilemparkan kearah mereka mencari celah supaya bisa kabur.


Ersya berlari lagi tapi dia dibekap dari belakang dan dibawa dibalik mobil yang terparkir.


"hhhppp nnggg ukh" dia meronta mencoba lepas dari tangan yang membekapnya.


"lepaskan aku itu semua salahmu sendiri dasar tukang palak" teriak Ersya yang berhasil melepas bekapan tangan pria itu, dan terkejut saat menoleh kebelakang melihat siapa pria itu.


"MAS JO!!" katanya pendek saat tahu orang yang berdiri adalah orang yang dikenalnya.


"hai, aku lihat kamu sedang dikejar-kejar"


"trima kasih sebelumnya, mereka itu tukang palak aku terpaksa merekam perbuatan mereka dan melaporkannya kepolisi" ucap Ersya dengan menggebu.


Tiba-tiba Johan mendekat sampai tubuh Ersya menyentuh badan mobil tidak bisa mundur lagi.


"tu, tunggu mas Jo mau ngapain" katanya dengan nada keatukan.


Johan menempelkan jari telunjuknya kebibir memberi tanda supaya diam.


"ta, tapi mas Jo" Ersya masih takut. Badan Johan terus mendekat karah Ersya.


"hei itu dia ceweknya" teriak preman itu menunjuk kearah Johan juga Ersya.

__ADS_1


*****


__ADS_2