
Pagi menjelang siang Ersya berlahan membuka matanya dia terkejut saat Johan tertidur lelap disampingnya sambil memeluk dirinya, dia mengedarkan matanya keseluruh ruangan sebuah kamar yang terbilang mewah bagi kau bawah dan terbilang sederhana bagi kaum atas menurut Ersya.
Berlahan dia memindahkan tangan Johan kekasihnya supaya tidak bangun, lalu dia beranjak bangun hendak kekamar mandi memenuhi panggilan alam dan membersihkan diri.
"mas Jo" panggilnya berkali-kali setelah dia keluar dari kamar mandi dan duduk disamping Johan.
"ng... ada apa Sya? Masih ngantuk Sya" balasnya tanpa membuka mata.
"ini dimana? Apa ini rumah mas Jo!" tanyanya.
Johan berpindah posisi jadi berbaring lalu dia meraih tubuh Ersya membuatnya melekat diatas dadanya tanpa melepas kedua tangan yang berada dipinggang Ersya.
"kamu berada dikediaman rumah baby Sya, dan ini bagian belakang rumah lebih tepatnya rumah belakang khusus untuk para pelayan" Johan berkata dalam keadaan setengah sadar.
"kalo begitu rumah utama besar dan luas dong, boleh jalan-jalan keliling rumah" kata Ersya.
"boleh, hm aku menagih janjimu Sya"
"janji apaan perasaan aku gak pernah membuat janji sama siapapun mas"
Johan membuka sebelah matanya. "kamu lupa atau pura-pura lupa, sini kucium dulu biar ingat" katanya sambil mndekatkan wajahnya.
"jangan modus" kesal Ersya.
"siapa yang modus Sya, satu lagi aku punya kejutan untukmu kamu bisa mencarinya dirumah ini"
"kejutan apa?" tanya Ersya dengan penasaran.
"nanti kau akan tahu sendiri" jawab Johan dengan nada malas lalu dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Ersya sendiri pergi melihat-lihat rumah utama, sesampainya dirumah utama pandangannya terbuka lebar dan mulutnya menganga juga tak berkedip sama sekali.
"wow ini sih rumah bangsawan Eropa super mewah nan megah" gumamnya tanpa menghentikan pandangannya keseluruh ruangan.
"keatas ah" ucapnya lagi lalu berjalan menuju lantai dua, lagi-lagi dia menganga dibuatnya setelah tiba diatas, tiga kamar utama dan kamar tamu, ruang santai juga dapur plus kolam ikan berada disana.
__ADS_1
Ersya berjalan keruang santai menuju pintu kaca berukuran besar yang digeser cara membukanya, melihat pemandangan dibawahnya dari atas matanya terbelalak melihat hamparan berbagai bunga yang tertata rapi ditaman yang luas.
"dia mananam berbagai bunga berarti dia mengerti makna bunga juga dong, lalu kenapa waktu itu dia pura-pura bodo hm masa CAPER (cari perhatian) sama Erick" gerutunya dalam hati.
Lalu dia berjalan kelantai atas menuju lantai tiga, disana dibuat tempat latihan untuk Karin dan johan berbagai perlengkapan lengkap sudah ada disana. Dari mulai senjata yang kecil hingga yang tidak beredar dipasaran berada disana, bioskop, dan club plus kolam renang.
"rumah dengan fasilitas yang lengkap penghuninya cuma satu jarang pulang pula, untuk apa dia punya rumah dasar" gumamnya sambil melipat tangan didada.
Lalu dia berjalan turun sambil mengerutu kembali. "daripada begitu katanya mas Johan punya kejutan untukku dirumah ini, dimana kejutannya? Gak ada gitu" gerutunya dan didengar sama pak Aldo dan bi Ratna yang sudah menunggu dibawah.
"sudah selesai melihat-lihatnya Sya" kata pak Aldo.
"mas Johan membuatku keliling rumah katanya ada kejutan un... tuk... ku" Ersya menghentikan ucapannya begitu mendengar suara yang dia kenal dari bawah yang jelas bukan kekasihnya.
Begitu melihat dua orang yang berada dibawah dia nampak terpaku seolah tak percaya dengan apa yang ada didepannya, dua orang yang selama ini dia cari-cari berada tepat didepannya, dua orang yang berharga menggantikan posisi orang tuanya setelah tiada akibat kecelakaan.
"pa paman, bi bibi" ucapnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya bener-bener tak percaya dengan apa yang dilihatnya lalu dia berlari kearah keduanya hingga tanpa disadari air mata membasahi pipinya.
"kalian masih hidup, kalian sehat" katanya sambil memeluk keduannya.
"kami sehat nak, allah masih memberi kita umur panjang untuk bertemu denganmu" ucap bi Ratna sambil membelai punggung Ersya.
"ceritanya panjang Sya, ayo duduk dibelakang kita ngobrol dan berhentilah menangis" sahut pak Aldo.
Mereka bertiga duduk didapur melanjutkan obrolannya disana.
"bukannya paman dan bibi berkerja sama pak Toni ya lalu kenapa bisa berkerja sama Karin? Apa paman dan bibi baik-baik saja Karin memperlakukan kalian berdua dengan baik kan" kata Ersya mengintrogasi.
Mereka berdua hanya tertawa melihat keponakannya yang mengintrogasi keduanya.
"seperti yang kau lihat kami sangat baik, justru kami berdua sangat berterima kasih sama aden dia sudah menolong kami" kata bi Ratna. "justru kami yang mau bertanya bagaimana ceritanya kamu bisa bertunangan sama tuan Johan tangan kanan aden" lanjutnya balik bertanya.
"ceritanya juga panjang awal kami bertemu waktu dirumah sakit, aku mampir kekantin rumah sakit beli air mineral waktu datang keJakarta dan kebetulan saja waktu itu Karin sedang dirawat disana, jangan omongin itu lagi hari ini temani aku jalan-jalan keliling rumah Karin saja sambil ngobrol" jelas Ersya panjang lebar.
"aku gak bisa Sya kamu ditemani sama bibimu saja ya, kamu kan tahu sendiri posisi pamanmu ini" sahut pak Aldo.
__ADS_1
"ya aku tahu, senangnya yang sudah naik jabatan" kata Ersya.
"hus gini-gini tanggung jawab paman berat Sya"
"kenapa gak ditemani sama tunanganmu saja" kata bi Ratna menimpali.
"bener juga ya pasti mereka berdua sangat sibuk" batin Ersya melihat keduanya bergantian.
"ok, aku akan kekamar sekarang" Ersya lalu beranjak dari tempat duduk dan beranjak pergi.
"tunggu Sya selama ini kamu tinggal dimana?" tanya pak Aldo menghentikan langkah Ersya.
"aku tinggal diapartemen dijalan X, dan membuka toko butik sendiri" jawab Ersya sambil tersenyum.
Pak Aldo dan bi Ratna memandang Ersya keponakannya dengan senyum bahagia.
"semoga mereka berdua selalu bahagia ya pak" kata bi Ratna dengan pandangan tetap menatap Ersya berjalan menuju rumah belakang.
"iya bu amin" jawab Pak Aldo.
Sesampainya dikamar Ersya langsung memeluk Johan dari belakang dia tidak mempedulikan Johan yang masih telanjang dan cuma mengenakan handuk dipinggang saja karena habis mandi.
Badan kekar dan berotot sekaligus membentuk roti sobek Johan begitu jelas saat ini membuat para kaum hawa akan ngiler jika melihatnya.
"Sya" panggilnya lalu berbalik menghadap Ersya.
"kenapa mas Jo gak bilang kalo sudah ketemu sama bibi juga paman" kata Ersya.
"aku tahunya juga tadi malam Sya saat menggendongmu masuk rumah, mereka berdua langsung terperangah begitu melihatmu jadi aku tanya saja kenapa mereka seperti itu? Dan mereka menceritakan semuanya" jelas Johan.
Ersya melingkarkan kedua tangannya dileher Johan lalu mencium bibir tunangannya. "terima kasih" ucapnya tanpa melepas tautan bibirnya.
"aku bisa gak kuat Sya"
"halalin dulu baru boleh"
__ADS_1
"memang mau Sya" mendengar ucapan Johan Ersya hanya mengangguk mengiyakan. Johan begitu senang dengan jawaban yang Ersya berikan, setelah berpakaian mereka berdua menemui paman dan bibi tuk meminta restu keduanya.
*****