THE TWINS, SIAPA DIA??

THE TWINS, SIAPA DIA??
TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

"jangan pergi, temani aku sebentar saja!!" Ersya bicara tanpa membuka matanya Johan hanya diam memperhatikan.


Johan berjalan mendekat lalu dia berbaring disisi Ersya sambil memeluknya.


"jangan kawatir aku tak akan kemana-mana" ucapnya lalu mendaratkan kecupan didahinya dan berlahan tertidur.


Erick yang frustasi dan bingung juga kawatir karena telfnnya tak pernah diangkat oleh Karin kini dalam perjalanan menuju Jakarta rumah Karin, dia berharap kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun.


Felix yang melirik dari kaca spion diatasnya cuma berdecih tak suka melihatnya.


"cih kenapa baby harus suka sama cowok seperti ini sih" batinnya kesal.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang tanpa istirahat walau sebentar saja. Yang ada difikiran Erick hanya ada Karin dan Karin sampai bundannya yang terbaring lemah dirumah sakit dia lupakan.


Tepat dini hari sekitar jam 5 kurang mobil yang ditumpangin Erick dan Felix tiba dikediaman rumah Karin, begitu memamsuki pelantaran rumah dan berhenti tepat didepan pintu, segera Erick langsung keluar dan berlari masuk kedalam.


"apa Karin sudah pulang? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?" Erick langsung melontarkan pertanyaan begitu ketemu sama kepala pelayan rumah membuatnya bengong tak berkedip sama sekali.


"apa kau tidak bisa tenang hah" sahut Felix.


"jangan menyuruhku tenang disaat begini" balas Erick dengan nada marah.


Pak kepala pelayan menghela nafas sejenak lalu membuka suaranya.


"tenang dulu tuan, majikan kami sangat baik dan dia sedang beristirahat dikamarnya" kata kepala pelayan dengan tenang dan santai.


Mendengar hal itu Erick langsung berlari kekamar Karin dan membuka pintunya begitu saja. Sementara Felix yang kesal sedari tadi hanya mendesah kesal sambil menguap karena amat sangat mengantuk lalu dia berjalan menghampiri pak Aldo sikepala pelayan dirumah Karin.


"apa ada kamar kosong pak ngantuk banget yetir mulu semaleman huam" tanya Felix sambil menguap.


"ada den dirumah belakang, mari saya antar" jawab pak Aldo lalu berjalan menunjukan kamar kosong yang berada dirumah belakang khusus para pelayan.


Dikamar. Erick pelan-pelan mendekat tangannya gemetar saat ingin menyentuh tubuh menawan yang lagi tertidur pulas diatas kasur berukuran king size nan mewah itu.

__ADS_1


"ha, hahaha dia baik-baik saja, bener kan dugaanku" gumamnya sambil berjalan dan hendak menyentuhnya.


Kulit putih nan mulus wajah Karin mulai nyata saat tangan Erick mulai menyentuhnya, tanpa sadar dia meneteskan air matanya dan langsung memeluk Karin begitu saja.


Karin yang awalnya tertidur lelap merasa ada yang menindihnya dan menciumi wajahnya. Berlahan dia membuka mata, dia terkejut saat Erick sang kekasih sudah berada diatas tubuhnya memeluknya begitu erat serta menciumi seluruh wajahnya tanpa sisa dan terakhir ciuman itu mendarat dibibirnya.


Dia membalas pelukan serta ciuman yang diberikan kekasihnya karena sesungguhnya dia juga sangat kangen sama kekasihnya.


"matamu sembab Erchan kau habis menangis" kata Karin setelah menikmati apa yang diberikan kekasihnya.


Erick meraih satu tangan Karin yang melingkar dilehernya dan mencium telapak tangan itu. "ini semua gara-gara kamu bodo cup, kenapa tak mengangkat telfnku bahkan pesanpun tak pernah kamu balas?" katanya.


"kamu mengkawatirkan aku" balas Karin seolah tak percaya.


"apa aku tidak boleh mengkawatirkan kekasihku? Apa aku tidak boleh menangis untuk kekasihku?"


Karin memandang wajah Erick begitu intens dan lekat dia merasa bersalah tidak mengabari kekasihnya lebih dulu dan memilih beristirahat setelah membersihkan diri kemarin.


"maafkan aku Erchan harusnya aku mengabarimu kalo aku selamat sampai tujuan"


"bunda masuk rumah sakit!!" pekiknya. Erick hanya mengangguk mengiyakan.


"Erchan aku mau kesana aku mau melihat bunda anterin aku sekarang" sekarang giliran Karin yang panik dan kawatir atas keselamatan bundanya.


"kita akan pergi berdua tapi izinkan aku istirahat sebentar saja ya, semaleman bergadang karena seisi otakku penuh dengan dirimu"


"begitu, baiklah tidurlah disampingku dan jangan menindihku seperti ini" ketus Karin.


Erick tersenyum. "aku suka posisi seperti ini cup" dia mencium leher Karin membuatnya mendelik seketika.


"Erchan apa yang kau lakukan? Kau bisa kesetanan" balas Karin memegangi bekas ciuman dilehernya.


"ini pembalasan bukannya kau pernah melakukannya waktu itu, kalopun aku kesetanan aku akan bertanggung jawab dengan senang hati karena ini bukan pemaksaan"

__ADS_1


"perkataanmu menyebalkan sekali, cepat pindah kesamping Erchan, tidurlah nanti setelah bangun temani aku kerumah sakit menjenguk bunda"


"ok aku akan tidur tapi sambil peluk kamu dan jangan melepas pelukanku kalo itu terjadi aku akan bangun saat itu juga"


"lebay banget sih kamu Erchan"


"aku gak lebay, aku cuma takut kehilangan kamu saja"


Karin diam sejenak dia senang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kekasihnya, hingga tanpa disadari dia membiarkan mutiara bening melewati pipinya.


"terima kasih Erchan aku sangat senang sekali mendengarnya" kata Karin lalu dia melingkarkan kedua tangannya dileher Erick menempelkan bibirnya dibibir Erick dengan pelan dan memeluk badan kekasihnya.


Erick membalas apa yang diberikan kekasihnya, dia memeluk badan kekasihnya begitu erat sampai setiap inci tubuh karin bisa dia rasakan, kehangatan badan keduanya bahkan detak jantung keduanya bisa terdengar begitu jelas ditelinga masing-masing.


"apa kau tahu sayang betapa senangnya diriku saat mengetahui kamu selamat dan baik-baik saja seperti ini" batin Erick dalam posisi yang sama.


"tahukah kamu sesungguhnya aku sangat takut kehilangan dirimu, entah apa yang akan aku lakukan jika aku kehilangan dirimu!!?" batinnya lagi.


"jangan pergi!! Aku sangat takut kehilangan dirimu" kata Erick.


"iya, terima kasih sudah menepatkan diriku dihidupmu, sekarang tidurlah"


"bukannya yang benar "dihatimu" ya rada aneh kata-katanya" protes Erick dengan cemberut.


"terserah aku mau berkata seperti apa, sekarang cepat pindah dan jangan menindihku terus, GO!!" pekik Karin.


"haiss kemana perginya suasana yang romantius tadi?" gerutu Erick sambil berpindah posisi memeluk Karin dari samping.


"bawel!! romantis terus gak bosen apa" ketus Karin.


"mulutmu sadis ternyata"


"berisik cepat tidur!!"

__ADS_1


******


jangan lupa like dan comen😘😘😍


__ADS_2