
"kenapa? Kenapa gelap sekali? Ini dimana?" Karin mendapati dirinya berada disebuah tempat yang begitu gelap, disetiap jalannya tak ada apapun juga siapapun hanya dirinya seorang.
Dia celingukan berharap ada sesuatu namun tak juga menemukannya, Karin terus melangkahkan kakinya tanpa rasa takut menceri secerca cahaya diujung sana.
Hingga muncul suara-suara yang sudah dia kenal bahkan sangat akrab.
"kenapa litle tak mendapatkan warisan sepeserpun kek?" suara sang kakak menggema ditelinganya. Dirinya ingat waktu itu dia sedang berjalan melewati kamar kakeknya dan tidak tahu sedang ada pembicaraan disana.
"karena dia bukan bagian dari keluarga Nishikawa" suara kakek membalas dengan tegas.
"ya saat itu aku baru tahu kalo aku bukan bagian dari keluarga Nishikawa, harusnya aku sudah tahu dari namaku saja yang sudah sangat jelas.
Gak terasa tubuhku mulai bergetar hebat, kulingkarkan kedua tanganku memeluk badan sendiri, air mata mulai keluar tak bisa terbendung lagi.
Ini kenyataan tapi mungkin aku juga harus bersyukur, mereka semua mau merawatku, membesarkanku, menyekolahkan diriku walau aku bukan bagian dari keluarga itu. Mereka memberi kasih sayang layaknya keluarga tanpa membuangku"
Karin mulai bangkit dia berjalan terus kedepan, terdengar lagi suara-suara yang dia kenal.
"hei ada anak yatim piatu pergi sono gak usah sekolah" suara temannya mulai menggema.
"hei tunggu dulu enaknya diapain ya hahahaha" suara teman lainnya mulai menyahut.
"kita jadi kan badud saja hahaha atau pelayan hahaha" suara-suara itu terus menggema ditelinga Karin, membuatnya merasa miris menutup telingannya rapat-rapat diiringi keringat mulai membasahi badannya.
"bebek.... Johan... Billar..." Karin mulai teriak memanggil nama orang yang dia kenal termasuk kakaknya berharap salah satu diantara mereka menjawab panggilannya.
"Erchan.....!!" teriaknya lagi. namun hasilnya nihil, dia kembali berjalan lagi kedepan.
"jangan sampai tubuhmu disentuh orang aku tidak suka, kalo sampai itu terjadi aku akan menyiksamu sampai kau gak bisa bangkit lagi" suara kakak menggema lagi.
__ADS_1
"waktu itu aku masih SD tidak mengerti ucapan itu, kakak berkata dengan nada datar juga aura yang dingin seakan ucapan itu tidak main-main, awalnya aku tidak mengerti tapi berkat itu aku sudah menjadi orang lain tanpa kusadari.
Kakak, kakek juga nenek mereka bertiga menyayangiku tapi justru penderitaanku terjadi disekolah, ya, disekolah semuanya membully ku hanya karena aku anak yatim piatu. Dimana salahnya kenapa mereka harus melakukan itu padaku apa bagi mereka aku tak berhak bahagia.
Tapi bebekku selalu berada disisiku memberi semangat. Walaupun didunia ini hanya seorang saja yang bisa kujadikan sandaran itu sudah lebih dari cukup, membuatku bertahan untuk hidup"
Karin terus berjalan kedapan, gelap dan juga sunyi yang dirasakan, dalam hati sebenarnya dia takut tapi dia menyakinkan dirinya untuk terus berjalan.
"hari ini kita kedatangan siswi baru, ayo perkenalkan dirimu" suara wali sekolah Karin memperkenalkan murid pindahan baru tahun pelajaran kedua.
"salam kenal namaku Yoko, senang berkenalan dengan kalian semua mohon bantuannya"
"itu suara Yoko, pertama kalinya aku bertemu dengannya hingga tanpa disadari kami bertiga jadi akrab, hari hari bersamanya begitu menyenangkan menghilangkan semua deritaku selama ini"
"hahahaha dasar bodoh kamu Karin, saking bodonya kamu sampai bisa dimanfaatkan" kali ini suara Jun yang menggema.
"kamu lebih cocok berada dipanti" suara temannya.
"disini bukan tempatmu" suara yang lain.
"kau itu hanya dijadikan kelinci percobaan, tidak ada yang bener-bener mau sama kamu" kali ini suara Rain yang terdengar.
Karin memeluk kedua kakinya, keringat mulai bercucuran lagi dari badannya, dia menangis menutup kedua telinganya begitu rapat berharap suara itu tidak terdengar lagi.
Badannya begitu gemetar rasa putus asa dan ketakutan kini mendera, dirinya membutuhkan seseorang tapi siapa? Dia sendirian ditempat yang begitu gelap dan hampa.
"kalo mereka semua tahu kamu sudah lemah begini mereka semua pasti akan mengejekmu lilte" kali ini suara kakaknya lagi
"bebek, bebek" teriak Karin berkali-kali.
__ADS_1
"bebek kamu dimana? hiks hiks" ucapnya sambil menyeka air matanya dengan lengan.
"cepatlah bangun aku menggumu" suara Erick kini terdengar, membuat Karin mengangkat wajahnya.
"Erchan...!" ucapnya sambil membuka matanya berlahan, tapi begitu berat hingga membuatnya menutup kembali mata itu.
"kenapa kau menyuruhku bangun? Memang aku kenapa? Ini dimana? Tempat apa ini sebenarnya?"
Lama dia termenung dengan berbagai pertanyaan, dia terus berjalan sambil menangis berharap diujung sana ada setitik cahaya.
Tiba-tiba Karin masuk kedalam air yang tak berdasar, lelah juga sesak dia rasakan tak bisa berteriak lagi, tenggorokannya seolah tercekik, air mata terus mengalir.
"tak akan ada yang menolongku, tak akan ada yang menggenggam tanganku, menginginkan dirikupun juga tak ada untuk apa lagi aku berharap"
"kau harus kuat! Kau harus tetap hidup? Ingat MIG butuh kamu" suara Yoko kembali terdengar.
"Yoko itu kamu! Aku akan segera menyusulmu Yoko, tak peduli kamu menjadikan aku sebagai kelinci percobaan, aku sudah lelah dengan semuanya aku capek segalanya mungkin ini sudah waktunya aku tidur lelap dengam mimpi indahku sendiri, selamanya!!"
Sebuah tangan langsung meraih tangannya. "Chibi!!" ucapnya membuat Karin langsung membuka matanya saat itu juga.
Dirasakan tangannya digenggam erat oleh seorang pria yang sangat dia kenal, bahkan orang itu membuatnya tertarik sampai saat ini dia adalah Erick Adiputra sekretaris tuan Evan.
Erick begitu senang sampai gak terasa buliran cristal bening melewati pipinya. Begitu pula dengan semua orang yang ada disana, kecuali sang kakak yang melihatnya didepan monitor dikamarnya.
Karin berlahan mendudukan dirinya bersandar kebelakang.
"aku kenapa?" ucapnya lirih
"PLAK!!!"
__ADS_1
*****