
Karin membuka matanya dia melihat langit-langit kamar yang familiar baginya lalu melihat sekelilingnya, dia teringat dirinya pernah tidur bersama Erick dikamar itu waktu baru datang diJakarta pertama kalinya.
Karin bangkit dari tidurnya kepalanya masih pusing akibat pengaruh obat bius yang dia hirup waktu didalam taksi.
"Erchan" katanya lirih menahan pusing kepala. Pelan-pelan dia berjalan menuju pintu kamar hendak menuju kamar Erick.
Felix yang tahu Karin berjalan pelan memegangi kepalanya langsung berjalan menghampiri dan membantunya. "kenapa gak manggil seseorang jika mau keluar" katanya.
"dimana dia? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin melihatnya?" balas Karin melontarkan banyak pertanyaan.
"begitu sadar dia langsung menanyakan Erick, segitu besarkah cintanya sama Erick tanpa mempedulikan dirinya sendiri" batin Felix.
"dia tidur dikamarnya"
"antarkan aku kesana aku ingin melihatnya"
"baiklah"
Felix membantu Karin berjalan menuju kamar Erick, begitu tiba disana mereka berdua dikejutkan oleh pemandangan Fani yang tertidur didekat Erick diatas selimut.
Karin yang terkejut hanya bermuka masam dan memalingkan wajahnya lalu berbalik badan hendak kekamarnya lagi.
"aku bisa sendiri" kata Karin menolak bantuan Felix.
"izin keapartemen baby gak apakan aku tinggal sebentar lagi dia datang" kata Felix menghentikan langkah Karin.
"ya" jawabnya pendek lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamar dan segera membaringkan badannya begitu sampai.
Felix yang sudah mendapat izin berjalan menuju kamar Erick dia menggendong Fani begitu saja keluar kamar menuju apartemen yang disewanya sendiri.
Tiba diapartemen dia tidak membaringkan Fani dikasur melainkan dibathup menguyur badan Fani begitu saja dengan air sower diatasnya.
Sontak saja Fani terbangun begitu saja karena wajahnya yang terkena air.
"hujan hujan" teriaknya berdiri seketika dan terkejut mendapati Felix didepannya.
"lho, kamu, kenapa? ko aku bisa disini ini dimana?" Fani bicara sambil melihat sekeliling, dia heran mendapati dirinya berada dikamar mandi dalam keadaan basah kuyup apalagi melihat Felix yang marah didepannya.
__ADS_1
"renungkan kesalahanmu" kata Felix datar meninggalkan Fani begitu saja dikamar mandi.
Fani berlari menuju pintu tapi Felix menguncinya dari luar.
"tunggu, buka pintunya kenapa kau mengunci pintunya" teriak Fani tapi Felix tak mempedulikannya.
"buka pintunya, kau tak punya hak melakukan ini padaku memangnya siapa kau buka pintunya heei" Fani terus berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi hingga dia lelah sendiri.
Fani meringkuk memeluk kedua kakinya badannya mulai kedinginan. Dia memaki Felix sambil memukul pintu.
"dasar kau bajingan, apa Kesalahanku?" Fani menangis karena tidak tahan badannya yang kedinginan.
Felix yang keluar menemui anak buahnya supaya tidak lengah mengawasi Erick kembali keapartemenya, begitu membuka pintu kamar mandi terlihat Fani meringkuk seperti bayi didepan pintu dalam keadaan tertidur.
Felix yang hatinya masih kesal mengambil gayung berisi air lalu disiramkan air itu kewajah Fani.
Akibat siraman dari Felix tentu saja Fani membuka matanya mengibaskan kepalanya melihat siapa yang menyiram dirinya dengan air.
"dasar kau bajingan, kau tak punya hak melakukan ini padaku" teriak Fani hendak menampar Felix.
Plak
Fani berjalan mendekati Felix. "aku sangat membencimu bajingan" ucapnya penuh penekanan lalu berjalan menjauh menuju kamar yang dia tepati.
"aku akan ingat kata-kata itu" kata Felix lirih dia tak melepaskan pandangannya dari Fani yang terus berjalan masuk kamar.
Felix sianti wanita begitu teman satu timnya menyebut dirinya, dia bukan hanya tak mau didekati wanita tapi memang dia tak suka didekati wanita, apalagi saat melihat mereka para wanita yang sedang merayu demi mendapatkan sesuatu tangannya mengepal erat ingin sekali menyiksanya.
Dia yang punya pengalaman pahit terhadap seorang wanita sudah menutup hatinya rapat-rapat, hingga sampai saat ini tak ada satu wanitapun yang membuatnya tertarik atau menghancurkan dinding besar dihatinya.
Dia yang pernah dimanfaatkan seorang wanita sejak saat itu sifat, sikap, juga lidahnya akan sangat kasar terhadap yang namanya wanita, dia tak akan segan mengasari mereka jika ada yang berani mendekat.
Diapartemen, Erick yang sadar dari pingsannya berjalan keluar pandangannya mengintari seisi ruangan seolah "bertanya kenapa aku bisa ada disini?" batinnya. Setelah itu membuka pintu kamar tamu dia menghela nafas lega juga tersenyum kecil melihat Karin kekasihnya tidur nyenyak didalam kamar itu.
Dia melangkah masuk lalu duduk ditepi ranjang menghadap Karin, tangannya bergerak sendiri membelai wajah Karin tanpa seizin sang tuan dia mendaratkan kecupan manis dikening Karin.
"syukurlah kau tidak kenapa-napa Bi" katanya lirih membaringkan tubuhnya didekat Karin memeluk badannya dan kembali tertidur.
__ADS_1
Karin yang merasa ada sesuatu menindih perutnya juga hembusan nafas yang berhembus ditengkuk lehernya berlahan membuka mata, dia melihat tangan yang melingkar diperut lalu melihat kebelakang.
"sejak kapan dia pindah tidur disini?" gumamnya dalam hati saat melihat Erick tidur memeluk dirinya dengan tenang.
Dia mengangkat tangan Erick hendak bangun karena panggilan alam.
"mau kemana?" Karin terkejut saat mendengar suara Erick yang ternyata tidak tidur.
"apa aku harus menjawabnya" balas Karin tak suka.
"gak pake lama" Erick enggan melepas pelukannya dia suka keadaannya saat ini bisa tidur bareng bersama orang yang dia sukai.
"kau pura-pura tidur"
"aku tidak pura-pura tapi memang sudah bangun"
"begitu, aku mau pulang sekarang ada hal yang menunggu dirumah" Karin bangkit dari tidurnya dan berjalan kekamar mandi.
"bisakah ditunda urusanmu aku masih belum puas memelukmu"
"ini penting dan tak bisa ditunda kamu tahu sendiri posisiku kan"
"apa kamu tidak bisa melepas posisimu Bi aku berharap nanti kita bisa hidup normal tanpa harus berurusan dengan yang namanya perkelahian"
Karin menghentikan gerakan tangannya membuka pintu kamar mandi pandangan matanya sedikit menunduk.
"akan aku pikirkan" kata Karin lalu masuk kekamar mandi memenuhi panggilan alam sekaligus membersihkan diri.
"ku harap kamu mengerti maksudku" batin Erick tertunduk sedih.
Dibawah sower derasnya air mengalir Karin termenung mengingat kembali perkataan yang keluar dari mulut kekasihnya.
"hidup normal ya!! Apa kau tahu Erchan sebenarnya aku juga menginginkan hidup seperti itu, setiap hari aku harus waspada terhadap mereka yang menginginkan yawaku ini" kata Karin lirih. Sorot matanya memancarkan kesedihan sekaligus ketakutan, ketakutan akan malaikat maut yang datang setiap waktu dengan mereka para musuhnya yang menjadi perantara. Ketakutan akan kehilangan mereka yang begitu berharga bagaikan harta Karun lebih dari apapun apalagi itu menyangkut orang yang begitu penting bagi dirinya.
Antara dia atau mereka yang pergi keduanya tak bisa dipilih juga tak bisa dihindari kita hanya bisa menunggu akan hari itu tiba.
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah like, komen dan votenya dukungan kalian sangat berarti bagi author 🤗🥰😘